Jumat, 29 Agustus 2025

Konflik Iran Vs Israel

Demo Besar-besaran di Teheran, Presiden Iran Pezeshkian Ikut Gabung Aksi Protes Serangan AS

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian yang ikut bergabung di tengah-tengah massa yang menggelar aksi protes di Teheran atas serangan Amerika Serikat.

Tangkapan layar YouTube Shorts Al Jazeera
PROTES DI TEHERAN - Tangkapan layar YouTube Shorts Al Jazeera yang diambil pada Senin (23/6/2025) yang menampilkan Presiden Iran Ikut Gabung Aksi Protes serangan AS di Teheran pada hari Minggu (22/6/2025). Televisi pemerintah menayangkan rekaman saat Pezeshkian berjalan di antara para demonstran, yang mengangkat tangan tinggi dan meneriakkan, “Balas dendam! Balas dendam!” sebagai seruan kepada pemerintah untuk merespons tindakan militer AS secara tegas. 

TRIBUNNEWS.COM - Ribuan warga Iran memadati pusat Kota Teheran, pada Minggu (22/6/2025), dalam aksi unjuk rasa besar-besaran menentang serangan militer Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran.

Aksi tersebut diwarnai kemarahan, teriakan, tuntutan balas dendam dan kehadiran mengejutkan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian yang ikut bergabung di tengah-tengah massa, dikutip dari Channel8.

Televisi pemerintah menayangkan rekaman saat Pezeshkian berjalan di antara para demonstran, yang mengangkat tangan tinggi dan meneriakkan, “Balas dendam! Balas dendam!” sebagai seruan kepada pemerintah untuk merespons tindakan militer AS secara tegas.

Salah satu demonstran yang diwawancarai Al Jazeera menyatakan, “Apa yang mereka (Amerika) lakukan sungguh tidak bisa dimaafkan, dan mereka tidak boleh berpikir bahwa mereka dapat menyakiti negara kita dengan melakukan hal ini,".

Ia menegaskan bahwa Iran tidak bisa diremehkan karena memiliki kekuatan dan kesatuan yang besar.

"Iran lebih kuat dari yang mereka duga. Kami adalah pasukan pemimpin. Kami siap bertempur," tambahnya.

Baca juga: 5 Petaka Jika Iran Menutup Selat Hormuz: Minyak Melonjak, Ekonomi Dunia Terguncang

3 Fasilitas Nuklir Iran jadi Target AS

Aksi protes ini dipicu oleh serangan besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran, yakni Fordow, Natanz, dan Isfahan. 

Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa serangan tersebut bertujuan untuk “melumpuhkan potensi ancaman nuklir Iran,” dan menyebut bahwa situs Fordow yang dijaga ketat “telah hilang", dikutip dari BBC.

Operasi tersebut merupakan salah satu serangan terbesar, dengan melibatkan 125 pesawat militer, termasuk 7 pembom siluman B-2, serta rudal jelajah Tomahawk yang diluncurkan dari kapal selam AS ke wilayah Isfahan. 

Menurut Jenderal Dan Caine dari Kepala Staf Gabungan AS, pesawat B-2 menjatuhkan 14 bom penghancur bunker GBU-57 Massive Ordnance Penetrator, terutama menargetkan fasilitas Fordow dan Natanz.

Citra satelit yang diperoleh pada 22 Juni memperlihatkan kerusakan besar di lokasi Fordow, termasuk enam kawah besar dan puing-puing berserakan. 

Lokasi di Isfahan dan Natanz juga menunjukkan dampak signifikan dari serangan udara tersebut.

Iran Klaim Serangan Tidak Efektif

Meski demikian, pihak Iran membantah bahwa serangan tersebut berhasil melumpuhkan fasilitas nuklir. 

Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) menyatakan bahwa tidak ditemukan indikasi kebocoran radiasi ataupun bahaya bagi warga sipil di sekitar ketiga lokasi.

Penasihat Ketua Parlemen Iran, Mahdi Mohammadi, bahkan menegaskan bahwa fasilitas Fordow sudah lama dievakuasi sebelum serangan.

Baca juga: Menlu Australia: Kami Dukung Serangan Amerika Serikat ke Iran

Halaman
12
Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan