Perang Iran: Siapa Penentu Arah Perundingan dengan AS?
Negosiasi antara AS dan Iran belum menemukan titik terang. DW melihat figur yang memegang kendali di Teheran.
Sejak menyetujui gencatan senjata pada 8 April, Amerika Serikat (AS) berupaya mengakhiri perang AS-Israeldengan Iran. Namun, negosiasi tersebut belum menemukan titik terang, walau sudah melalui perantara.
Putaran perundingan lain di Pakistan pekan lalu gagal terwujud. Amerika Serikat mengatakan telah mengirim utusan. Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi meninggalkan Islamabad sebelum mereka tiba.
Presiden AS Donald Trump mengeklaim pembicaraan dipersulit oleh situasi politik domestik Iran yang kacau.
"Iran sedang kesulitan untuk menentukan siapa pemimpin mereka,” tulisnya pada Kamis lalu di platform Truth Social. Trump mengatakan ada perebutan kekuasaan antara "para garis keras” dan "kaum moderat” yang menurutnya "tidak terlalu moderat sama sekali.”
Pada hari yang sama, CNN melaporkan bahwa militer AS merencanakan serangan terhadap sejumlah pemimpin militer Iran dan individu lain yang "merusak negosiasi” menurut AS.
Sebagian besar pimpinan politik dan militer tertinggi Iran telah tewas dalam serangan AS-Israel. DW merangkum sejumlah tokoh yang kemungkinan masih memegang kendali di Teheran.
Ahmad Vahidi: Komandan IRGC sejak Maret 2026
Sebagai panglima Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Ahmad Vahidi (68) menggantikan Mohammad Pakpour yang tewas dalam serangan awal perang pada 28 Februari. Saat itu, ia tewas bersama sejumlah petinggi IRGC saat pertemuan dengan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.
Vahidi bukan sosok baru di Iran maupun internasional. Sejak 2007, ia masuk daftar buronan Interpol. Ini berkaitan dengan dugaan keterlibatan pada pengeboman 1994 di pusat komunitas Yahudi AMIA, Buenos Aires, Argentina.
Penyelidik Argentina menganggap Vahidi sebagai salah satu dalang serangan yang menewaskan 85 orang dan melukai ratusan lainnya. Saat itu, Vahidi adalah komandan Pasukan Quds, unit elit IRGC yang bertugas untuk operasi luar negeri.
Vahidi bergabung dengan Garda Revolusi pada usia 20 tahun dan naik pangkat selama Perang Iran-Irak (1980–1988). Ia kemudian menjadi komandan Pasukan Quds hingga 1997.
Ia dikenal dekat dengan kelompok garis keras Iran. Vahidi menjabat sebagai menteri pertahanan di bawah Presiden Mahmoud Ahmadinejad (2009–2013) dan menjadi menteri dalam negeri di bawah Presiden Ebrahim Raisi (2021–2024).
Dalam gelombang protes "Woman, Life, Freedom" (2022) yang menewaskan Jina Mahsa, ia dianggap sebagai salah satu tokoh utama dalam penindasan demonstrasi. Tidak hanya itu, ia juga mendukung kuat kewajiban hijab bagi perempuan.
Menurut sumber Iran, Vahidi dekat dan memiliki akses langsung ke pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei.
Menurut Institute for the Study of War (ISW) dan Critical Threats Project (CTP), saat ini, Vahidi bisa menjadi pesaing lebih kuat dibanding Mohammad Bagher Ghalibaf dalam perebutan kekuasaan internal.
Mohammad Bagher Ghalibaf: Ketua parlemen
Mohammad Bagher Ghalibaf adalah salah satu politisi paling berpengaruh di Iran dan memiliki hubungan dekat dengan Garda Revolusi. Ia menjabat sebagai ketua parlemen sejak 2020.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle76962514_403.jpg.jpg)