Kamis, 30 April 2026
Deutsche Welle

Perang Iran: Siapa Penentu Arah Perundingan dengan AS?

Negosiasi antara AS dan Iran belum menemukan titik terang. DW melihat figur yang memegang kendali di Teheran.

Tayang:
Deutsche Welle
Perang Iran: Siapa Penentu Arah Perundingan dengan AS? 

Lahir pada 1961, ia bergabung dengan IRGC setelah revolusi. Selama Perang Iran-Irak, Ghalibaf menjadi komandan. Selanjutnya ia naik pangkat dalam struktur keamanan.

Sebagai ketua parlemen, ia memimpin negosiasi langsung pertama dengan Wakil Presiden AS JD Vance di Pakistan. Walau demikian, perundingan tersebut tak membuahkan hasil, kendati telah bernegosiasi selama 21 jam.

Belum jelas apakah ia akan terus menjalankan peran ini.

Pejabat Iran membantah adanya konflik internal dengan kelompok garis keras soal posisi dalam perundingan. Namun Ghalibaf disebut sempat memperingatkan Saeed Jalili, yang menurutnya "akan menghancurkan Iran."

Saeed Jalili: Tokoh garis keras

Pada 26 April lalu, Media AS Fox News melaporkan bahwa Saeed Jalili, seorang "garis keras ekstrem yang menghina Trump” berpotensi mengambil alih negosiasi nuklir. Belum ada konfirmasi resmi dari Iran.

Jalili (60) adalah salah satu tokoh garis keras paling menonjol dan menolak pendekatan dengan Barat. Ia ikut bertugas dalam Perang Iran-Irak dan kehilangan sebagian kaki kanannya.

Setelah perang, ia berkarier di Kementerian Luar Negeri Iran pada 1989. Ia kemudian bekerja di kantor pemimpin tertinggi dan menjabat sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (2007–2013). Di situ, ia sekaligus menjadi kepala negosiator nuklir.

Dalam peran tersebut, pria berusia 60 tahun ini berbicara dengan konfrontatif kepada Barat. Hal ini berkontribusi pada sanksi tambahan dari PBB terhadap Iran.

Setelah pernyataan Trump soal kepemimpinan Iran, Jalili secara terbuka mendukung pemerintah Iran.ran.

Ia dan pejabat lain menulis di media sosial: "Di ra,"Di tidak ada kaum garis In Iran, tidak ada kaum garis keras maupun moderat.”

Pesan itu dilanjutkan dengan "Kami adalah ‘orang Iran' dan ‘revolusioner'. Dengan persatuan rakyat dan pemerintah, kami, dengan kesetiaan penuh kepada Pemimpin Tertinggi Revolusi, akan memaksa agresor kriminal untuk bertobat.”

Mojtaba Khamenei: Pemimpin tertinggi

Mojtaba Khamenei lahir pada 1969 sebagai putra kedua Ali Khamenei. Setelah ayahnya tewas dalam serangan 28 Februari, Mojtaba ditunjuk sebagai penggantinya oleh Majelis Ahli.

Sejak menjadi pemimpin tertinggi pada 8 Maret 2026, para pendukungnya menunggu pernyataan publik darinya. Hingga kini, belum ada video atau rekaman suara resmi.

Banyak yang mempertanyakan apakah ia selamat dari sekitar 30 rudal yang dilayangkan ke kompleks tempat tinggal dan kantornya.

Menurut laporan The New York Times, ia disebut sedang menjalani perawatan atas luka serius di lokasi rahasia, tanpa komunikasi elektronik, dan diawasi oleh sejumlah kecil dokter tepercaya. Presiden Masoud Pezeshkian disebut terlibat dalam perawatannya sebagai ahli bedah jantung.

Presiden Masoud Pezeshkian

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved