Cerita pekerja Gen Z dipecat karena gunakan bahasa kasual di kantor, mengapa tidak semua perusahaan bisa menoleransi?
Demi menjadi dirinya sendiri, banyak pekerja muda berkomunikasi dengan bahasa kasual. Sayangnya, gaya komunikasi ini tidak cocok untuk…
Ketika karyawan baru memasuki dunia kerja, mereka menghadapi tantangan untuk mendefinisikan identitas profesional mereka. Mencari tahu bagaimana mereka semestinya bersikap, baik melalui gaya bicara dan perilaku mereka secara keseluruhan, adalah bagian dari proses.
Dalam beberapa tahun terakhir, proses itu biasanya tidak terlalu sulit. Tempat-tempat kerja secara tradisional menuntut suatu bentuk formalitas di mana karyawan diharapkan mematuhi norma-norma yang ditetapkan oleh para pemimpin yang lebih tua.
Namun cara-cara lama yang membentuk budaya kerja homogen itu tidak cocok untuk generasi pekerja baru yang individual.
Meningkatnya praktik kerja jarak jauh pascapandemi serta buramnya batasan antara kehidupan profesional dan pribadi telah berkontribusi pada peralihan menuju lingkungan kerja yang tidak terlalu formal.
“Dengan munculnya teknologi baru dan pergeseran nilai-nilai, generasi muda semakin menginginkan identitas profesional dan pribadi mereka menjadi satu dan sama,” kata Christopher G Myers, profesor di Johns Hopkins Carey Business School, AS sekaligus pakar Akademi Manajemen.
"Mereka tidak ingin memiliki gaya bicara dan kepribadian palsu. Mereka ingin tampil natural – mereka ingin menjadi diri mereka sendiri."
Bagi sebagian generasi Z, gagasan bahwa mereka harus mematuhi standar orang lain tampak dibuat-buat dan bertentangan dengan ekspresi diri mereka, kata Michelle Ehrenreich, yang memimpin program komunikasi di Questrom School of Business di Boston University, AS.
“Generasi mereka telah diberitahu, 'Jadilah dirimu sendiri! Kamu adalah kamu, dan kamu luar biasa!' Namun muncul ketegangan ketika mereka mulai bekerja di lingkup korporat,” kata Ehrenreich.
Menerapkan perilaku itu berarti melenceng dari kultur yang telah dibangun di tempat-tempat kerja selama beberapa dekade. Dan itu bukanlah sesuatu yang dicari oleh sebagian besar pengusaha.
Menurut Ehrenreich, sebagian besar perusahaan tidak menginginkan pekerja bersikap apa adanya. Sebaliknya, karyawan diharapkan untuk berbicara dan berperilaku sesuai dengan budaya organisasi.
Ini menjadi tantangan sulit bagi Gen Z karena banyak dari mereka kamus profesional seperti generasi sebelumnya.
Caroline Goyder, konsultan komunikasi berbasis di London mengatakan bahwa kehadiran media sosial membuat banyak Gen Z minim terpapar bahasa formal.
Alih-alih menonton atau mendengar saluran berita dengan gaya yang lebih formal, mereka lebih banyak mendengar para pemengaruh di media sosial.
Di AS misalnya, data dari Pew Research Center yang dirilis pada akhir 2023 menunjukkan bahwa sepertiga orang dewasa berusia di bawah 30 tahun rutin mengonsumsi berita dari TikTok.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.