Konflik Rusia Vs Ukraina
Daur Ulang Tentara Ala Rusia: Ditangkap Ukraina, Ditukar, Dipaksa Ikut Perang Lagi
Rusia dilaporkan memaksa personel militer yang dikembalikan Ukraina dalam pertukaran tahanan perang, untuk kembali bertempur.
Daur Ulang Tentara Ala Rusia: Ditangkap Ukraina, Ditukar, Disuruh Perang Lagi
TRIBUNNEWS.COM - Kebutuhan mendesak Rusia akan personel militer dalam kebutuhannya atas perang melawan Ukraina menghasilkan sejumlah cara 'unik' untuk mendapatkan tentara.
Selain 'impor', melalui masuknya sejumlah tentara asing bayaran, termasuk dari Korea Utara, Rusia juga 'mendaur ulang' personel militernya sendiri yang masuk melalui jalur wajib militer.
Daur ulang tentara ala Rusia ini terungkap dalam laporan investigasi Anastasia Tenisheva, jurnalis TMT, mengenai nasib tentara Rusia yang tertangkap Ukraina kemudian masuk dalam daftar pertukaran tahanan perang (prisoner of war/POW).
Baca juga: Baku Tembak, Agen Ukraina Tembak Mati Dua Agen FSB Rusia yang Bunuh Kolonel Intelijen SBU
Tulisan jurnalis tersebut berangkat dari kisah tentara Rusia Mikhail Surikov.
Surikov, dalam ulasan tersebut, dikatakan menandatangani kontrak dengan militer Rusia "karena kebodohan."
Dalam sebuah video yang direkam saat ia ditawan sebagai tawanan perang di Ukraina pada November 2023, ia mengatakan ia mendaftar karena "butuh uang."
"Mereka mengirim kami ke sini untuk mati," kata Surikov, mantan tukang kunci di sebuah perusahaan minyak, tentang tentara Rusia.
Tidak dapat dipastikan apakah komentarnya disampaikan di bawah tekanan.
Ketika ditanya setahun kemudian tentang apa yang akan terjadi padanya jika dia dibebaskan dalam pertukaran tahanan, Surikov mengatakan komandan Rusianya akan mengirimnya kembali ke medan perang.
"Surikov, 49, tampaknya telah ditukar dalam pertukaran tahanan antara Rusia dan Ukraina tahun lalu. Belakangan, dia diketahui tewas di garis depan," kata laporan itu.
Melanggar Aturan Konvensi Jenewa Soal POW
Seperti diketahui, Moskow dan Kiev telah mengintensifkan pertukaran tahanan sejak kedua pihak mengadakan perundingan damai di Istanbul pada bulan Mei dan Juni.
Rusia dan Ukraina sepakat untuk menukar lebih dari 1.000 prajurit yang terluka atau sakit serta tentara di bawah usia 25 tahun.
Bulan ini, kedua pihak mengadakan putaran pertukaran tahanan yang kedelapan.
"Pertukaran ini terjadi di tengah laporan kalau Moskow akan mengirim kembali mantan tawanan perang yang ditukar oleh Kiev balik ke medan tempur — sebuah tindakan yang melanggar Konvensi Jenewa tentang Tahanan Perang, yang menyatakan bahwa mantan tawanan tidak dapat dipekerjakan dalam dinas militer aktif," tulis ulasan tersebut.
Seperti halnya dalam kasus Surikov, sejumlah keluarga telah menerbitkan permohonan video yang meminta otoritas Rusia agar tidak mengirim kembali kerabat mereka yang sebelumnya ditawan ke garis depan setelah terjadi pertukaran.
"Saya ingin menyampaikan permohonan kepada Presiden Rusia Vladimir Vladimirovich Putin…untuk tidak mengembalikan mantan tawanan perang ke zona perang," ujar Marina Frolova, istri dari Alexei Frolov, yang telah ditahan sebagai tawanan perang di Ukraina selama lebih dari setahun.
"Anak-anak lelaki kami dan kami, keluarga mereka, telah melalui begitu banyak hal selama masa ini. Cukup. Kembalikan mereka ke rumah setelah pertukaran, bukan ke perang," kata Frolova dalam sebuah video yang beredar daring bulan lalu.
Kasus serupa telah dilaporkan sebelumnya.
Sebuah keluarga dari wilayah Zabaikalsky di Timur Jauh Rusia mengatakan kepada wartawan kalau kerabat mereka dikirim kembali ke dinas militer tepat setelah pertukaran tahanan.
Kirill Putinsev, 23 tahun, yang direkrut untuk bertempur pada tahun 2024 saat menjalani hukuman penjara karena pencurian, kembali ke Rusia setelah pertukaran pada bulan Mei 2025 — tetapi ia "bahkan tidak diizinkan pulang sehari pun" dan "bahkan ditolak rujukannya ke komisi medis militer," klaim saudara perempuannya, Yana.
Setelah mengalami gangguan saraf, Putinsev dikirim ke rumah sakit jiwa di Donetsk yang diduduki Rusia, kata saudara perempuannya.
Di wilayah Pskov, Vasily Grigoryev, 32 tahun, dan Dmitry Davydov, 45 tahun, direkrut ke Resimen Senapan Bermotor ke-1009 setelah mobilisasi Rusia pada September 2022.
Mereka kemudian dikirim untuk bertempur di Ukraina, di mana mereka menghabiskan lebih dari enam bulan di tahanan Ukraina.
Setelah dibebaskan dalam pertukaran tahanan 195 lawan 195, para komandan Rusia memindahkan mereka ke garis depan Kharkiv untuk mengevakuasi korban luka dan tewas.
Kedua pria itu akhirnya melarikan diri dari pangkalan militer mereka dan menumpang kendaraan ke Moskow, tempat mereka mencari bantuan hukum.
Alasan Rusia Kirim Balik POW ke Medan Perang
Menurut pengacara Maxim Grebenyuk, yang mewakili Grigoryev dan Davydov, Kementerian Pertahanan Rusia berpendapat kalau para prajurit tersebut tidak termasuk dalam kategori khusus tawanan perang yang menjadi sasaran pemulangan langsung.
Kategori-kategori ini, menurut Konvensi Jenewa, adalah mereka yang terluka atau sakit parah dan individu-individu yang kemampuan fisik atau mentalnya telah sangat berkurang.
Padahal, Pasal 117 Konvensi Jenewa tentang Perlakuan terhadap Tawanan Perang menyatakan bahwa “orang yang dipulangkan tidak boleh dipekerjakan dalam dinas militer aktif.”
Mustahil untuk memperkirakan berapa banyak mantan tawanan perang Rusia yang telah dikirim kembali ke garis depan atas perintah Moskow, karena daftar resmi mereka yang telah dipertukarkan dan mereka yang saat ini bertugas di tentara Rusia tidak tersedia untuk umum.
Tahun lalu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menandatangani undang-undang yang mengecualikan mantan tawanan perang dari mobilisasi.
Menurut kelompok Idite Lesom (“Tersesat”), yang membantu warga Rusia menghindari keterlibatan dalam perang, “puluhan” mantan tawanan perang yang dipaksa kembali ke garis depan setelah pertukaran menghubungi organisasi tersebut tahun lalu untuk meminta bantuan.
Sergei Krivenko, direktur kelompok Citizen. Army Rights, mengatakan kalau organisasinya juga telah menerima keluhan dari keluarga tawanan perang yang dikirim kembali ke garis depan setelah pertukaran, karena pihak berwenang Rusia terus memperlakukan mereka sebagai tentara aktif.
Laporan itu memberikan disclaimer kalau pihak Rusia belum memberikan pernyataan terkait daur ulang tentara yang dicurigai melanggar aturan konvensi Jenewa tersebut.
(oln/tmt/*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/DIPAKSA-KEMBALI-BERPERANG-Prajurit-Rusia-yang-dibebaskan-dari-penawanan-Ukraina.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.