Apakah Pembatasan Umur di Media Sosial Bisa Bantu Lindungi Anak?
Sejumlah negara ingin membatasi umur pemakaian platform media sosial seperti TikTok dan Instagram. Namun, apakah pembatasan seperti…
Saat ini, pemerintah di sejumlah negara berupaya membatasi akses anak di bawah umur ke media sosial.
Negara-negara tersebut antara lain Prancis, Selandia Baru, Norwegia, Indonesia, Malaysia, Slovenia, Spanyol, dan Inggris. Jerman juga tengah mempertimbangkan langkah serupa.
Australia menjadi negara pertama yang memberlakukan larangan media sosial bagi pengguna di bawah 16 tahun pada akhir 2025. Indonesia juga menetapkan batas usia pada akhir Maret.
Tujuan dari kebijakan ini adalah melindungi anak-anak. Hal ini tampak masuk akal, mengingat waktu layar (screen time) yang tinggi kerap memicu konflik dalam keluarga. Menurut studi 2025 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), setengah dari remaja berusia 15 tahun di negara-negara OECD menghabiskan setidaknya 30 jam per minggu menggunakan perangkat digital.
Meski begitu, pertanyaan tetap muncul: Apakah pembatasan usia benar-benar cara terbaik untuk mengatasi dampak negatif media sosial?
'Seruan batas usia mudah menarik perhatian'
Psikolog dan ahli saraf Christian Montag menilai perdebatan ini meleset dari pusat masalah. "Ketika teknologi baru muncul, kepanikan moral cepat mengikuti," ujar profesor ilmu kognitif dan otak di University of Macau itu. "Bukan berarti kekhawatiran para politisi tidak nyata, tetapi menyerukan pelarangan media sosial adalah cara cepat untuk menarik perhatian tanpa banyak usaha."
Peneliti pendidikan Nina Kolleck juga bersikap skeptis. Ia mengatakan pengalaman Australia menunjukkan bahwa mendorong batas usia tidaklah mudah. Namun, "kita belum menyelesaikan masalah mendasar media sosial, hanya menaikkan batas usia masuk sedikit."
Masalahnya dimulai dari algoritma personal yang berpotensi adiktif serta fitur seperti notifikasi dan sistem scroll tanpa henti atau infinite scrolling yang dirancang agar pengguna terus bertahan di platform.
Selain itu, pengguna juga dapat terpapar konten kekerasan atau seksual, kata Kolleck.
Meski media digital memberi ruang bagi anak dan remaja untuk belajar, bermain, dan berinteraksi, studi dari OECD menunjukkan penggunaan berlebihan dapat berdampak negatif, mulai dari gangguan tidur dan kurang aktivitas fisik hingga cyberbullying, isolasi sosial, dan depresi.
Montag menambahkan, sulit mengisolasi dampak media sosial secara pasti karena faktor lain seperti lingkungan dan genetika juga berperan. Namun, kaitan antara penggunaan berlebihan dengan penurunan prestasi akademik cukup jelas, begitu pula dengan meningkatnya gangguan citra tubuh (body image) di kalangan pengguna media sosial.
Orang dewasa pun kesulitan mengatur screen time
Christian Montag mengatakan anak-anak dan remaja sangat rentan terhadap dampak negatif media sosial.
"Otak manusia membutuhkan waktu lama untuk berkembang," ujarnya. "Kami memperkirakan korteks prefrontal baru sepenuhnya matang sekitar usia 20 tahun atau bahkan pertengahan 20-an."
"Artinya, anak di bawah umur lebih sulit mengontrol diri dan lebih susah melepaskan ponsel dibanding orang dewasa."
Walau begitu, orang dewasa juga cukup rentan. Banyak orang yang berusia di atas 20 tahun juga mengalami kesulitan serupa terkait penggunaan media sosial.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle76570559_403.jpg.jpg)