Rabu, 8 April 2026
Deutsche Welle

Mengingat Kembali Tradisi Smong yang Selamatkan Warga Simeulue dari Tsunami

Smong, warisan budaya yang diceritakan turun-temurun menyelamatkan masyarakat Simeulue dari gempa dan tsunami 2004. Tidak selalu harus…

Deutsche Welle
Mengingat Kembali Tradisi Smong yang Selamatkan Warga Simeulue dari Tsunami 

Seorang perempuan mengenakan kerundung coklat dan kemeja kotak-kotak tengah berjalan di lorong Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh. Sesampainya di kelas, dia berulang kali bertanya kepada para murid: "Apa kalian tahu smong?" Ia merujuk kepada tragedi yang pernah menimpa nenek moyang Simeulue.

"Smong itu adalah bahasa nenek moyang kita yang kini memiliki arti tsunami," kata Ibu Shella, 23, begitu siswa-siswi menyapanya.

Pemilik nama lengkap Putri Norizan Shella Nathasya ini adalah salah satu dari puluhan ribu warga Kabupaten Simeulue yang selamat dari gempa dan tsunami tahun 2004, karena pengetahuan warisan smong yang diwariskan turun-temurun.

Sudah 19 tahun berlalu sejak gempa bumi berkekuatan 9,3 Skala Richter (SR) dan tsunami yang meluluhlantakkan hampir seluruh wilayah di Provinsi Aceh. Hingga kini, ingatan dan kesedihan masih membekas jelas bagi korban dan keluarga yang ditinggalkan.

Apa yang diingat Shella saat tsunami?

Meski saat itu baru berusia 4 tahun, Shella masih ingat betul apa yang terjadi pada Minggu pagi, 26 Desember 2004.

"Hari itu sekitar pukul 08.00 WIB, saya masih tidur dan dibangunkan seketika oleh kakek. Dengan tergesa-gesa kakek yang memakai kaos merah langsung menggendong saya dan membawa lari. Beliau terus-terusan berteriak smong," tutur Shella kepada DW Indonesia.

Rumahnya yang saat itu berkonstruksi setengah permanen berada tepat di bibir pantai. Digendong sang kakek, mereka terus berlari sekitar beberapa kilometer menuju perbukitan.

"Bukit yang ada pondok atap merah itu, adalah tempat kami evakuasi, di situ kami tinggal sekitar 2 minggu dengan tenda dari terpal coklat," jelas Shella, menunjuk lokasi evakuasi yang kini berada di belakang gedung sekolah tempat dia mengajar.

Kisah smong dan penyelamatan warga Simeulue

"Kalau dulu saya tahu smong karena cerita dari nenek dan kakek, tapi dari SMP dan SMA, smong sudah mulai digarap dalam bentuk tarian, bahkan sekarang sudah ada nyanyiannya," kata Ibu Guru Shella.

Menurut Shella, sangat penting bagi anak-anak dan peserta didik untuk terus diajarkan prosedur penyelamatan diri. Apalagi saat ini tersedia berbagai media untuk mengingatkan masyarakat mengenai smong.

Hal senada juga dirasakan oleh warga Simeulue lainnya yakni Indra Wijaya, 26. Dia yang saat itu sedang berada di bibir pantai melihat langsung kejadian itu. Laut yang biasanya berombak, seketika surut dengan ikan-ikan bergelimpangan begitu saja di dasar laut yang terbuka.

"Rumah kami itu cuma 200 meter dari laut. Karena gempa yang merusak dinding rumah, jadi saya lari ke arah pantai dari puing-puing rumah. Nah, air laut hilang begitu saja. Ikan tergeletak dan tidak ada yang mengambil," kisah Indra yang waktu itu sudah kelas 2 Sekolah Dasar.

Karena kejadian itu, Indra mengatakan bahwa ibunya dari kejauhan berulang kali berteriak smong dan melambaikan tangan, sebagai isyarat untuk lari ke arah perbukitan.

"Ibu terus-terusan teriak smong sambil mengayunkan tangan, jadi dengan terburu-buru saya dengan adik kemudian naik ke atas bukit, rupanya di sana sudah banyak warga yang berlindung," kata Indra.

Dari pengalaman itu, Indra, kemudian melakukan prosedur evakuasi secara mandiri sambil membawa lari 2 adik dan 4 orang sepupunya, ketika gempa Nias yang terjadi pada 28 Maret 2005.

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved