Akankah Jerman Berinvestasi dalam Proyek 'Jembatan Darat' Thailand?
Proyek 'jembatan darat' menggabungkan pembangunan sistem kereta api dan jalan raya yang menghubungkan pantai timur dan barat Thailand…
Perdana Menteri Thailand Srettha Thavisin telah bertemu dengan sejumlah duta besar sejak ia mulai menjabat pada bulan Agustus lalu. Semua pertemuan itu bertujuan untuk menjual gagasan "jembatan darat” yang akan menghubungkan pantai timur dan barat Thailand.
Proyek ini dirancang untuk menyediakan jalur perdagangan baru antara Samudra Hindia dan Pasifik, melewati Selat Malaka, salah satu jalur laut paling penting dan paling padat di dunia. Rencananya, gagasan ini mencakup pembangunan sistem rel dan jalan raya sepanjang sekitar 90 kilometer yang akan menghubungkan pelabuhan laut dalam di Provinsi Chumphon di Teluk Thailand ke pelabuhan laut dalam yang baru di Provinsi Ranong, Laut Andaman.
Srettha, yang juga pernah menjabat sebagai menteri keuangan, menyampaikan visi besar tersebut kepada para investor Cina ketika ia menghadiri Forum Belt and Road pada pertengahan Oktober lalu sebelum mengajukan megaproyek senilai €25,5 miliar kepada investor Timur Tengah beberapa minggu kemudian.
Ia juga membawa gagasan tersebut ke San Francisco pada 12 November lalu ketika menghadiri KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik dan berkesempatan berbicara dengan para pebisnis Amerika dalam acara "Thailand Land Bridge Roadshow".
Pemerintah Thailand terbuka bagi siapa saja yang ingin berinvestasi, sebuah harapan yang analis sebut sebagai "impian”, yang telah dibayangkan oleh para pemimpin Thailand sejak abad ke-17.
Melobi megaproyek?
Ernst Wolfgang Reichel, Duta Besar Jerman untuk Thailand, rupanya mengatakan kepada pejabat pemerintah Thailand awal bulan ini bahwa ia akan melobi perusahaan-perusahaan Jerman untuk berinvestasi dalam proyek tersebut.
"Pihak Jerman jelas tertarik dengan proyek jembatan darat. Dan (duta besar) akan melaporkan kembali kepada pemerintah Jerman tentang proyek itu, yang menurutnya akan menarik banyak investor,” kata Menteri Transportasi Thailand Suriya Jungrungreangkit, menurut media lokal.
Duta Besar Reichel dilaporkan juga meminta pemerintah Thailand untuk mengadakan Thailand Land Bridge Roadshow ke Jerman tahun depan.
Apakah perusahaan-perusahaan Jerman, seperti Siemens, yang telah membantu membangun sebagian sistem kereta api Bangkok, akan tertarik untuk berinvestasi dalam skema tersebut? Masih harus dilihat.
Sebagian besar analis memperkirakan pendanaan akan datang dari Cina, investor terbesar dalam proyek infrastruktur di Asia Tenggara. Namun, pemerintahan baru Thailand mengatakan pihaknya ingin mendiversifikasi hubungan investasinya. Para analis menyebut Bangkok ingin menyeimbangkan perekonomian negaranya antara Cina dan Barat.
Jika pendanaan tersedia dan konstruksi dimulai tepat waktu, proyek ini akan selesai sekitar tahun 2040, dan pada saat itu kedua pelabuhan akan memiliki kapasitas untuk menangani sekitar 20 juta kontainer kargo setiap tahunnya, menurut Kantor Kebijakan dan Perencanaan Transportasi dan Lalu Lintas Thailand yang mengelola proyek tersebut.
Mulai dari kanal hingga jembatan darat
Ide ini dimulai pada abad ke-17, ketika Kerajaan Ayutthaya menjadi pusat perdagangan yang makmur dan para modernis meramalkan bahwa sebuah kanal besar, yang dijuluki "Kanal Kra", akan menghubungkan pantai timur dan barat serta meningkatkan perdagangan.
Ide kanal dibangkitkan kembali beberapa kali selama abad ke-19 dan ke-20, meskipun skala dan biaya proyeknya terlalu besar.
Pada abad ke-21, pemerintah Thailand lebih condong ke arah alternatif 'jembatan darat' yang lebih murah dan berkelanjutan, yang menghubungkan kedua pantai melalui jalur kereta api dan jalan raya, bukan melalui kanal.
Proyek ini akan digabungkan dengan skema Koridor Ekonomi Timur Thailand yang luas, yang bertujuan untuk mengubah tiga provinsi di wilayah timur menjadi pusat manufaktur, penelitian, dan jasa. Jalur ini juga akan terhubung dengan jalur kereta api berkecepatan tinggi baru Cina-Laos-Thailand, serta jalur kereta api yang sedang dibangun Cina di negara tetangga, Kamboja.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/bdeutsche-welle67510546_403.jpg.jpg)