Rabu, 8 April 2026

Gempa Maroko: Kisah guru yang kehilangan seluruh 32 muridnya

Ketika Nesreen Abu ElFadel merasakan guncangan gempa terbesar yang pernah terjadi di Maroko pada Jumat (08/09) lalu, dia langsung…

BBC Indonesia
Gempa Maroko: Kisah guru yang kehilangan seluruh 32 muridnya 

Ketika Nesreen Abu ElFadel merasakan guncangan gempa terbesar yang pernah terjadi di Maroko pada Jumat (08/09) lalu, dia langsung teringat pada murid-muridnya dari sekolah terpencil tempat dia mengajar. Kecemasannya terbukti menjadi kenyataan.

"Saya membayangkan memegang lembar absen kelas dan mencoret nama siswa satu demi satu, hingga saya mencoret 32 nama; kini semuanya sudah meninggal dunia."

Nesreen Abu ElFadel, seorang guru bahasa Arab dan Prancis di Marrakesh, menceritakan hari ketika gempa berkekuatan 6,8 melanda Maroko.

Nesreen dan ibunya sedang bermalam di jalan demi keamanan karena guncangan gempa bumi begitu dahsyat. Saat itu, dia mendengar berita bahwa gempa tersebut juga berdampak terhadap desa-desa di pegunungan.

Dia langsung teringat tempatnya mengajar, yaitu Sekolah Adaseel, serta murid-muridnya atau yang dia sebut "anak-anak saya".

Dengan langkah cepat, dia bergegas menuju Desa Adaseel di Pegunungan Atlas Tinggi.

"Saya pergi ke desa dan mulai bertanya tentang anak-anak saya: di mana Somaya? Di mana Youssef? Di mana gadis ini? Di mana anak laki-laki itu? Jawabannya muncul beberapa jam kemudian: 'Mereka semua meninggal.'"

Pada 8 September, Maroko dilanda gempa bumi terkuat yang pernah tercatat di negara tersebut. Gempa itu terbukti sebagai gempa paling mematikan dalam enam dekade dengan sekitar 3.000 orang meninggal dunia dan ribuan lainnya hilang.

Daerah yang paling terkena dampaknya adalah daerah selatan Marrakesh. Banyak desa di pegunungan hancur total.

Nesreen menyaksikan salah satu muridnya yang bernama Khadijah dalam keadaan tidak bernyawa.

Tim penyelamat menemukan bocah berusia enam tahun itu terbaring di samping abangnya, Mohamed, dan dua kakak perempuannya, Mena dan Hanan. Mereka semua berada di ranjang mereka saat gempa berlangsung. Keempat anak tersebut merupakan murid di sekolah Nesreen.

"Khadijah adalah favorit saya. Dia sangat baik, pintar, aktif dan suka menyanyi. Dia sering datang ke rumah saya, dan saya suka belajar dan berbicara dengannya".

Nesreen menyebut murid-muridnya sebagai "malaikat", anak-anak penuh hormat yang bersemangat untuk belajar. Meski berjuang melawan kemiskinan dan krisis biaya hidup yang parah, anak-anak dan keluarga mereka menganggap bersekolah sebagai "hal terpenting di dunia".

"Kelas terakhir kami diadakan pada Jumat malam, tepat lima jam sebelum gempa terjadi," kenang Nesreen.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved