Apakah Pembatasan Umur di Media Sosial Bisa Bantu Lindungi Anak?
Sejumlah negara ingin membatasi umur pemakaian platform media sosial seperti TikTok dan Instagram. Namun, apakah pembatasan seperti…
Hal ini memunculkan pertanyaan: apakah larangan media sosial bagi anak di bawah 14 atau 16 tahun benar-benar efektif?
Para ahli menilai perdebatan perlu diperluas. Pembatasan usia hanyalah salah satu dari berbagai langkah yang diperlukan. Nina Kolleck menyebutnya sebagai "pseudo-debat yang mengalihkan perhatian dari solusi yang lebih efektif."
Banyak niat baik dalam Digital Services Act
Menurut Kolleck, banyak langkah efektif sebenarnya yang sudah diatur dalam Undang-Undang Digital (Digital Services Act/DSA) milik Uni Eropa. Aturan ini mewajibkan platform besar seperti TikTok dan Instagram untuk meningkatkan perlindungan pengguna, mengurangi risiko secara sistematis, serta lebih transparan soal algoritma.
DSA juga mewajibkan perusahaan memberikan akses data kepada peneliti independen agar bisa mengkaji dampak fitur terhadap pengguna. Namun, menurut Montag, akses ini masih jauh dari cukup.
"Selama bertahun-tahun kami seperti bekerja dengan tangan terikat, dan hingga kini aksesnya masih sangat terbatas," ujarnya.
Selain itu, efektivitas DSA juga belum sepenuhnya terbukti atau diterapkan secara merata. Presiden AS Donald Trump juga menjadi tantangan tersendiri, karena kerap membela perusahaan teknologi AS dari denda besar Uni Eropa dengan ancaman tarif balasan.
Pada akhirnya, aturan DSA pun hanya berlaku di negara-negara Uni Eropa.
Skema bisnis yang bermasalah
Mengurangi atau menyesuaikan fitur desain tertentu bagi pengguna di bawah umur bisa menjadi cara lain untuk menekan dampak negatif media sosial. Menurut Christian Montag, Douyin, versi TikTok di Cina memiliki versi khusus untuk anak di bawah 14 tahun yang hanya memungkinkan scrolling selama 40 menit. Setelah itu, tidak ada konten baru yang ditampilkan.
TikTok sendiri sudah memiliki batas waktu, tetapi mudah dimatikan. Anak di bawah 13 tahun secara teori membutuhkan kode dari orang tua untuk memperpanjang waktu penggunaan. Namun, ini sering tidak efektif karena pengguna bisa memasukkan tanggal lahir apa saja saat membuat akun.
Montag menilai, pada akhirnya platform perlu didesain secara berbeda secara mendasar, bukan hanya untuk anak-anak, tetapi juga orang dewasa. "Apakah skema bisnis berbasis data yang memata-matai pengguna dan memaksimalkan waktu online itu tidak sehat? Ya," ujarnya. "Saya tidak perlu menunggu studi ilmiah untuk melihat dampak psikologisnya."
Di luar perdebatan soal batas usia dan literasi digital, tekanan perlu diarahkan pada platform agar diatur lebih ketat. Montag menyarankan model alternatif, misalnya berbasis langganan, bukan data. "Jika platform tidak lagi dirancang untuk membuat orang terus terpaku pada layar, mungkin memang akan terasa lebih membosankan, tetapi lebih sehat."
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Cinta Zanidya
Editor: Melisa Lolindu
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle76570559_403.jpg.jpg)