Konflik Thailand Vs Kamboja
Warga Terjebak di Perbatasan Thailand–Kamboja, Tidur di Toko dan Gagal Pulang
Penutupan mendadak tujuh titik perbatasan Thailand–Kamboja membuat ratusan warga sipil terlantar. Ada yang tidur di toko
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penutupan tujuh titik perbatasan Thailand–Kamboja akibat eskalasi militer pada Kamis (24/7/2025) telah mengubah konflik bersenjata menjadi krisis kemanusiaan. Pemerintah Thailand menutup seluruh pintu perlintasan darat sebagai respons atas serangan roket BM-21 dari Kamboja yang menewaskan warga sipil di Distrik Kap Choeng, Provinsi Surin.
Kebijakan penutupan ini berdampak langsung pada ribuan warga sipil yang biasa melintasi perbatasan untuk bekerja, berdagang, atau mengunjungi keluarga.
Di Pos Perbatasan Chong Chom, puluhan warga Kamboja dilaporkan terjebak sejak pagi. Beberapa tidur di toko-toko kosong, sementara lainnya duduk di trotoar menunggu keputusan pemerintah.
“Saya tidak bisa pulang. Anak saya menunggu di rumah. Saya hanya ingin lewat, bukan ikut perang,” kata seorang ibu asal Banteay Meanchey kepada AFP.
Seorang pria lanjut usia mengaku gagal menghadiri pemakaman istrinya karena perbatasan ditutup.
“Saya sudah di sini sejak kemarin. Tidak ada tempat tidur, tidak ada makanan. Saya hanya ingin pulang,” ujarnya.
Baca juga: Perang Rusia-Ukraina Hari ke-1247: Diduga Selundupkan Mesin Drone ke Rusia, China Membantah
Di sisi Thailand, warga dari 86 desa di Provinsi Surin dan Sisaket telah dievakuasi ke tempat aman. Gubernur Surin, Sutthirot Charoenthanasak, menyebut lebih dari 40.000 warga terdampak langsung oleh konflik.
Militer Thailand mengklaim bahwa serangan udara mereka hanya menyasar target militer Kamboja.
Namun, Kementerian Kesehatan Thailand menyebut 12 orang tewas, termasuk satu anak dan satu tentara, akibat tembakan artileri Kamboja. Dua rumah sakit di Surin bahkan terpaksa mengevakuasi pasiennya karena terkena dampak serangan.
Kamboja membantah tuduhan agresi dan menyatakan bahwa pasukannya hanya merespons serangan tak beralasan dari Thailand.
Perdana Menteri Hun Manet menyebut negaranya lebih memilih penyelesaian damai, namun tidak punya pilihan selain membalas dengan kekuatan bersenjata.
Sementara itu, Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra menghadapi tekanan politik setelah rekaman panggilan teleponnya dengan mantan pemimpin Kamboja, Hun Sen, bocor ke publik.
Dalam rekaman itu, ia terdengar mengkritik militernya sendiri, memicu spekulasi pencopotan jabatan.
Kronologi Duduk Perkara Konflik Thailand–Kamboja
Konflik bersenjata yang pecah pada 24 Juli 2025 antara Thailand dan Kamboja bukanlah insiden tunggal, melainkan puncak dari sengketa perbatasan yang telah berlangsung lebih dari satu abad.
Ketegangan ini berakar dari peta kolonial Prancis tahun 1907 yang menetapkan batas wilayah secara tidak konsisten. Kuil Preah Vihear dan Ta Moan Thom menjadi titik sengketa paling sensitif karena diklaim oleh kedua negara.
Baca juga: Thailand dan Kamboja Memanas, Roket Phnom Penh Bunuh 4 Warga Sipil, Bangkok Usir Dubes
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/warga-Thailand-berlindung-di-bunker-usai-militer-Kamboja-serang-perbatasan-kedua-negara.jpg)