Konflik India dan Pakistan
5 Hal yang Perlu Diketahui Seputar Konflik India dan Pakistan: Serangan di Kashmir Jadi Pemicu
India dan Pakistan terancam perang besar-besaran, ini 5 hal yang perlu diketahui tentang konflik dua negara nuklir tersebut.
TRIBUNNEWS.COM – India dan Pakistan saling meluncurkan serangan rudal dan artileri pada Rabu (7/5/2025).
India menyalahkan Pakistan atas serangan militan di Kashmir yang dikelola India dua minggu lalu, yang menewaskan 26 warga sipil.
Kedua pihak saling serang dengan ancaman dan tindakan diplomatik.
Ketegangan memuncak pada Rabu pagi dengan serangan rudal dari India.
Mengutip Inquirer.net dan Al Jazeera, berikut lima hal yang perlu diketahui terkait konflik antara kedua negara tersebut:
1. Serangan dan Jumlah Korban
Beberapa wilayah di Pakistan dan Kashmir yang dikelola Pakistan terkena serangan rudal India pada Rabu pagi.
Pakistan menyatakan bahwa 26 warga sipil tewas dalam serangan yang terjadi di sedikitnya enam lokasi serta penembakan di sepanjang perbatasan.
India mengklaim bahwa "Operasi Sindoor" menargetkan sembilan lokasi.
Sebagai respons, Pakistan mengerahkan jet tempurnya dan mengklaim telah menembak jatuh lima pesawat India.
Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Muhammad Asif, mengatakan kepada AFP bahwa pembalasan telah dimulai, setelah sebelumnya militer menyatakan akan merespons pada waktu dan tempat yang mereka pilih sendiri.
2. Pemicu
India geram atas serangan militan terhadap para turis di Kashmir yang dikelola India pada 22 April.
Baca juga: 7 Reaksi Pemimpin Dunia atas Konflik India dan Pakistan, Israel Dukung Hak New Delhi Membela Diri
Serangan tersebut menewaskan 26 orang, sebagian besar pria Hindu, di kawasan wisata populer Pahalgam.
Tidak ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu.
Namun, New Delhi menyatakan bahwa para pelaku bersenjata berasal dari kelompok militan berbasis di Pakistan, Lashkar-e-Taiba.
PBB telah menetapkan Lashkar-e-Taiba sebagai organisasi teroris dengan rekam jejak melakukan serangan di wilayah India.
Kelompok itu telah lama diduga memiliki hubungan dengan lembaga militer Pakistan—klaim yang dibantah oleh Islamabad.
Perdana Menteri India, Narendra Modi, menuduh Pakistan mendukung “terorisme lintas batas” dan telah memberi militer India kebebasan operasional penuh untuk menanggapi.
Kedua negara juga saling mengusir diplomat minggu lalu.
3. Alasan Disebut Operasi Sindoor
Militer India menamai serangan rudalnya di wilayah Pakistan dan Kashmir yang dikelola Pakistan sebagai “Operasi Sindoor”.
Nama ini memiliki makna simbolis.
Sindoor adalah istilah dalam bahasa Hindi untuk pigmen merah terang, yang biasanya dioleskan oleh wanita Hindu yang telah menikah di dahi mereka.
Nama operasi ini tampaknya merujuk pada cara para penyerang menembak para korban dalam serangan di Pahalgam pada 22 April.
Banyak kisah para penyintas menyebutkan bagaimana pria bersenjata memisahkan turis pria dari wanita, lalu mengidentifikasi mereka sebelum mengeksekusi.
Sindoor umumnya tidak lagi dikenakan setelah seorang wanita kehilangan suaminya.
4. Wilayah Kashmir
Wilayah Kashmir telah lama menjadi sumber konflik utama antara India dan Pakistan sejak kedua negara terbentuk setelah berakhirnya kekuasaan kolonial Inggris pada tahun 1947.
Baca juga: Sheikh Abdullah bin Zayed Minta India-Pakistan Tahan Diri: Selesaikan Perbedaan Lewat Dialog
Penguasa Kashmir saat itu ragu-ragu untuk bergabung dengan India yang mayoritas Hindu atau Pakistan yang mayoritas Muslim, yang akhirnya memicu perang pertama antara kedua negara.
Perang besar berikutnya terkait Kashmir terjadi pada tahun 1965 dan 1999, diselingi oleh pemberontakan dan konflik perbatasan yang terjadi secara berkala.
Kedua negara menguasai sebagian wilayah Kashmir, namun sama-sama mengklaimnya secara penuh. Mereka juga menempatkan pasukan di sepanjang Garis Kontrol (LoC) untuk menjaga wilayah masing-masing.
India dan Pakistan nyaris kembali berperang pada tahun 2019 setelah 41 paramiliter India tewas dalam serangan bunuh diri yang dituduhkan kepada kelompok militan asal Pakistan.
5. Reaksi Dunia
India dan Pakistan sama-sama memiliki persenjataan nuklir dalam jumlah besar.
Kashmir telah lama dikenal sebagai salah satu titik panas paling berbahaya di dunia karena berpotensi memicu perang nuklir.
Karena itu, berbagai pihak menyerukan agar kedua negara menahan diri dan menghindari eskalasi lebih lanjut.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, melalui juru bicaranya Stephane Dujarric, menyerukan “penahanan diri maksimal”.
“Dunia tidak mampu menanggung konfrontasi militer antara India dan Pakistan,” ujar Dujarric.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, telah berbicara dengan mitra dari India dan Pakistan untuk mendorong kedua belah pihak agar terlibat dalam dialog.
China, yang bertetangga dengan kedua negara dan merupakan sekutu dekat Pakistan, menyayangkan tindakan militer India pada pagi hari dan menyatakan keprihatinannya atas perkembangan situasi, menurut pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dijadwalkan berada di New Delhi pada hari Rabu, dua hari setelah kunjungannya ke Islamabad, sebagai bagian dari upaya Teheran untuk menengahi konflik.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/oran-serangan-I1ndia-terhadap-P1akistan-I1ndia-dan-Pak.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.