Saat Oma Menolak Jadi Lansia yang “Hanya Diam di Rumah”
Lansia berusia 70-80 tahun jadi daya tarik restauran ini. Bukan eksploitasi lansia, Uma Oma justru beri kesempatan bekerja bagi oma…
Dia membonceng sepeda motor ke rumah di area Kebayoran menuju Blok M.
"Sebelum di sini, saya kerja di restoran di Blok M, jadi tukang masak. Lalu restorannya kebakaran jadi tida kerja lagi."
"Lalu saya juga jualan peyek. Pernah itu ya saya dapat pesanan peyek banyak sekali karena saya punya langganan itu punya restoran soto yang banyak cabangnya. Jadi saya bawa sendiri semua peyeknya 4 kardus besar itu saya tumpuk dan saya naik metro mini," kisahnya sambil perlahan-lahan ingatannya mulai kembali bahwa pekerjaannya itu dilakukan di era 1980-an.
Niatnya untuk tetap bekerja pun tidak pernah pupus, dia pun mendaftar ke sebuah yayasan yang menyalurkan pekerja lansia. Diakui, tidak mudah baginya mencari tempat kerja baru di usianya kini.
Kehadiran Uma Oma membuat harapan baru baginya untuk bisa tetap bekerja.
Pemberdayaan lansia
Saat bekerja, Wasinah tidak ngoyo atau memaksakan diri. Tugas Wasinah dan rekan kerjanya siang itu, Rustianah, adalah menyambut tamu dan mengarahkan mereka ke area pemesanan.
Rustinah yang siang itu bertugas di balik pintu masuk dengan cekatan membantu membuka pintu. "Wah kalau jam segini ramai, ramai yang cari oma. Oma mana, Oma mana? Ya, kan kami ikonnya," kata Rustinah.
Ucapan Rustianah dibenarkan oleh Dini Nurhaliza, Supervisor Uma Oma. Dia menyebut bahwa para oma ini yang jadi daya tarik kafe.
"Banyak yang ajak foto bareng, cariin oma. Kadang mereka suka sedih kalau kami bilang, oma lagi istirahat," kata Dini Nurhaliza kepada DW Indonesia.
Dini mengungkapkan bahwa saat ini mereka bekerja sama dengan empat orang perempuan lanjut usia. Para oma yang berusia rata-rata 70-80 tahun ini punya jadwal kerja di pagi dan siang hari.
Utamakan lansia di sekitar kafe
Mempekerjakan para lansia memang bukan hal yang umum dilakukan. Namun Uma Oma tampaknya punya pola pikir berbeda. Dini menyebut, Junaedi Salat, sang pemilik justru ingin memberdayakan lansia.
"Kafe ini tercipta dari kenangan dan kerinduan akan kehangatan seorang nenek. Dari situ terinspirasi untuk memberdayakan para oma," katanya.
Dini bahkan mengungkapkan kalau kehadiran oma di kafe ini disambut baik oleh pelanggan. Sampai saat ini tak ada komentar miring terkait anggapan eksploitasi pekerja lanjut usia.
"Tidak ada sih, sampai saat ini semuanya justru antusias. Pelanggan senang dan komentarnya positif dan sering memberi semangat buat oma supaya tetap sehat. Kami juga senang ada oma di sini, jadi berasa punya oma benaran."
Para oma pekerja ini digandeng Uma Oma melalui sebuah yayasan. Dini mengatakan, para oma yang dipilih tinggal tidak begitu jauh dari lokasi kafe, dan mau bekerja karena keinginan sendiri. "Kami juga minta izin ke keluarganya apakah oma boleh kerja atau tidak."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/bdeutsche-welle67565378_403.jpg.jpg)