Sabtu, 2 Mei 2026

Penentuan PM Jepang Baru 21 Oktober 2025, LDP Berusaha Pecah Belah Oposisi

Jika Takaichi terpilih, pembahasan RUU anggaran tambahan dan RUU utama tahun fiskal berikutnya diprediksi akan berjalan sulit

Tayang:
Editor: Eko Sutriyanto
Richard Susilo
CALON PM JEPANG - Sanae Takaichi (64) saat mau memberikan suaranya di pemilu partai liberal demokrat 4 Oktober 2025. Pemilihan Perdana Menteri (PM) Jepang yang baru dipastikan akan digelar pada 21 Oktober 2025, mundur dari jadwal semula yang direncanakan pada 15 Oktober. Partai Demokrat Liberal (LDP) berupaya keras memenangkan Sanae Takaichi (64) sebagai PM baru, dengan strategi memecah kekuatan partai oposisi. 

Gabungan tiga partai—LDP, Restorasi, dan Demokratik Rakyat—memiliki total sekitar 210 kursi di parlemen Jepang.

Namun, jika seluruh partai oposisi bersatu, mereka berpotensi menang dalam pemungutan suara putaran kedua karena sistem mayoritas sederhana yang diterapkan.

Partai Komeito, yang memiliki 24 kursi, kini cenderung memberikan dukungan implisit kepada kandidat oposisi.

Meski demikian, pihak pemerintah menilai satu-satunya jalan keluar adalah menarik kembali dukungan dari Partai Restorasi, yang selama ini merasa diuntungkan melalui kerja sama dengan partai berkuasa terutama sejak sukses penyelenggaraan Osaka–Kansai Expo.

Sekretaris Jenderal LDP Shunichi Suzuki bahkan telah bertemu dengan Sekretaris Jenderal Katsuya Haruba dari Partai Demokratik Rakyat.

Keduanya menegaskan telah menyetujui kebijakan dasar meski masih ada celah dalam pandangan politik.

Eksekutif LDP menilai kecil kemungkinan Demokratik Rakyat akan bersatu dengan oposisi untuk mendukung Perdana Menteri Tamaki—calon dari kubu oposisi. Namun, jika Demokratik Rakyat tetap memilih Tamaki dan Komeito bergabung, muncul potensi “Pemerintahan Tamaki” baru.

Baca juga: WNI Ilegal Ditangkap di Prefektur Mie Jepang, Diduga Masuki Rumah Secara Ilegal

Ketegangan Politik Jelang Pemilihan

Untuk menghindari skenario tersebut, LDP menggelar pertemuan gabungan anggota kedua majelis pada 14 Oktober.

Salah satu opsi yang mengemuka adalah menunda pengunduran diri kabinet saat ini dan melanjutkan pemerintahan di bawah Perdana Menteri Shigeru Ishiba guna menangani isu mendesak seperti penghapusan tarif pajak bensin sementara.

Namun, kondisi politik yang terus berlarut dengan PM lame duck (beben lumpuh) justru dinilai dapat memperburuk kepercayaan publik terhadap LDP.

“Saya akan melakukan semua yang bisa saya lakukan sampai detik terakhir pemilihan. Saya yakin akan menjadi perdana menteri yang mampu menyelesaikan tugas dengan baik,” ujar Sanae Takaichi kepada wartawan, Selasa (14/10/2025) malam.

Tantangan Setelah Pemilihan

Jika Takaichi terpilih, pembahasan RUU anggaran tambahan dan RUU utama tahun fiskal berikutnya diprediksi akan berjalan sulit.

“Dengan keluarnya Komeito dari koalisi, jumlah kursi pendukung pemerintah menurun drastis tanpa adanya pemilu baru. Anggota tingkat menengah LDP pasti akan menghadapi tekanan berat dalam pembahasan RUU di Diet,” ujar seorang pengamat politik di Tokyo.

 Diskusi mengenai dinamika politik Jepang juga dibahas oleh komunitas Pencinta Jepang. Bagi yang ingin bergabung, dapat mengirimkan nama, alamat, dan nomor WhatsApp ke tkyjepang@gmail.com.

 
Apakah Anda ingin saya bantu lanjutkan dengan versi SEO-friendly (misalnya menambahkan subjudul dan kalimat kunci seperti “pemilihan perdana menteri Jepang 2025” atau “Sanae Takaichi calon PM Jepang”)?

Diskusi politik Jepang juga dilakukan kelompok Pencinta Jepang. Gabung gratis kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email tkyjepang@gmail.com

.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved