Mengingat Kembali Tradisi Smong yang Selamatkan Warga Simeulue dari Tsunami
Smong, warisan budaya yang diceritakan turun-temurun menyelamatkan masyarakat Simeulue dari gempa dan tsunami 2004. Tidak selalu harus…
"Karena pengalaman smong 2004, pada malam gempa Nias itu, akhirnya saya membawa lari 2 adik dan 4 sepupu ke atas bukit, kami lari dalam kegelapan dan akhirnya berkumupul dengan warga lain, gempa itu sangat kuat walaupun tidak ada smong," kata Indra Wijaya kepada DW Indonesia.
Mitigasi bencana tidak selalu harus andalkan teknologi modern
Smong berasal dari bahasa Suku Devayan yang mendiami Pulau Simeulue. Kisah ini dulunya diceritakan secara bernafi-nafi (bertutur), dan berhasil menyelamatkan 71.453 warga Simeulue pada tahun 2004.
Budayawan dari Kabupaten Simeulue, Muhammad Riswan Roesli, mengatakan bahwa memori kolektif yang dimiliki oleh masyarakat Simeulue berhasil menyalamatkan mereka dari musibah yang terjadi pada saat itu.
"Masyarakat Simeulue terajar untuk tetap waspada. Kita lihat peristiwa tsunami 2004 dan gempa Nias tahun 2005, waktu itu penduduk seperti ada komando tanpa perintah. Asal gempanya kuat, kemudian air laut surut, orang langsung lari keketinggian sambil berteriak smong, smong, smong," kata Muhammad Risawan Bintara.
Ia menjelaskan, kisah smong awalnya terbentuk setelah tsunami menggempur Simeulue pada 1907. Kisah ini kemudian jadi cerita pengantar tidur yang dituturkan oleh ibu kepada anaknya, atau ayah kepada anak ketika sedang berada di ruang keluarga.
"Media cerita itu disebut dengan nafi-nafi, dari sinilah berlanjut dan menyelamatkan masyarakat dari tsunami tahun 2004 dan sampai generasi sekarang kisahnya," jelas Riswan.
Mitigasi yang lestari lewat tradisi bercerita
Pengetahuan dari warisan budaya yang telah berumur 116 tahun menunjukan bagaimana warga Simeulue berhasil beradaptasi serta selamat dari bencana gempa dan tsunami tahun 2004. Jumlah korban jiwa di Simeulue waktu itu sekitar 3 sampai 5 orang, sementara di keseluruhan Provinsi Aceh mencapai sekitar 230.000 jiwa.
Alfi Rahman, peneliti Smong dari Tsunami Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala, Aceh, mengatakan tidak selalu harus mengandalkan teknologi modern. Menurutnya, masyarakat tradisional sudah memiliki cara tersendiri dalam beradaptasi dengan perubahan alam, seperti gempa bumi dan tsunami.
"Tsunami tahun 1907 telah mengajarkan masyarakat Simeulue, di mana waktu itu hampir 50% penduduk Simeulue hilang atau meninggal. Bentuk dari kesedihan itu kemudian diceritakan kembali, karena mereka yakin akan berulang," kata Alfi Rahman kepada DW Indonesia.
Berdasarkan penelitiannya, setelah tsunami 2004, pengetahuan terkait smong semakin berkembang. Tidak hanya melalui penuturan, tapi juga melalui nandong (lagu) dan lainnya, yang dikembangkan oleh beberapa tokoh asal Simeulue.
Menurut Alfi Rahman, apa yang telah dilakukan oleh masyarakat Simeulue, kemudian mendapatkan pengakuan. Seperti pada tahun 2018, kata smong masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dengan ejaan semong yang berarti tsunami. Kemudian tahun 2021, istilah smong mendapatkan penghargaan Sasakawa Award for Disaster Reduction dari United Nations untuk masyarakat Simeulue.
"Dalam penelitian, saya menemui nenek Rukaiah, yang kemudian memberikan nama cucunya dengan nama Putra Smong, karena lahir pada 26 Desember 2004. Ini menunjukan bagaimana masyarakat menghargai dan melestarikan budayanya," jelas Alfi Rahman. (ae)
Jangan lewatkan konten-konten eksklusif berbahasa Indonesia dari DW. Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/bdeutsche-welle67800622_403.jpg.jpg)