Konflik Rusia Vs Ukraina
Perang Rusia-Ukraina Hari ke-1.236: Korea Utara Makin Akrab dengan Rusia
Pada perang Rusia-Ukraina hari ke-1.236, Kim Jong Un kembali menegaskan dukungan Korea Utara atas perang Rusia di Ukraina dan menawarkan bantuan.
TRIBUNNEWS.COM - Pada perang Rusia dan Ukraina hari ke-1.236 pada Minggu (13/7/2025), Ukraina melaporkan bahwa Rusia melakukan serangan dengan ratusan pesawat nirawak dan rudal jarak jauh selama 24 jam terakhir.
Serangan tersebut menewaskan sedikitnya enam orang dalam gelombang serangan terbarunya.
"Rusia terus menggunakan taktik teror khusus mereka terhadap negara kami, melancarkan serangan terkonsentrasi di satu kota atau yang lain, di satu wilayah atau yang lain," kata presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, dalam pidatonya pada Sabtu (12/7/2025) malam.
"Dua puluh enam rudal jelajah dan 597 pesawat nirawak serang diluncurkan, yang lebih dari setengahnya adalah 'Shahed'," kata Zelensky, merujuk pada pesawat nirawak buatan Iran.
Angkatan udara Ukraina mengatakan telah menjatuhkan 319 pesawat nirawak Shahed dan 25 rudal.
Selain itu, satu rudal dan sekitar 20 pesawat nirawak telah menghantam lima lokasi, seperti diberitakan The Guardian.
Kim Jong Un Tegaskan Dukungan Korea Utara untuk Rusia
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un telah menegaskan kembali dukungan penuhnya untuk Moskow dalam perang di Ukraina.
Pernyataan itu disampaikan selama pembicaraan dengan diplomat tinggi Rusia, termasuk Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov.
Dalam kunjungan tiga harinya, Lavrov bertemu Kim Jong Un pada hari Sabtu (12/7/2025).
"Korea Utara siap untuk mendukung tanpa syarat dan mendorong semua langkah yang diambil oleh kepemimpinan Rusia sehubungan dengan penanggulangan akar penyebab krisis Ukraina," menurut laporan KCNA.
Baca juga: Perang Rusia-Ukraina Hari ke-1.235: NATO Perlu Tambah Rudal Jarak Jauh Hadapi Rusia
Rusia dan Korea Utara akan Memulai Penerbangan Moskow-Pyongyang
Sergey Lavrov mengeluarkan pernyataan bersama dengan Korea Utara yang menjanjikan dukungan untuk menjaga integritas wilayah kedua negara.
Pernyataan itu disampaikan kepada para wartawan di kota Wonsan, Korea Utara bagian timur, tempat ia bertemu Kim dan Menteri Luar Negeri Korea Utara Choe Son Hui.
Menjelang kunjungan Sergey Lavrov, Rusia mengumumkan akan memulai penerbangan dua kali seminggu antara Moskow dan Pyongyang.
Sergey Lavrov memuji kota Wonsan sebagai objek wisata yang bagus, dan menambahkan, "Kami berharap Wonsan akan populer tidak hanya di kalangan warga lokal, tetapi juga di kalangan warga Rusia."
Lavrov Peringatkan AS, Korea Selatan, Jepang agar Tak Mengancam Korea Utara
Dalam kunjungannya ke Pyongyang, Sergey Lavrov juga memperingatkan AS, Korea Selatan dan Jepang agar tidak membentuk kemitraan keamanan yang menargetkan Korea Utara.
Sergey Lavrov menuduh negara-negara tersebut melakukan apa yang disebutnya penumpukan militer di sekitar Korea Utara.
"Kami memperingatkan agar tidak mengeksploitasi hubungan ini untuk membangun aliansi yang ditujukan terhadap siapa pun, termasuk Korea Utara dan, tentu saja, Rusia," katanya, menurut kantor berita negara Rusia Tass.
Hubungan yang semakin dalam antara Rusia dan Korea Utara telah meningkatkan kekhawatiran di antara Korea Selatan dan AS bahwa Rusia mungkin juga mentransfer ke Korea Utara teknologi sensitif yang dapat meningkatkan bahaya program nuklir dan misilnya.
Sergey Lavrov mengatakan Rusia memahami keputusan Korea Utara untuk mencari senjata nuklir.
"Teknologi yang digunakan oleh Korea Utara adalah hasil kerja para ilmuwannya sendiri. Kami menghormati aspirasi Korea Utara dan memahami alasan mengapa mereka mengejar pengembangan nuklir," kata Lavrov, menurut laporan Tass.
Korea Selatan: Korea Utara Pasok Rudal ke Rusia
Sebuah laporan oleh Badan Intelijen Pertahanan Korea Selatan (DIA) menunjukkan informasi bahwa Korea Utara telah menyediakan Rusia sekitar 28.000 kontainer berisi senjata dan amunisi artileri.
"Jika dihitung dengan peluru tunggal 152 mm, (jumlah peluru yang dipasok) diperkirakan mencapai lebih dari 12 juta," kata DIA, seperti diberitakan Yonhap.
Sebelumnya, Korea Selatan menuduh Korea Utara telah memasok Rusia dengan senjata konvensional dan sekitar 13.000 tentara untuk mendukung upaya militer Moskow sejak Oktober 2024.
Korea Utara kemungkinan akan mengirim pasukan tambahan ke Rusia pada bulan Juli atau Agustus tahun ini, menurut laporan dinas intelijen Korea Selatan melaporkan pada akhir Juni.
Media Rusia melaporkan Korea Utara akan mengirim 5.000 pekerja konstruksi militer dan 1.000 ahli penjinak bom ke Oblast Kursk, Rusia, yang diserang oleh pasukan Ukraina.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Pemimpin-Korea-Utara-Kim-Jong-Un-Menteri-Luar-Negeri-Rusia-Sergey-Lavrov-99.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.