Sabtu, 30 Agustus 2025

Konflik Iran Vs Israel

AS Mengklaim Bakal Ada Negosiasi dengan Iran, Teheran Bingung: Emangnya Kapan?

Utusan Khusus Gedung Putih, Steve Witkoff mengklaim dirinya akan mengunjungi Iran untuk melakukan diskusi langsung dengan para pejabat.

Tasnim News
IRAN BINGUNG - Gambar yang diambil pada Selasa (1/7/2025) menunjukkan Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Politik, Majid Takht-Ravanchi. Amerika Serikat (AS) mengklaim akan adanya negosiasi baru yang tengah direncanakan dengan Iran, namun Teheran bingung karena tak ada janji negosiasi. 

TRIBUNNEWS.COM - Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Politik, Majid Takht-Ravanchi bingung dengan klaim Amerika Serikat (AS) yang menyebut akan adanya negosiasi baru yang tengah direncanakan.

Untuk diketahui, Utusan Khusus Gedung Putih Steve Witkoff mengklaim dirinya akan mengunjungi Iran untuk berdiskusi dengan para pejabat di Teheran.

Menurut Witkoff, diskusi diperkirakan akan difokuskan pada kemungkinan penghentian pengayaan uranium dengan imbalan keringanan sanksi.

Menanggapi klaim Witkoff, Majid Takht-Ravanchi merasa bingung dan membantah klaim AS.

Majid Takht-Ravanchi membantah dengan menyebut pernyataan Witkoff tidak berdasar.

Dikutip dari ABNA, berbicara setelah pertemuan dengan Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran pada hari Minggu, Takht-Ravanchi menegaskan kembali bahwa tidak ada rencana untuk pembicaraan baru dengan AS.

Ia menekankan bahwa tidak ada pengaturan atau diskusi yang telah dilakukan, dan bersikeras bahwa pernyataan pejabat AS tidak berdasar.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump marah setelah Iran menyebutnya plin plan dalam pemberian sanksi terhadap Teheran.

Trump marah setelah Iran mengkritik perubahan sikapnya mengenai apakah ia akan mencabut sanksi ekonomi terhadap Teheran atau tidak.

Bahkan, Iran menyebut Donald Trump tengah melakukan "permainan" yang tidak ditujukan untuk menyelesaikan masalah antara kedua negara.

"(Pernyataan Trump) ini seharusnya lebih dilihat dalam konteks permainan psikologis dan media daripada sebagai ekspresi serius yang mendukung dialog atau penyelesaian masalah," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, Senin (30/6/2025), dikutip dari Reuters.

Baca juga: Trump Ngamuk setelah Disebut Plin Plan oleh Iran, Ngambek Tak Mau Bernegosiasi Lagi dengan Teheran

Menanggapi pernyataan Iran, Trump mengatakan bahwa dirinya tidak akan mengadakan diskusi dengan para pemimpin di Teheran.

Terkesan seperti "ngambek", Trump bahkan tidak akan menawarkan apa pun kepada Iran.

"Saya tidak menawarkan APA PUN kepada Iran, tidak seperti Obama, yang membayar mereka Miliaran dolar dengan 'jalan menuju senjata nuklir JCPOA' yang bodoh (yang sekarang sudah kedaluwarsa!), saya juga tidak berbicara kepada mereka karena kita benar-benar MENGHANCURKAN Fasilitas Nuklir mereka." tulis Trump melalui Truth Social, dikutip dari The Times of Israel.

Trump pada Jumat (27/6/2025) sempat menepis laporan media yang mengatakan pemerintahannya telah membahas kemungkinan membantu Iran mengakses sebanyak $30 miliar untuk membangun program nuklir penghasil energi sipil.

Sementara itu, Prancis, Jerman dan Inggris mengutuk "ancaman" terhadap kepala pengawas nuklir PBB setelah Iran menolak permintaannya untuk mengunjungi fasilitas nuklir yang dibom oleh Israel dan Amerika Serikat.

Teheran menuduh Rafael Grossi, kepala Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), melakukan "pengkhianatan terhadap tugasnya".

Tuduhan itu muncul karena Grossi dianggap tidak mengutuk serangan Israel dan AS terhadap situs nuklir Iran.

Bahkan anggota parlemen Iran minggu ini memilih untuk menangguhkan kerja sama dengan badan tersebut.

"Prancis, Jerman, dan Inggris mengutuk ancaman terhadap direktur jenderal IAEA Rafael Grossi dan menegaskan kembali dukungan penuh kami kepada badan tersebut," kata menteri luar negeri Jean-Noel Barrot, Johann Wadephul, dan David Lammy dalam pernyataan bersama.

"Kami menghimbau otoritas Iran untuk menahan diri dari langkah apa pun untuk menghentikan kerja sama dengan IAEA," imbuh mereka.

Standar Ganda IAEA

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian meminta badan nuklir PBB (IAEA) untuk menghindari standar ganda dan menegakkan hak-hak semua anggota tanpa diskriminasi.

Menanggapi kekhawatiran yang diungkapkan oleh presiden Prancis Emmanuel Macron tentang penangguhan kerja sama Iran dengan IAEA, Pezeshkian mengkritik kepala nuklir PBB karena membuat laporan yang tidak benar tentang kegiatan nuklir Iran dan menolak untuk mengutuk serangan militer Amerika dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran.

"Meskipun Iran berinteraksi dengan IAEA, Grossi tidak bertindak tidak memihak," kata Pezeshkian, mengutip Tasnim News.

Baca juga: Perang Bikin Israel Miskin, Warga Bobol Mall yang Hancur di Rudal Iran, Jarah Uang Barang Mewah

Ia menggambarkan keputusan Iran untuk menangguhkan kerja sama dengan badan nuklir PBB sebagai reaksi alami terhadap perilaku yang tidak dapat dibenarkan, tidak konstruktif, dan merusak.

Pezeshkian menggambarkan perilaku Grossi sebagai sumber kekhawatiran dan terbentuknya tantangan serius yang mengikis kepercayaan bangsa Iran.

Langkah pertama dalam membangun kembali kepercayaan, lanjut Pezeshkian, adalah komitmen penuh IAEA untuk mematuhi aturan dan regulasinya sendiri.

"Pertanyaannya adalah mengapa Israel, yang bukan anggota NPT dan telah melanggar semua aturan internasional dalam beberapa tahun terakhir, harus menjadi dasar dan rujukan untuk laporan IAEA," kata Pezeshkian kepada Macron.

"Standar ganda seperti itu telah menimbulkan banyak masalah bagi keamanan regional dan dunia. IAEA diharapkan untuk menegakkan hak-hak negara, menghindari standar ganda, dan membela hak-hak semua negara anggota," imbuh presiden Iran.

Bahkan, menurut Pezeshkian, jika Iran melanjutkan kerja sama dengan IAEA, tidak ada jaminan bahwa fasilitas nuklir negara itu tidak akan diserang lagi.

Menegaskan kebijakan Iran tentang penyelesaian perselisihan melalui diplomasi dan dialog serta menghindari perang dan ketidakamanan, Pezeshkian menyatakan harapan bahwa organisasi internasional, termasuk IAEA, akan menghormati komitmen mereka dan mengarahkan dunia ke arah perdamaian dan keamanan, bukan perang dan konflik.

(Tribunnews.com/Whiesa)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan