Jumat, 29 Agustus 2025

Konflik Palestina Vs Israel

Microsoft Minta Bantuan FBI Hentikan Demo Karyawan yang Minta Putus Hubungan dengan Israel

seorang direktur investigasi perusahaan Microsoft meminta FBI memberikan informasi intelijen mengenai rencana demonstrasi. 

tangkap layar/Guardian
DUKUNG PENGHANCURAN GAZA - Potret kehancuran Jalur Gaza dalam agresi militer Israel yang didukung perusahaan raksasa teknologi, Microsoft dalam desain The Guardian. 

Microsoft Minta Bantuan FBI Hentikan Demo Karyawan yang Minta Putus Hubungan dengan Israel

TRIBUNNEWS.COM - Raksasa teknologi, Microsoft, dilaporkan meminta bantuan FBI dalam memantau demonstrasi oleh karyawan mereka yang menuntut perusahaan memutuskan hubungannya dengan Israel.

Hal itu dilaporkan Bloomberg yang diterbitkan pada Selasa (26/8/2025) merujuk pada dokumen yang diperoleh media tersebut.

Dalam email yang dilihat Bloomberg , seorang direktur investigasi perusahaan meminta FBI memberikan informasi intelijen mengenai rencana demonstrasi. 

Baca juga: PBB Rilis 48 Perusahaan Global Terlibat Genosida di Gaza: Booking.com, Hyundai hingga Microsoft

Pejabat tersebut menyoroti mantan karyawan Hossam Nasr sebagai "cukup aktif dalam postingannya yang menargetkan Microsoft dan bahwa Microsoft terlibat dalam genosida,".

Pejabat Microsoft tersebut juga mencatat kalau perusahaan telah mengidentifikasi beberapa karyawan yang terkait dengan protes tersebut, termasuk salah satu anak mereka.

Kantor FBI di Seattle menyatakan, mereka menghormati hak untuk melakukan protes damai dan hanya menindak aktivitas kriminal atau ancaman terhadap keamanan nasional.

Biro keamanan federal Amerika Serikat (AS) tersebut menolak mengonfirmasi adanya interaksi dengan Microsoft.

Pekan lalu, 20 orang ditangkap di kantor pusat perusahaan di Redmond karena berdemonstrasi dan memblokir pintu masuk plaza.

Para pengunjuk rasa mendeklarasikan "zona bebas", mendirikan tenda, meneriakkan yel-yel, bergandengan tangan, menolak perintah polisi, dan mengajak rekan-rekan mereka untuk bergabung.

Presiden Microsoft, Brad Smith mengatakan perusahaan menyambut baik diskusi tetapi tidak akan menoleransi gangguan.

"Melakukan vandalisme dan perilaku destruktif jelas menunjukkan bahwa aspek masalah ini bukan lagi tentang dialog dengan karyawan. Ini masalah penegakan hukum, dan begitulah cara kami menanganinya," ujarnya kepada Bloomberg .

Microsoft memperkuat pendiriannya itu pada konferensi Build di Seattle, di mana area publik ditutup, keamanan ala bandara diberlakukan.

Karyawan yang menyela pidato pejabat eksekutif, termasuk salah satu pidato oleh Kepala Eksekutif Satya Nadella, dikeluarkan atau dipecat. 

Penyelenggara mengatakan sekitar 200 staf saat ini dan mantan staf masih terlibat hingga dapat melakukan protes berkala.

Smith mencatat, sebagian besar pengunjuk rasa bukanlah karyawan Microsoft, tidak seperti No Azure for Apartheid – kelompok pendemo terdiri dari staf saat ini dan mantan staf, yang menuduh perusahaan tersebut mengambil untung dari serangan Israel di Gaza dengan menjual perangkat lunak dan alat kecerdasan buatan kepada militer negara pendudukan tersebut.

"Ini adalah senjata teknologi. Cloud dan AI sama mematikannya dengan bom dan peluru," kata aktivis Vaniya Agrawal, yang mengundurkan diri awal tahun ini dan kemudian ditangkap saat demonstrasi.

Potret kehancuran Jalur Gaza dalam agresi militer Israel yang didukung perusahaan raksasa teknologi, Microsoft dalam desain The Guardian.
Potret kehancuran Jalur Gaza dalam agresi militer Israel yang didukung perusahaan raksasa teknologi, Microsoft dalam desain The Guardian. (tangkap layar/Guardian)

Bantu Intelijen Israel dalam Pengeboman Gaza

Tekanan tersebut memaksa Microsoft untuk membuka penyelidikan atas kontraknya dengan Israel.

Pada bulan Mei, Microsoft bersikeras bahwa mereka "tidak menemukan bukti" bahwa perangkat lunaknya telah digunakan untuk menargetkan warga Palestina.

Investigasi oleh  The Guardian , +972 Magazine , dan Local Call mengungkapkan bahwa Unit 8200 Militer Israel menyimpan jutaan  panggilan telepon Palestina yang disadap di server Azure milik Microsoft

Sumber Unit 8200 mengonfirmasi kalau intelijen yang diperoleh dari penyimpanan panggilan telah digunakan untuk meneliti dan mengidentifikasi target pengeboman di Gaza

Unit ini juga terlibat langsung dalam serangan teror pager skala besar terhadap Lebanon yang menewaskan 42 orang, termasuk dua anak-anak, dan melukai lebih dari 3.500 orang.

Perusahaan meluncurkan  tinjauan independen baru pada tanggal 15 Agustus, berjanji untuk merilis temuannya setelah selesai, meskipun para aktivis menolaknya sebagai taktik penundaan.

Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan