Selasa, 9 Juni 2026

Tiongkok Makin Agresif di Laut China Selatan: Sikap ASEAN Terbelah, Indonesia Perlu Waspada 

Saat ini terjadi karena perebutan pengaruh atas perairan Laut China Selatan oleh Amerika Serikat dan China, sementara sikap ASEAN terbelah.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Choirul Arifin
dok.
LAUT CHINA SELATAN MEMANAS - Seminar "China dan Keamanan Maritim Regional: Pandangan dari Asia Tenggara" di Jakarta, Senin petang, 19 Mei 2025. Kawasan Asia Tenggara kini berada dalam situasi genting & terjadi karena perebutan pengaruh atas perairan Laut China Selatan (LCS) oleh Amerika Serikat dan China. Sikap ASEAN terbelah. 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Para pemerhati geopolitik menyatakan, kawasan Asia Tenggara kini berada dalam situasi genting dan kondisinya sanget berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Kegentingan tersebut terjadi karena perebutan pengaruh atas perairan Laut China Selatan (LCS) oleh Amerika Serikat dan China. Kekuatan-kekuatan besar dunia saat ini saling berhadapan sehingga meningkatkan ketegangan di kawasan.

Ketua Forum Sinologi Indonesia (FSI) Johanes Herlijanto mengatakan, agresivitas China sejak sekitar 15 tahun terakhir menjadi salah satu faktor yang berkontribusi bagi terciptanya ketegangan di atas.

"Pada masa lalu, sejak zaman Deng Xiaoping hingga pemerintahan Hu Jintao, meski sudah memupuk kekuatan, China mempertahankan sikap low profile dan berupaya menyembunyikan kekuatannya."

"Meski terjadi ketegangan antara China dengan negara-negara Asia Tenggara, seperti konflik dengan Vietnam tahun 1974 dan 1988, serta ketegangan dengan Filipina di tahun 1995, ketegangan saat itu tidak meningkat seperti saat ini," kata Johanes di seminar "China dan Keamanan Maritim Regional: Pandangan dari Asia Tenggara" di Jakarta, Senin petang, 19 Mei 2025.

Menurut Johanes yang juga pemerhati China yang juga dosen Magister Ilmu Komunikasi UPH Universitas Pelita Harapan (UPH) tersebut, sejak 2012 China terlihat semakin memperlihatkan kekuatannya, dan bahkan aktif melakukan apa yang oleh para ahli disebut sebagai aktivitas zona abu-abu (greyzone).

Klaim Baru China Lewat Peta 10 Garis Putus-putus

China aktif memobilisasi unsur-unsur maritim sipil dengan didukung oleh unsur Penjaga Pantai China dan Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat, untuk beraktivitas di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) negara-negara Asia Tenggara.

Beberapa negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Filipina, Vietnam, dan Malaysia, pernah mengalami hal serupa, menjadi sasaran dari aktivitas pelanggaran hak berdaulat oleh China.

KAJIAN LAUT CHINA SELATAN - Seminar
KAJIAN LAUT CHINA SELATAN - Seminar "China dan Keamanan Maritim Regional: Pandangan dari Asia Tenggara" di Jakarta, Senin petang, 19 Mei 2025. Kawasan Asia Tenggara kini berada dalam situasi genting  terjadi karena perebutan pengaruh atas perairan Laut China Selatan (LCS) oleh Amerika Serikat dan China. Sikap ASEAN terbelah. (dok.)

Klaim China mengacu  pada 10 garis putus-putus yang hanya dilandasi oleh apa yang China sebut sebagai "hak sejarah."

Padahal, itu sebenarnya sama-sekali tidak sah berdasarkan hukum laut internasional, yaitu UNCLOS (United Nation Convention on the Law of the Sea).

Johanes berpendapat, negara-negara Asia Tenggara, khususnya yang tergabung dalam Asosiasi Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) perlu meningkatkan persatuan, dan kemampuan dalam menghadapi sikap agresif China tersebut.

China Suka Ngetes Negara-negara Tetangganya 

Mengutip pernyataan Yuwono Sudharsono, pemerhati isu internasional Ristian Atriandi Supriyanto dari jurusan Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI) mengatakan, China suka mengetes negara-negar sekitarnya karena China merasa sebagai negara bear.

"Hal itu terasa sejak Presiden Xi Jinping naik dan berkuasa di China. Misalnya seperti kita saksikan, aksi China terhadap Filipina," Ristian.

Menurut Ristian, China ingin diakui ssbagai negara adidaya. Kekuatan ekonomi China hanya jadi batu loncatan untuk menunjukkan kekuatan dia sebagai negara besar.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved