Perombakan Program Demokrasi Jerman Picu Krisis Kepercayaan
Menteri Pendidikan Jerman Karin Prien mereformasi program “Demokratie leben!”. Rencana reformasi program itu memicu kemarahan banyak…
Organisasi kecil seperti miliknya sering kali tidak memiliki cadangan dana yang cukup untuk melewati masa transisi seperti ini. "Karena itu, perubahan mendadak berdampak lebih keras, bahkan mengancam keberlangsungan kami dibandingkan lembaga besar yang sudah mapan,” bebernya.
Karin Prien menyarankan untuk kembali mengajukan proposal
Menteri Pendidikan Prien menyarankan semua organisasi dan inisiatif untuk mencoba kembali: "Kami mengundang semua pihak yang selama ini terlibat dan merasa sejalan dengan tujuan program ini untuk mengajukan kembali permohonan," katanya di Bundestag.
Ia menambahkan: "Saya juga memandang ekstremisme sayap kanan sebagai ancaman terbesar bagi demokrasi kita." Namun demikian, tidak boleh menutup mata terhadap meningkatnya antisemitisme secara drastis, serta ekstremisme sayap kiri dan kebencian terhadap kelompok tertentu.
Perselisihan saat ini memiliki latar belakang
Anggota parlemen dari Partai Kiri, Clara Bünger, menganggap penataan ulang program "Demokratie leben!" sebagai skandal. Dalam debat di parlemen, ia menuduh Menteri Pendidikan Prien memberi label "kiri" pada nilai-nilai dasar demokrasi. Proyek-proyek yang selama ini didanai terbukti efektif dan justru karena itulah, menurutnya, mereka telah lama menjadi sasaran kritik. "Bukan hanya oleh Partai Alternatif bagi Jerman (AfD), tetapi juga semakin oleh kubu konservatif (CDU-CSU)."
Pernyataan itu merujuk pada sebuah pertanyaan parlementer dari kubu CDU-CSU. Pada Februari 2025, mereka meminta pemerintah saat itu di bawah Kanselir Olaf Scholz (SPD) untuk menjelaskan organisasi nonpemerintah (LSM) mana saja yang menerima dana dari program "Demokratie leben!".
Permintaan ini dipicu oleh gelombang protes massal di seluruh Jerman, setelah kubu konservatif di Bundestag bersama sebagian pihak dari partai sayap kanan Alternatif bagi Jerman-Alternative für Deutschland (AfD) mendorong kebijakan migrasi yang lebih ketat.
Fatma Celik dari jaringan pascamigran Neue Deutsche Organisationen (ndo) berharap, meskipun penuh ketidakpastian, proyek-proyeknya tetap bisa mendapat manfaat dari program "Demokratie leben!" di masa depan. "Kami berharap melalui aliansi solidaritas, intervensi publik, dan dialog politik, masih ada kemungkinan untuk perbaikan," tegasnya.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih
Editor: Yuniman Farid
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle77001075_403.jpg.jpg)