Kamis, 21 Mei 2026

Royal Family

Sosok Pangeran Hisahito, Kemungkinan Menjadi Kaisar Terakhir Jepang

Pangeran Hisahito baru saja menggelar upacara kedewasaan pada usia 19 tahun, menjadi momen bersejarah kekaisaran Jepang yang krisis suksesi pria.

Tayang:
Kolase tangkap layar YouTube Nippon Television News Japan-English
KEKAISARAN JEPANG - Kolase tangkap layar YouTube Nippon Television News Japan-English 8 September 2025, memperlihatkan upacara kedewasaan Pangeran Hisahito yang digelar pada 6 September 2025. Pangeran Hisahito berada di urutan kedua tahta kekaisaran Jepang. 

Saat ini, hanya ada tiga pewaris takhta Krisan yang masih hidup:

  1. Pangeran (Putra Mahkota) Akishino (adik laki-laki Kaisar Naruhito)
  2. Pangeran Hisahito (putra Akishino)
  3. Pangeran Masahito (adik mantan Kaisar Akihito, berusia 88 tahun)

Putri Aiko, anak tunggal Kaisar Naruhito, cukup populer di mata publik.

Namun, jika Putri Aiko nantinya menikahi seorang rakyat jelata, ia harus melepaskan gelar kerajaannya, sama seperti perempuan lain dalam keluarga kekaisaran

Menurut undang-undang saat ini pun, sekalipun ia tidak menikahi rakyat jelata, ia tetap tidak memiliki hak atas takhta.

Contohnya, Putri Nori kehilangan gelar dan statusnya setelah menikah dengan rakyat biasa pada 2005, begitu pula Putri Mako pada 2018.

Tradisi, Mitos, dan Masa Depan Kekaisaran

Dalam sejarah kuno, Jepang pernah menganut sistem yang cenderung matriarkal, di mana perempuan memegang peranan penting hingga reformasi Taika abad ke-7, yang memperkenalkan sistem sosial baru berbasis Dinasti Tang China.

Agama Shinto sendiri berpusat pada kepercayaan bahwa garis kekaisaran berasal dari Dewi Matahari Amaterasu, leluhur mitologis Kaisar Jimmu, kaisar pertama Jepang (660–585 SM).

Bukti sejarah menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan bukan hal langka di masa lalu.

Sosok terkenal seperti Ratu Himiko mempersatukan sebagian besar wilayah Jepang kuno dan memerintah lebih dari 30 negara bagian selama periode Yayoi (180–248 M).

Meski demikian, suksesi perempuan tetap jarang terjadi.

Permaisuri Genshō menjadi satu-satunya kaisar perempuan yang langsung menggantikan ibunya, Permaisuri Genmei.

Pada masa pemerintahan Perdana Menteri Junichiro Koizumi (2001–2006), pernah ada upaya serius untuk mengubah undang-undang suksesi agar perempuan bisa naik takhta.

Namun, wacana itu meredup setelah kelahiran Pangeran Hisahito pada 2006, yang dianggap “menyelamatkan” garis keturunan laki-laki.

Kini, meskipun kaisar tidak memiliki kekuasaan politik, keberadaan keluarga kekaisaran tetap menjadi simbol budaya yang menghubungkan Jepang modern dengan akar mitologisnya.

Namun, jika Takhta Krisan kehabisan penerus laki-laki, masa depan monarki Jepang bisa terancam dan perlahan hanya menjadi bagian dari legenda.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Sesuai Minatmu
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved