Minggu, 31 Mei 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Amerika akan Kirim Bom Cluster untuk Ukraina, Apa Itu dan Mengapa Begitu Kontroversial?

Joe Biden berencana mengirim bom cluster yang dilarang di lebih dari 120 negara ke Ukraina. Ini bahayanya bom tersebut.

Tayang:
Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Arif Fajar Nasucha
MAHMUD SALEH / AFP
Seorang anggota pasukan Irak berdiri di samping mortar di luar rumah sakit Al-Salam di lingkungan al-Wihdah setelah merebut kembali daerah itu dari kelompok jihadis Negara Islam (IS) pada 9 Januari 2017. 

TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat diperkirakan akan mengumumkan pengiriman cluster bomb atau bom klaster (bom tandan) ke Ukraina untuk membantu melawan Rusia di garis depan peperangan.

Dilansir Independent, pengiriman ribuan bom cluster tersebut merupakan bagian dari paket bantuan militer baru senilai $800 juta.

Langkah tersebut kemungkinan akan memicu kemarahan dari beberapa sekutu dan kelompok kemanusiaan yang telah lama menentang penggunaan bom tersebut.

Berikut pengertian cluster bom, di mana saja telah digunakan dan mengapa AS berencana untuk memberikannya ke Ukraina.

Apa itu cluster bomb?

Cluster munition, atau disebut juga cluster bomb, atau bom klaster atau bom tandan di Indonesia, adalah jenis bom yang meledak di udara dan melepaskan "bomblet," bom-bom yang lebih kecil di area yang luas.

Baca juga: Rencanakan Kudeta Berdarah, AS Pimpin NATO Gunakan Ukraina sebagai Boneka Lawan Rusia

Bom tersebut dirancang untuk menghancurkan tank dan peralatan, serta pasukan, yang mengenai banyak sasaran pada saat yang bersamaan.

Bom ini diluncurkan dengan senjata artileri yang sama yang telah disediakan sekutu Barat ke Ukraina untuk perang, seperti howitzer.

Mengapa bom klaster kontroversial?

Dalam konflik-konflik sebelumnya, bom klaster memiliki tingkat "kesia-siaan" yang tinggi, yang berarti bahwa ribuan bom kecil yang tidak meledak akan menjadi ranjau, tertinggal di tanah dan membunuh serta melukai orang beberapa dekade kemudian.

AS terakhir menggunakan bom tandannya dalam pertempuran di Irak pada tahun 2003, dan memutuskan untuk tidak terus menggunakannya karena konflik bergeser ke lingkungan perkotaan dengan populasi sipil yang lebih padat.

Pada hari Kamis, sekretaris pers Pentagon, Brigadir Jenderal Pat Ryder mengatakan Departemen Pertahanan AS memiliki "beberapa varian" bom tersebut.

"Jenis itu kami pertimbangkan untuk disediakan, dengan tidak akan menyertakan varian yang lebih tua dengan tingkat tidak-meledak yang lebih tinggi dari 2,35 persen."

Lebih dari 120 negara telah menyetujui konvensi pelarangan bom tandan tersebut, termasuk untuk tidak menggunakan, memproduksi, mentransfer atau menimbun senjata tersebut.

AS, Rusia, dan Ukraina tidak menandatangani konvensi tersebut.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved