Konflik Palestina Vs Israel
Rencana AS Serang Houthi Yaman Bocor di Grup Chat, Trump Anggap Sepele
Presiden AS Donald Trump menanggapi sebuah artikel di The Atlantic yang mengungkapkan bahwa rencana AS serang Houthi bocor di sebuah grup chat.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden AS Donald Trump menanggapi sebuah artikel di The Atlantic yang mengungkapkan bahwa percakapan pejabat keamanan nasional AS tentang rencana menyerang Houthi Yaman bocor di sebuah grup chat.
Di mana seorang jurnalis secara tidak sengaja ditambahkan ke obrolan grup tersebut.
Atas kejadian tersebut, Trump tampak menganggapnya sepele.
Ia justru menepis tuduhan bahwa rahasia pemerintah terancam.
"Tidak ada informasi rahasia, sejauh pemahaman saya," kata Trump dalam pertemuan para duta besar AS, dikutip dari Al Jazeera.
Presiden AS ini mengaku telah menyelidiki tuduhan tersebut.
Meski membantah tuduhan, ia menjelaskan bahwa ada saja kemungkinan hal tersebut terjadi.
“Kami sudah cukup banyak menelitinya. Sejujurnya, ini cukup sederhana. Itu sesuatu yang bisa saja terjadi," jelasnya.
Seolah tak menerima dampak apa pun soal tuduhan itu, ia menjelaskan tidak akan memberi hukuman kepada wartawan tersebut.
Ia juga mengaku tidak akan melarang penggunaan aplikasi media sosial Signal.
Awal Mula Rencana AS Bocor
Hal ini berawal dari pemimpin redaksi The Atlantic, Jeffrey Goldberg melaporkan bahwa ia telah ditambahkan ke grup pesan Signal yang tampaknya mencakup Wakil Presiden JD Vance, Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan penasihat keamanan nasional AS Michael “Mike” Waltz.
Baca juga: Houthi Kembali Beraksi, Luncurkan Drone ke Tel Aviv dan Kapal Induk AS Harry S. Truman
Goldberg menerima permintaan dari seseorang bernama Michael Waltz di Signal pada 11 Maret 2025.
Meski terkejut, Goldberg awalnya beranggapan bahwa orang yang mengundang dirinya adalah seseorang yang berpura-pura menjadi Waltz.
Namun Goldberg kemudian mengingat bahwa dirinya pernah bertemu Waltz pada beberapa waktu lalu.
"Saya tidak merasa aneh bahwa ia mungkin menghubungi saya, saya memang merasa itu agak tidak biasa," mengingat hubungan kontroversial pemerintahan Trump dengan jurnalis, tulis Goldberg.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Presiden-Trump-Singgah-Bertemu-Duta-Besar-AS.jpg)