Rabu, 3 Juni 2026
Deutsche Welle

Bagaimana Komunitas Alevi Membumi di Jerman?

Dengan 800.000 orang anggota, umat Alevi merupakan kelompok agama terbesar keempat di Jerman. Terdesak oleh diskriminasi di Turki,…

Tayang:
Deutsche Welle
Bagaimana Komunitas Alevi Membumi di Jerman? 

Sekitar 13 persen dari populasi Muslim yang tinggal di Jerman adalah kaum Alevi. Awalnya, komunitas ini tinggal di pedesaan di Anatolia. Keyakinan dan ritual mereka diturunkan secara lisan. Namun, seiring dengan migrasi pedesaan yang dimulai pada tahun 1950-an di Turki, urbanisasi, dan migrasi ke Eropa, banyak komunitas desa Alevi yang bubar. Pengetahuan tentang keyakinan leluhur pun banyak yang hilang.

Alevisme berkembang sejak abad ke-13 dan saat ini merupakan komunitas agama terbesar kedua di Turki setelah Islam Sunni, yang kebanyakan dianut warga pribumi, Kurdi, dan anggota minoritas etnis lainnya seperti Zaza. Keyakinan Alevi berkembang dari perpaduan antara syamanisme Asia Tengah, gagasan Syiah, dan mistikisme Islam. Keyakinan ini tidak hanya berfokus pada Nabi Muhammad tetapi juga sepupu dan menantunya, Ali bin Abi Thalib, serta Syiah Dua Belas Imam, dan turut menekankan unsur etika dan mistiknya.

Umat Alevi menyelenggarakan upacara keagamaan mereka di tempat yang disebut Alevi Cemevi (Rumah Cem). Ajaran agama mereka berpusat pada nilai-nilai seperti humanisme, kesetaraan, dan toleransi, yang secara tradisional diturunkan secara lisan melalui perumpamaan, cerita, dan lagu di dalam komunitas.

Contohnya dalam ritualnya Upacara Cem, ibadah dapat dilakukan bersama oleh laki-laki dan perempuan, atau dalam Upacara Semah, di mana para jemaahnya berputar membentuk lingkaran diiringi alunan alat musik petik bersenar panjang. Alevi berbeda dari Islam Sunni, sehingga penganut aliran ini kerap menghadapi penganiayaan pada masa Kekaisaran Ottoman (1299 hingga 1922) dianggap sebagai aliran yang sesat.

Ketidakpercayaan terhadap Alevi dan diskriminasi terhadap mereka oleh mayoritas Sunni berlanjut hingga kini. Hal ini juga terjadi pada penganut Bektashi, salah satu tarekat Sufi yang dekat dengan tradisi Alevi terbesar dari Anatolia, secara filosofis Bektashi juga sangat menghormati Ali ibn Abi Talib. Dalam Pembantaian Dersim pada 1937-1938, tentara Turki membunuh puluhan ribu Alevi dan menghancurkan desa-desa mereka secara keseluruhan.

Titik balik dalam bangkitnya komunitas Alevi

Pembunuhan massal terhadap Alevi terjadi pada tahun 1990-an. Aksi pembakaran di Sivas yang terjadi di tahun 1993 menewaskan setidaknya 35 orang. Peristiwa ini lantas jadi titik balik bagi kelompok Alevi. Tidak hanya di Istanbul, tetapi juga di kota-kota Jerman seperti Hamburg, Köln, atau Berlin - tempat di mana pekerja migran asal Turki tinggal - bermunculan banyak perkumpulan diaspora yang tidak bersifat politis.

Saat ini terdapat sekitar 200 organisasi Alevi di Republik Federal Jerman. Sebagian besar dari mereka tergabung dalam organisasi payung yakni Komunitas Alevi Jerman (AABF - Almanya Alevi Birlikleri Federasyonu). AABF telah diakui berbadan hukum publik di Nordrhein-Westfalen dan Berlin. Contoh lainnya adalah Institut Budaya Alevi-Bektashi di Hausen-Wied, sebuah organisasi non-pemerintah yang mengadopsi pendekatan ilmu pengetahuan dan tradisi budaya.

Gülizar Cengiz, Ketua Institut dan anggota Ordo Bektashi mengatakan, "Motto kami adalah ungkapan dari mistikus Muslim Haji Bektash yang berkata ‘Ujung setiap jalan adalah kegelapan, kecuali jika itu adalah jalan ilmu'.” Sayangnya, selama berabad-abad, banyak pengetahuan tentang filosofi dan budaya keyakinan yang hilang, "Melalui perayaan dan pertemuan ritual kami, kami ingin menjawab hal ini,” jelas Cengiz.

Oleh karena itu, salah satu aspek yang sangat penting dari pekerjaan ini adalah pengelolaan arsip yang terus berkembang sejak pembukaan institut pada awal 2026. Arsip tersebut berisi manuskrip-manuskrip bersejarah serta rekaman video dan audio dari upacara keagamaan dan pertemuan-pertemuan.

Merawat dan mempromosikan kebudayaan Alevi

"Sebuah komunitas yang tidak memiliki sejarah dan kenangan akan masa lalu akan berisiko punah,” jelas Cengiz sambil menyoroti bahwa banyak Alevi telah membakar atau mengubur dokumen tulisan tangan seperti surat atau buku harian karena takut akan dimusuhi dan diserang.

Saat ini, kajian ilmiah mengenai Alevi mendapat sambutan yang hangat dan dukungan besar dari kalangan Alevi di Jerman. Hal ini diakui oleh Cem Kara, Profesor Teologi Alevi di Universitas Hamburg, "Ada kebutuhan yang besar akan pengetahuan ini. Di sinilah para ilmuwan berperan khusus,” katanya.

Institut Teologi Alevi yang didirikan Cem Kara pada tahun 2024 merupakan salah satu lembaga akademis pertama di dunia yang berfokus pada aliran ini. Institut ini mendidik para guru model khusus pendidikan agama lintas denominasi dan pendidikan keagamaan yang diselenggarakan di tempat lain. Diperkirakan tahun 2027, institut ini akan mendidik mahasiswa teologi.

Secara umum, Alevisme merupakan bidang pengetahuan yang belum cukup diteliti.

"Sejauh ini, penelitian yang ada sebagian besar bersifat sporadis, terutama dalam konteks sejarah Ottoman dan Turki,” kata Markus Dreßler, Profesor Penelitian Turki Modern di Institut Keagamaan Universitas Leipzig. Dreßler memimpin proyek jangka panjang yang berjalan sejak awal 2026 dan direncanakan berlangsung selama 24 tahun, Arsip Alevi: Etnohistori Komunitas Alevi di Anatolia, Abad ke-16 hingga 20.

"Kami berusaha mengumpulkan data dari berbagai sumber, menggabungkannya, dan menyajikannya secara terstruktur. Data tersebut mencakup catatan sejarah dari pencatatan Ottoman, naskah dan dokumen Alevi, budaya material seperti prasasti di makam dan batu nisan, serta data etnologis, yaitu yang termasuk dalam Sejarah Lisan,” jelasnya mengenai pendekatan metodologis proyek interdisiplinernya.

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved