Senin, 1 September 2025

Konflik Iran Vs Israel

Netanyahu Curhat Kehabisan Amunisi, AS Langsung Kirim Bom Presisi Senilai 510 Juta Dolar

AS kembali menyepakati penjualan paket senjata presisi Joint Direct Attack Munition, berisi bom BLU‑109 dan bom MK‑82 senilai 510 Juta Dolar ke Israel

Tangkap Layar Responsible Staatecraft
SENJATA AS - AS kembali menyepakati penjualan paket senjata presisi Joint Direct Attack Munition, berisi bom BLU‑109 dan bom MK‑82 senilai 510 Juta Dolar ke Israel, usai PM Israel Benjamin Netanyahu curhat bahwa militernya telah menghabiskan banyak amunisi saat terlibat konflik dengan Iran. 

TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Amerika Serikat kembali menyepakati penjualan paket kit senjata presisi Joint Direct Attack Munition (JDAM) yang berisi bom BLU‑109 dan bom MK‑82 senilai 510 Juta Dolar ke Israel, Selasa (1/7/2025).

JDAM adalah perangkat yang digunakan untuk mengubah bom konvensional tanpa pemandu (unguided bombs) menjadi senjata presisi tinggi yang dapat menyerang target dengan akurasi tinggi, bahkan dalam kondisi cuaca buruk atau dari jarak jauh.

Keputusan untuk mengirim kit bom presisi diambil Pemerintahan AS usai PM Israel Benjamin Netanyahu curhat bahwa militernya telah menghabiskan banyak amunisi saat terlibat konflik dengan Iran.

Di mana dalam serangan itu, Israel meluncurkan puluhan rudal dan bom presisi, termasuk dari jet tempur F-35 dan sistem pertahanan udara.

Meski serangan hanya berlangsung 12 hari, namun konflik tersebut membuat kebutuhan Israel terhadap amunisi pintar dan perangkat panduan meningkat tajam.

Hal ini mendorong permintaan percepatan dukungan logistik dari Washington berupa 3.845 peralatan panduan untuk bom BLU-109 seberat 2.000 pon dan 3.280 peralatan untuk bom MK 82 seberat 500 pon.

Merespons permintaan tersebut, Departemen Luar Negeri AS secara resmi memberikan izin kepada perusahaan Defense Security Cooperation Agency (DSCA) untuk memasok persenjataan ke Israel.

"Departemen Luar Negeri telah membuat keputusan yang menyetujui kemungkinan Penjualan Militer Asing kepada Pemerintah Israel berupa Peralatan Panduan Amunisi dan Dukungan Amunisi serta peralatan terkait dengan perkiraan biaya 510 juta dolar AS," kata badan tersebut, dilansir dari Anadolu.

DSCA menegaskan bahwa penjualan ini tidak akan mengubah keseimbangan militer di kawasan Timur Tengah.

Menurutnya, bantuan ini dikirimkan dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan Israel dalam mempertahankan wilayah, infrastruktur penting, serta melindungi penduduk dari ancaman serangan regional.

Baca juga: Tentara Zionis Butuh Rp 43 Triliun Lagi untuk Perluas Perang di Gaza, Padahal Ekonomi Israel Krisis

"Amerika Serikat berkomitmen terhadap keamanan Israel, dan sangat penting bagi kepentingan nasional AS untuk membantu Israel mengembangkan dan mempertahankan kemampuan pertahanan diri yang kuat dan siap," demikian pernyataan DSCA.

Rencana AS Tuai Kritikan

Setelah AS mengumumkan rencana pengiriman senjata presisi senilai 510 juta dolar ke Israel, berbagai kritik langsung bermunculan, baik dari dalam negeri AS maupun dari komunitas internasional.

Banyak kelompok hak asasi manusia dan LSM internasional menyuarakan keprihatinan bahwa bantuan senjata presisi tersebut berpotensi digunakan dalam serangan terhadap wilayah sipil seperti Gaza atau Tepi Barat, yang sebelumnya telah mengalami korban jiwa besar selama konflik.

“Senjata presisi tetap bisa mematikan jika digunakan sembarangan atau tanpa intelijen yang akurat,” ujar Human Rights Watch

Kecaman serupa turut dilontarkan pengamat politik dan analis pertahanan, mereka  menilai bahwa pengiriman senjata justru bisa memperkeruh situasi Timur Tengah dan meningkatkan risiko konflik regional lanjutan.

“Langkah ini bisa dibaca sebagai dukungan penuh terhadap kebijakan militer Israel, dan memicu reaksi dari Iran atau kelompok militan di kawasan,” kata Middle East Institute.

AS Pemasok Senjata Terbesar Israel

Selama beberapa tahun terakhir, Amerika Serikat tercatat sebagai pemasok senjata terbesar bagi Israel.

Di mana dua pertiga dari seluruh impor senjata Israel antara tahun 2020 hingga 2024 berasal langsung dari Negeri Paman Sam.

Dukungan militer ini bukanlah hal baru. Sejak tahun 1946, total bantuan pertahanan dari AS ke Israel telah mencapai 228 miliar dolar AS.

Menjadikan Israel sebagai penerima bantuan militer terbesar dalam sejarah Amerika, berdasarkan laporan dari Council on Foreign Relations (CFR), lembaga non partisan yang berbasis di AS.

Jika dijumlahkan, bantuan pertahanan dari AS ke Israel selama 77 tahun terakhir telah mencapai lebih dari 124 miliar dolar AS.

Melampaui total bantuan AS ke Mesir sebesar 151,9 miliar dolar dalam periode yang sama, menurut Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI).

Bantuan besar-besaran ini diberikan bukan tanpa alasan. Ada sejumlah pertimbangan strategis dan politik yang membuat Washington begitu loyal pada Tel Aviv.

Diantaranya karena Israel dianggap sebagai sekutu utama AS dalam menjaga stabilitas dan kepentingan minyak di kawasan yang penuh gejolak ini.

Israel juga dilihat sebagai benteng yang mampu membendung pengaruh kekuatan besar seperti Soviet dan Iran.

Alasan tersebut yang kemudian mendorong AS untuk terus menggenjot bantuan dana dan senjata untuk militer Israel.

(Tribunnews.com / Namira)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan