Babak Baru Amerika Vs China: Kini China Buru 3 Agen Intelijen Amerika
Tiga intelijen AS itu dituduh melakukan serangan siber saat gelaran Asian Winter Games 2025 pada Februari 2025 lalu.
Maret lalu, Kementerian Hukum AS mengumumkan upaya penanganan kejahatan siber yang dituduh dilakukan 12 warga negara China.
Di Tengah Perang Dagang
Kasus ini mencuat di tengah perang dagang antara AS dan China yang terus memanas.
Kedua negara raksasa ekonomi dunia itu masih terus saling melempar serangan balasan yang menambah ketegangan global.
Terbaru AS menambah besaran tarif impor barang China yang bisa mencapai 245 persen.
Tarif tersebut jauh lebih tinggi dari angka sebelumnya yang sebesar 145 persen.
Keterangan itu tertuang dalam lembar fakta yang dirilis Gedung Putih pada Selasa (15/4/2025) malam waktu Amerika Serikat atau Rabu (16/4/2025) waktu Indonesia.
"China kini menghadapi tarif hingga 245 persen atas impor ke Amerika Serikat sebagai akibat dari tindakan pembalasannya," bunyi pernyataan dari AS, dikutip dari Anadolu.
Keputusan ini disebut sebagai respons atas "tindakan balasan" dari Beijing.
Sebagai informasi, sebelum AS memberlakukan tarif 245 persen, pemerintah China telah memboikot produk pesawat dari Boeing agar tidak masuk ke Beijing, termasuk juga suku cadang pesawat.
Langkah ini dilakukan China sebagai balasan atas tarif impor Trump hingga 145 persen terhadap barang-barang China.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menegaskan bahwa perang dagang ini dimulai oleh Washington, dan bahwa tindakan balasan dari Beijing bertujuan melindungi kepentingan nasional.
“China tidak ingin berperang, tetapi juga tidak takut untuk berperang,” ujar Lin dalam konferensi pers pada Rabu (16/4/2025), dikutip dari China Daily.
Lin menambahkan, penyelesaian hanya bisa dicapai apabila AS menghentikan tekanan ekstrem dan bersedia membuka ruang dialog yang setara dan saling menghormati.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/PERANG-DAGANG-CHINA-AMERIKA.jpg)