Jumat, 15 Mei 2026

Royal Family

Sosok Pangeran Hisahito, Kemungkinan Menjadi Kaisar Terakhir Jepang

Pangeran Hisahito baru saja menggelar upacara kedewasaan pada usia 19 tahun, menjadi momen bersejarah kekaisaran Jepang yang krisis suksesi pria.

Tayang:
Kolase tangkap layar YouTube Nippon Television News Japan-English
KEKAISARAN JEPANG - Kolase tangkap layar YouTube Nippon Television News Japan-English 8 September 2025, memperlihatkan upacara kedewasaan Pangeran Hisahito yang digelar pada 6 September 2025. Pangeran Hisahito berada di urutan kedua tahta kekaisaran Jepang. 

Menjelang kunjungan kenegaraannya ke Inggris pada 25 Juni 2024, Naruhito menyoroti semakin sedikitnya pewaris laki-laki dalam keluarga kekaisaran.

Selain itu, perempuan keluarga kerajaan terpaksa kehilangan statusnya jika menikah dengan rakyat biasa.

“Karena faktor-faktor ini, jumlah anggota keluarga kekaisaran yang dapat mengemban tugas publik semakin berkurang dibandingkan sebelumnya,” ujar Naruhito, dikutip Channel News Asia.

Namun, konstitusi melarang kaisar memberikan pernyataan politik.

Artinya, meskipun komentarnya belum pernah terjadi sebelumnya, Naruhito tak bisa menyarankan solusi, termasuk membuka jalur suksesi bagi pewaris perempuan.

Perdebatan publik mengenai sistem suksesi khusus laki-laki kembali mencuat setelah penobatan Naruhito sebagai kaisar ke-126 pada 2019.

Ayahnya, Kaisar Akihito, turun takhta pada tahun yang sama karena alasan kesehatan, sebuah peristiwa pertama dalam lebih dari 200 tahun.

Karena konstitusi tidak mengatur jelas mengenai penobatan kaisar baru saat kaisar sebelumnya masih hidup, pemerintah Jepang saat itu mengesahkan undang-undang khusus yang mengizinkan transisi tersebut.

Kebijakan ini kemudian memicu kembali perdebatan tentang pembatasan pewaris takhta hanya untuk laki-laki.

Dukungan Publik untuk Perempuan Naik Takhta

Dukungan publik terhadap kemungkinan kaisar perempuan semakin menguat.

Jajak pendapat pada 2024 menunjukkan 90 persen masyarakat Jepang setuju untuk mengubah undang-undang agar perempuan dapat naik takhta.

Pada Oktober 2023, Perdana Menteri Jepang Kishida Fumio bahkan membentuk kelompok khusus untuk membahas isu ini.

Namun, faksi konservatif dalam Partai Demokrat Liberal menentangnya, berpendapat bahwa garis keturunan laki-laki “yang tak terputus” merupakan bagian dari tradisi kuno dan identitas Jepang.

Akibatnya, dari 18 anggota keluarga kekaisaran, 13 di antaranya adalah perempuan dan semuanya tidak memiliki akses ke takhta.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved