Rabu, 13 Mei 2026

Konflik Iran Vs Israel

Soal Perang Iran-Israel, Eropa Gagal Mainkan Peran Diplomatik, Cuma Bisa Serukan Perdamaian

Serangan AS ke Iran membuat Eropa tersingkir dari arena diplomasi. Kini Eropa hanya bisa menyerukan jalur damai tanpa pengaruh nyata.

Tayang: | Diperbarui:
khaberni/tangkap layar
RUDAL ANTARBENUA - Rudal antarbenua milik Iran, Khaybar yang dilaporkan sudah digunakan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) untuk menyerang Tel Aviv, Israel pada Minggu (22/6/2025). Iran menyerang dengan rudal tersebut sebagai tanggapan atas serangan langsung Amerika Serikat ke 3 fasilitas nuklirnya, pada Sabtu (21/6/2026) malam. Serangan AS ke Iran membuat Eropa tersingkir dari arena diplomasi. Kini, Eropa hanya bisa menyerukan jalur damai tanpa pengaruh nyata. 

TRIBUNNEWS.COM - Eropa disebut gagal memainkan peran penting dalam upaya diplomatik menyelesaikan konflik antara Iran dan Israel.

Serangan militer Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran pada akhir pekan lalu membuat upaya diplomasi Eropa tampak tak berarti, dilansir RFE/RL.

Hanya 24 jam sebelum serangan itu, para menteri luar negeri dari E3 (Prancis, Jerman, dan Inggris), bersama Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, telah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi di Jenewa.

Pertemuan tersebut berakhir tanpa hasil, bahkan tanpa kesepakatan untuk pertemuan lanjutan.

Presiden AS Donald Trump menanggapi dengan sinis. Ia menyatakan bahwa Iran tidak sungguh-sungguh ingin berdialog, dan menganggap pendekatan Eropa tak efektif.

Diplomasi Tanpa Pengaruh

Menteri-menteri luar negeri Uni Eropa kembali membahas krisis ini dalam pertemuan di Brussels.

lihat fotoSELAT HORMUZ - Ancaman Iran menutup Selat Hormuz menjadi perhatian pelaku industri migas global, termasuk PT Pertamina (Persero). Diketahui, sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia melewati di selat tersebut. Terkait hal itu, PT Pertamina (Persero) akan memanfaatkan jalur pelayaran melalui perairan Oman dan India untuk mengamankan jalur impor minyak mentah dari Timur Tengah jika Iran jadi menutup Selat Hormuz. TRIBUNNEWS/SRIHANDRIATMO MALAU/BAYU PRIADI
SELAT HORMUZ - Ancaman Iran menutup Selat Hormuz menjadi perhatian pelaku industri migas global, termasuk PT Pertamina (Persero). Diketahui, sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia melewati di selat tersebut. Terkait hal itu, PT Pertamina (Persero) akan memanfaatkan jalur pelayaran melalui perairan Oman dan India untuk mengamankan jalur impor minyak mentah dari Timur Tengah jika Iran jadi menutup Selat Hormuz. TRIBUNNEWS/SRIHANDRIATMO MALAU/BAYU PRIADI

Mereka menekankan bahwa diplomasi adalah satu-satunya jalan keluar, namun kenyataannya pengaruh Eropa semakin menipis.

“Teheran masih terbuka membahas isu nuklir dan keamanan,” kata Kaja Kallas. Tapi, pernyataan itu tidak berbanding lurus dengan hasil konkret.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot mengakui bahwa serangan udara saja tak cukup mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.

“Hanya diplomasi yang bisa menghentikannya,” katanya.

Baca juga: PBB: Israel Lakukan Kejahatan Perang, Distribusi Bantuan Jadi Kedok Pembantaian di Gaza

JCPOA Mati, tapi Masih Dijadikan Simbol

Eropa masih berharap pada semangat Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) yang dibuat tahun 2015 — sebuah kesepakatan nuklir yang kala itu didukung oleh Presiden Barack Obama dan difasilitasi Uni Eropa.

Kesepakatan itu praktis runtuh sejak Trump menarik AS keluar pada 2018.

Upaya membangkitkannya di era Biden pun berjalan tertatih, dan kini pasca-serangan militer, masa depannya nyaris mustahil.

Uni Eropa sebenarnya masih bisa menjatuhkan sanksi 'snapback' terhadap Iran lewat mekanisme JCPOA.

Akan tetapi, sejumlah diplomat yang diwawancarai RFE/RL menyebut opsi tersebut belum menjadi prioritas pembahasan saat ini.

Takut Kritik AS dan Israel, Eropa Jadi Penonton

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved