Trump Terapkan Tarif Timbal Balik
Tiongkok Melawan, Janji Serangan Balik Trump Buntut Tarif Tinggi ke Anggota NATO
Tiongkok ancam akan memberikan konsekuensi serius, siap serang balik AS jika Trump terus mendesak negara NATO mengenakan tarif tinggi ke Tiongkok.
TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Tiongkok menegaskan akan memberikan konsekuensi serius dan siap serang balik Amerika Serikat (AS) jika kepentingannya dirugikan.
Pernyataan itu, diungkap Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian menyusul pernyataan kontroversial Presiden AS, Donald Trump, yang meminta semua negara North Atlantic Treaty Organization (NATO) mengenakan tarif tinggi terhadap barang asal Tiongkok.
Donald Trump memberlakukan aturan bahwa seluruh negara NATO wajib mengenakan tarif 50–100 persen terhadap impor Tiongkok.
Tujuan utama Trump adalah mendorong Rusia ke meja perundingan dan mempercepat berakhirnya perang di Ukraina.
Ia meyakini bahwa pengaruh Tiongkok terhadap Rusia bisa mendorong Rusia ke meja perundingan dan mempercepat berakhirnya perang di Ukraina.
“Ini sangat melemahkan posisi negosiasi dan daya tawar terhadap Rusia. Saya siap melaju kapanpun kalian siap. Katakan saja kapan,” ujar Trump dalam surat ultimatum yang dipublikasikan melalui Truth Social, sebagaimana dikutip dari The Star, Selasa (16/9/2025).
"Seperti yang Anda ketahui, komitmen NATO untuk menang jauh di bawah 100 persen dan pembelian minyak Rusia, oleh beberapa negara (anggota NATO), sangat mengejutkan!" lanjutnya.
Strategi ini merupakan kombinasi antara tekanan ekonomi dan diplomasi multilateral yang diberlakukan sementara dan akan dicabut sepenuhnya begitu perang Rusia–Ukraina berakhir.
Tiongkok Murka
Sanksi itu membuat Tiongkok murka, pemerintah Negeri Tirai Bambu itu menilai tuntutan Trump bukan hanya tentang perdagangan, tetapi juga merupakan tekanan politik dan strategi untuk memaksa Tiongkok memengaruhi Rusia terkait perang di Ukraina.
Baca juga: Permintaan di Luar Nalar Trump, Eropa Disuruh Bulatkan Tarif Impor 100 Persen ke India dan Tiongkok
Selain itu, langkah Trump juga dianggap mencoba memanfaatkan hubungan Tiongkok–Rusia sebagai alat tekanan geopolitik, membuat Beijing merasa dipaksa terlibat dalam konflik yang bukan menjadi kepentingan langsungnya.
Meskipun dianggap sebagai mitra dekat dan berpengaruh bagi Moskow. Tiongkok tetap memegang posisi netral dalam perang Rusia–Ukraina, alasan tersebut yang mendorong Tiongkok ogah terlibat konflik lebih lanjut.
Ancaman Serius Menyusul Ultimatum Trump ke NATO
Sejauh ini Pemerintah Tiongkok belum mengungkap balasan apa yang akan diberikan AS.
Namun, ancaman ini menjadi isyarat bahwa Beijing siap merespons setiap langkah yang dianggap merugikan kepentingan nasionalnya.
Analis menilai Tiongkok kemungkinan akan mengambil tindakan ekonomi dan diplomatik yang tegas dan tetap berhati-hati.
Di tingkat ekonomi, Beijing bisa memberlakukan tarif balasan terhadap produk impor dari negara-negara NATO, atau membatasi akses perusahaan-perusahaan asing ke pasar domestiknya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Donald-Trump-dan-Xi-Jinping.jpg)