Rabu, 22 April 2026

Konflik Thailand Vs Kamboja

3 Hari Perang, Thailand-Kamboja Mulai Membahas Gencatan Senjata, Malaysia Jadi Penengah

Thailand dan Kamboja mulai membahas upaya gencatan senjata setelah terlibat bentrokan bersenjata di perbatasan yang menewaskan puluhan orang

Al Jazeera/Angkatan Darat Thailand
SERANGAN KAMBOJA - Asap terlihat di atas SPBU di Ban Phue, Thailand, pada hari Kamis, 24 Juli 2025, setelah Kamboja melancarkans serangan. Pasca terlibat bentrokan bersenjata di perbatasan yang menewaskan puluhan orang Pemerintah Thailand dan Kamboja mulai membahas upaya gencatan senjata yang ditengahi oleh Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, mediator konflik antar dua negara tetangga ini. 

TRIBUNNEWS.COM  - Setelah tiga hari bentrokan bersenjata di perbatasan yang menewaskan puluhan orang, Thailand dan Kamboja mulai membahas upaya gencatan senjata, Sabtu (26/7/2025).

Ketegangan Thailand dan Kamboja meningkat sejak tanggal 24 Juli 2025, dipicu oleh tewasnya seorang prajurit Kamboja saat menggelar patroli militer di zona tumpang tindih.

Saat itulah benih konflik berkembang cepat, sampai akhirnya perang pecah, mendorong militer Kamboja melakukan serangan balasan terbatas ke pos-pos militer Thailand sebagai bentuk peringatan.

Namun setelah perang memakan korban hingga puluhan orang, Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, yang bertindak sebagai Ketua ASEAN sekaligus mediator utama dalam konflik antar dua negara tetangga ini mulai menawarkan usulan gencatan senjata.

Dalam pernyataannya yang dikutip Malaysiakini, Anwar menjelaskan bahwa Thailand memberikan isyarat terkait persetujuan proposal gencatan senjata yang diajukan Malaysia.

Namun melalui pernyataan resmi di platform X, Kementerian Luar Negeri Thailand menekankan bahwa gencatan senjata harus didasarkan pada kondisi nyata di lapangan.

Thailand juga meminta waktu untuk melaksanakan gencatan senjata. Pasalnya, pasukan militer masing-masing sudah terlanjur dikerahkan ke area perbatasan.

"Kami siap, jika Kamboja ingin menyelesaikan masalah ini melalui jalur diplomatik, bilateral, atau bahkan melalui Malaysia, kami siap melakukannya. Namun sejauh ini kami belum menerima tanggapan apa pun," ujar Juru bicara Kementerian Luar Negeri Thailand Nikorndej Balankura, dilansir dari The Guardian.

Sementara itu Kamboja setuju dengan proposal “gencatan senjata segera tanpa syarat” dan menyerukan solusi damai melalui dialog diplomatik.

Perseteruan antara Thailand dan Kamboja sebenarnya sudah terjadi beberapa tahun terakhir akibat sengketa wilayah perbatasan, terutama di sekitar situs warisan budaya dunia, Kuil Preah Vihear dan kompleks kuil kuno lainnya seperti Ta Krabei dan Ta Muen Thom.

Kuil-kuil ini dibangun sebagai tempat pemujaan ratusan tahun lalu, namun setelah masa kolonial Inggris batas wilayah antara Thailand dan Kamboja menjadi kabur. 

Akibatnya, wilayah kuil dan sekitarnya menjadi abu-abu secara hukum dan geopolitik.

Meskipun Mahkamah Internasional telah menetapkan kepemilikan wilayah ini kepada Kamboja pada 1962 dan 2013 , ketegangan terus muncul karena Thailand menolak pengakuan penuh atas batas wilayahnya hingga berujung konflik berdarah.

Baca juga: Darurat Militer Diterapkan, Thailand Gelar Operasi Militer Balas Serangan Kamboja

Tak dirinci kapan gencatan senjata akan ditetapkan, namun PM Anwar menegaskan akan terus memantau implementasi kesepakatan demi mencegah konflik kembali pecah.

PBB Desak Thailand-Kamboja Damai

Sejalan dengan upaya PM Malaysia, organisasi perserikatan bangsa-bangsa (PBB) menggelar pertemuan darurat untuk membahas upaya agar Thailand dan Kamboja segera menekan kesepakatan gencatan senjata.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved