Cerita pekerja Gen Z dipecat karena gunakan bahasa kasual di kantor, mengapa tidak semua perusahaan bisa menoleransi?
Demi menjadi dirinya sendiri, banyak pekerja muda berkomunikasi dengan bahasa kasual. Sayangnya, gaya komunikasi ini tidak cocok untuk…
Untuk jangka panjang, ketika generasi Baby Boomer dan Gen X secara bertahap menyerahkan kendali kepemimpinan mereka kepada generasi muda, gaya bahasa kasual mungkin akan diterapkan di tempat kerja.
“Mungkin ketika generasi tua lengser, segalanya akan berubah,” kata Ehrenreich.
“Tetapi saat ini, orang-orang yang berkuasa masih berharap dapat menerapkannya.”
Adapun Anna akhirnya mendapatkan pekerjaan di televisi, yang menurutnya lebih sesuai dengan kepribadian dan keterampilannya.
Ketika dia mengingat kembali masa tugasnya yang singkat di lembaga pengelolaan dana itu, perasaannya bercampur antara malu dan tercerahkan.
“Saya telah merefleksi diri. Saya seharusnya tidak diterima; itu bukan pekerjaan yang tepat untuk saya,” kata Anna.
Namun, pengalaman itu adalah sebuah pembelajaran baginya.
Dia mengaku masih berupaya menjadi “dirinya sendiri” di tempat kerja, tetapi dia juga fokus untuk menjadi lebih baik dalam menampilkan dirinya.
Anna telah berupaya membatasi kata “like” dan “totally” dari kosakatanya. Dia juga mencari cara untuk memanfaatkan waktunya sebaik-baiknya bersama para eksekutif.
"Jika saya sedang rapat dengan seseorang yang lebih senior, saya duduk lebih tegak dan mempertajam bahasa saya. Saya tidak mengubah cara saya berbicara secara mendasar, namun saya berbicara sedikit berbeda."
Hal ini, kata Ehrenreich, adalah pendekatan yang cerdas setidaknya saat ini.
“Anda harus menyesuaikan diri jika ingin bekerja di perusahaan besar. Ini bukan soal mengubah jati diri Anda, tapi bagaimana beradaptasi.”
Artikel versi Bahasa Inggris berjudul Not all employers are tolerating Gen Z's laid-back language dapat Anda baca di BBC Worklife.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.