Sudah Jenuhkah Kita dengan Trump?
Citra Amerika Serikat sudah cukup tercoreng. Banyak orang yang jengkel dengan berbagai kontroversi yang terus-menerus terjadi di masa…
Perlu dicatat: Survei-survei tersebut dilakukan sebelum peristiwa-peristiwa kontroversial terjadi seperti kekerasan yang dilakukan Badan Imigrasi ICE, ambisi Trump menguasai Greenland dan serangan AS terhadap Iran.
Banyak orang tua "tidak nyaman" mengirim anak belajar ke AS
Perjalanan ke AS juga menjadi jauh kurang populer, hal ini terlihat dari jumlah remaja Jerman yang ingin pergi ke luar negeri selama setengah atau satu tahun ajaran pada 2026/2027.
Thomas Terbeck, Direktur Eksekutif layanan konsultasi pendidikan "weltweiser", menekankan dalam wawancara dengan DW bahwa "AS masih menjadi tujuan nomor satu."
Meski belum ada angka yang pasti yang menunjukkan penurunan tersebut tahun ini, "Pada pertemuan industri pada bulan Märzi lalu, hampir semua dari sekitar 45 organisasi pertukaran pelajar yang hadir mengonfirmasi bahwa jumlah pendaftar berkurang.” Remaja-remaja tersebut memilih negara berbahasa Inggris lainnya, terutama Kanada, atau tetap tinggal di Jerman. “Banyak orang tua tidak lagi merasa nyaman dengan AS, terutama karena Trump.”
Pakar AS, Frank Mehring, meganggapi perkembangan tersebut, "Jika orang tidak lagi bepergian ke AS karena rasa takut, itu adalah masalah, karena rasa takut adalah musuh terbesar kebebasan dan demokrasi."
Ketakutan-ketakutan tersebut seringkali berlebihan dan tidak berdasar, karena banyak orang di AS masih sangat aktif dalam gerakan protes, berjuang untuk demokrasi, dan sangat mengikuti perkembangan informasi. "Memang ada perubahan yang sangat dramatis, banyak orang di sana baik masyarakat adat, kelompok etnis minoritas, hidup dalam kondisi yang berbahaya. Namun, kita tetap tidak boleh menjauh dan merasa bahwa AS sudah hancur.”
Setelah Bush, datanglah Barack Obama
Jadi, apakah benar orang-orang telah jenuh terhadap AS?
Tidak menurut Frank Mehring."AS memang memecah belah, tapi masih banyak orang yang peduli." Ia merujuk pada gerakan perdamaian yang memobilisasi jutaan orang Jerman dalam protes menentang penempatan rudal Pershing-II AS yang dilengkapi hulu ledak nuklir pada awal tahun 80-an.
"Saat itu, orang-orang turun ke jalan dengan mengekan jeans dan terinspirasi oleh lagu-lagu Bob Dylan serta Woodstock untuk menyuarakan penolakan mereka. Mereka menemukan bahasa yang tepat untuk mengkritik AS lewat keunikan budaya AS.” Menurutnya, daya tarik budaya Amerika tetap terjaga bahkan di tengah hujan kritik yang sangat keras.
Menurutnya, kelelahan yang terkait dengan Donald Trump dan fokus media terhadapnya bisa berubah lagi pada pemilihan presiden AS berikutnya.
"Di bawah George W. Bush, citra AS juga memburuk secara signifikan, lalu datanglah Barack Obama.”
Article ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Sorta Caroline
Editor: Ayu Purwaningsih
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle76791363_403.jpg.jpg)