Rabu, 22 April 2026

Pendeta asal Filipina Ditangkap usai Diduga Terlibat Kejahatan Seksual dan TPPO

Pendeta asal Filipina yang dekat dengan Duterte ditangkap lantaran diduga terlibat kejahatan seksual dan tindak pidana perdagangan orang (TPPO).

Tangkap layar CNN
Pendeta asal Filipina, Apollo Quiboloy yang ditangkap karena diduga melakukan kejahatan seksual dan tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Dia ditangkap di kompleks keagamaan miliknya di selatan Kota Davao, Filipina pada Minggu (8/9/2024) waktu setempat. 

TRIBUNNEWS.COM - Seorang pendeta asal Filipina, Apollo Quiboloy ditangkap lantaran diduga melakukan kejahatan seksual dan tindak pidana perdagangan orang (TPPO).

Dikutip dari AP News, Quiboloy ditangkap bersama empat orang lainnya di kompleks keagamaannya di selatan Kota Davao pada Minggu (8/9/2024).

Adapun informasi penangkapan terhadap Quiboloy diumumkan oleh Menteri Dalam Negeri Filipina, Benhur Abalos lewat postingan di akun Facebook pribadinya.

"Apollo Quiboloy telah ditangkap," tulisnya.

Setelah ditangkap, Quiboloy dan rekan-rekannya diterbangkan ke ibu kota Filipina, Manila menggunakan pesawat C-130 milik Angkatan Udara Filipina.

Saat ini, mereka disebut telah ditahan di pusat penahanan yang berada di Markas Besar Kepolisian Nasional Filipina.

Juru bicara kepolisian, Kolonel Jean Fajardo mengatakan, dalam sebuah konferensi pers, bahwa pihaknya telah memberikan ultimatum kepada Quiboloy agar menyerahkan diri.

"Kepolisian Nasional Filipina memberikan ultimatum kepada mereka untuk menyerah. Jika tidak, kami akan menyerbu sebuah gedung tertentu, di mana kami telah dilarang untuk masuk," ujar Fajardo.

Quiboloy telah bersembunyi sejak awal tahun 2024 setelah pengadilan Filipina memerintahkan penangkapan terhadap dirinya dan beberapa orang lainnya atas dugaan kejahatan seksual anak dan TPPO.

Baca juga: Polri Pastikan Pemerintah Filipina Sudah Komitmen Menyerahkan Buronan BNN Gregor Haas

Senat Filipina secara terpisah memerintahkan penangkapan Quiboloy lantaran menolak hadir dalam rapat dengar pendapat komite publik yang menyelidiki tuduhan kriminal terhadapnya.

Ultimatum agar Quiboloy menyerahkan diri juga sampai dikatakan oleh Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr.

Sementara terkait tuduhan yang dilayangkan, Quiboloy dan pengacaranya menganggap hal tersebut ulah dari para kritikus dan mantan anggotanya yang telah dikeluarkan dari kelompok keagamaan yang dipimpinnya.

Sebagai informasi, pada tahun 2021 lalu, jaksa federal Amerika Serikat (AS) telah mengumumkan dakwaan terhadap Quiboloy lantaran diduga melakukan hubungan badan dengan perempuan dan remaja di bawah umur.

Dalam dakwaan tersebut, Quiboloy disebut memberikan ancaman berupa kutukan kepada para korbannya jika tidak memenuhi nafsu bejatnya.

Dia, saat mengancam, juga memproklamirkan diri sebagai 'anak Tuhan'.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved