Donald Trump Pimpin Amerika Serikat
Maduro Tantang Trump: Bawa Ribuan Tentara, AS Tetap Tak Akan Bisa Taklukkan Venezuela
Presiden Venezuela tantang balik Donald Trump, sesumbar bahwa AS tidak akan mampu menginvasi negaranya meski Washington mengerahkan pasukan tempur
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Tiara Shelavie
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Venezuela Nicolas Maduro menegaskan bahwa Amerika Serikat (AS) tidak akan mampu menginvasi negaranya.
Kalimat tegas itu ia lontarkan di tengah meningkatnya ketegangan setelah Washington mengerahkan delapan kapal perang, satu kapal selam nuklir, dan lebih dari 4.500 tentara ke Karibia Selatan.
Dalam pidatonya di hadapan pasukan, Maduro menyatakan Venezuela siap mempertahankan kedaulatan di tengah tekanan Amerika Serikat.
Bahkan ia bersumpah bahwa Venezuela terus menjunjung integritas teritorialnya.
“Tidak mungkin mereka bisa memasuki Venezuela. Hari ini, kita lebih kuat dari kemarin. Hari ini, kita lebih siap untuk mempertahankan perdamaian, kedaulatan, dan integritas wilayah,” ujarnya, dikutip dari AFP, Jumat (29/8/2025).
Kalimat Maduro bukan sekadar ucapan emosional, melainkan strategi politik, militer, dan diplomatik yang sarat makna.
Di satu sisi, ia ingin menunjukkan keteguhan Venezuela mempertahankan kedaulatan, dan di sisi lain, pernyataan itu juga menjadi alat untuk menggalang dukungan rakyat serta simpati internasional.
Kronologi Perseteruan
Akar perseteruan ini sebenarnya sudah lama bersemi. Hubungan kedua negara memburuk sejak Washington menolak mengakui kemenangan Maduro dalam pemilu 2018 yang dianggap penuh kecurangan.
Amerika Serikat kemudian mendukung tokoh oposisi Juan Guaidó sebagai presiden interim, langkah yang memicu krisis politik berkepanjangan di Caracas, ibu kota Venezuela.
Baca juga: Maduro Marah, AS Kerahkan Kapal Perang & Ribuan Marinir Hadapi Kartel Narkoba ke Perairan Venezuela
Perseteruan kian memanas pada 2020 ketika Departemen Kehakiman AS menuding Maduro dan sejumlah pejabat tinggi terlibat dalam jaringan narkoba internasional bernama Cartel de los Soles.
Washington bahkan menawarkan hadiah hingga 50 juta dolar bagi siapa saja yang berhasil menangkap sang presiden.
Sejak itu, gesekan terus berlanjut. Sanksi ekonomi yang dijatuhkan AS memperparah kondisi Venezuela yang telah lama dilanda krisis.
Namun di tengah ketegangan ini, Pemerintah Maduro justru mempererat hubungan dengan Rusia, Tiongkok, dan Iran sebagai penyeimbang dominasi Amerika.
Titik panas terbaru terjadi pada 29 Agustus 2025, tepatnya ketika Amerika Serikat mengumumkan operasi militer besar-besaran di Karibia dengan alasan pemberantasan narkoba.
Caracas memandang langkah ini sebagai ancaman langsung terhadap kedaulatan negara.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.