Senin, 13 April 2026

Konflik Palestina Vs Israel

Araghchi: Trump Tidak Bisa Disebut Presiden Perdamaian Jika Terus Memprovokasi Perang

Menlu Iran, Abbas Araghchi, menuduh Presiden AS Donald Trump memprovokasi perang di Asia Barat sembari mengklaim sebagai pembawa perdamaian.

Penulis: Tiara Shelavie
Instagram Abbas Araghchi/@araghchi
MENLU IRAN - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi saat upacara peringatan untuk mengenang Saba Babaei (Kuniko Yamamura), ibu dari martir Mohammad Babaei di Taman Kota Teheran, Rabu, 12 Juli 2022. Abbas Araghchi, menuduh Presiden AS Donald Trump memprovokasi perang di Asia Barat sembari mengklaim sebagai pembawa perdamaian. 

Ringkasan Berita:
  • Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menuduh Presiden AS Donald Trump memprovokasi perang di Asia Barat sembari mengklaim sebagai pembawa perdamaian.
  • Araghchi membantah pernyataan Trump bahwa Iran hampir mengembangkan senjata nuklir sebelum agresi AS–Israel.
  • Araghchi menegaskan Iran tetap terbuka untuk dialog diplomatik yang saling menghormati, namun menolak segala bentuk ancaman dan pemaksaan.
 

TRIBUNNEWS.COM – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengecam Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas kebijakan yang dinilainya memprovokasi perang di kawasan Asia Barat.

Menurut Araghchi, Trump tidak dapat mengklaim dirinya sebagai pembawa perdamaian di kawasan tersebut, sementara pada saat yang sama menjalankan kebijakan agresif dan bersekutu dengan pihak-pihak yang disebutnya sebagai penjahat perang.

Mengutip PressTV, dalam unggahan di platform X pada Selasa (14/10/2025), Araghchi menyebut klaim Trump bahwa Iran hampir mengembangkan senjata nuklir sebelum agresi AS-Israel terhadap fasilitas nuklirnya, sebagai kebohongan besar.

Ia menuduh kelompok berkepentingan pro-Israel telah memberi informasi palsu kepada Amerika Serikat.

“Sudah sangat jelas bahwa Presiden AS telah disesatkan dengan informasi palsu, seolah-olah program nuklir damai Iran berada di ambang persenjataan musim semi ini,” kata Araghchi.

“Itu hanyalah KEBOHONGAN BESAR, dan seharusnya dia sudah diberitahu bahwa tidak ada bukti sama sekali, sebagaimana dikonfirmasi oleh komunitas intelijennya sendiri.”

Araghchi juga mengecam keterlibatan langsung Amerika Serikat dalam serangan udara terhadap kota-kota Iran pada awal tahun ini, yang menewaskan lebih dari 1.000 warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.

“Bagaimana mungkin bangsa Iran dapat diminta mempercayai tawaran perdamaian yang datang dari tangan yang sama yang membombardir rumah dan kantor di seluruh Iran hanya empat bulan lalu?” katanya.

IRAN PILIH KEMANDIRIAN - Menlu Iran Abbas Araghchi dalam wawancara yang diterbitkan Sky News pada 28 Januari 2025, membahas potensi serangan terhadap fasilitas nuklir Iran. Dalam sebuah opini, Araghchi mengatakan bahwa perselisihan antara Trump dan Zelensky merupakan keretakan besar dalam tatanan global.
IRAN VS AMERIKA - Menlu Iran Abbas Araghchi dalam wawancara yang diterbitkan Sky News pada 28 Januari 2025, membahas potensi serangan terhadap fasilitas nuklir Iran. Menlu Iran, Abbas Araghchi, menuduh Presiden AS Donald Trump memprovokasi perang di Asia Barat sembari mengklaim sebagai pembawa perdamaian. (Tangkap layar video Sky News)

Ia menegaskan bahwa seseorang tidak dapat disebut Presiden Perdamaian jika pada saat yang sama memprovokasi perang tanpa akhir dan bersekutu dengan para penjahat perang.

Menurut Araghchi, Trump hanya bisa menjadi Presiden Perdamaian atau Presiden Perang, dan tidak mungkin menjadi keduanya sekaligus.

Menteri luar negeri Iran itu juga menyinggung citra Trump sebagai pembawa damai, serta pernyataannya yang berjanji akan menciptakan perdamaian abadi di kawasan Timur Tengah bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Lebih lanjut, Araghchi menegaskan bahwa Iran tetap terbuka untuk keterlibatan diplomatik yang saling menghormati dan saling menguntungkan, namun menolak segala bentuk ancaman dan paksaan.

Baca juga: Araghchi: Iran Siap Lanjutkan Negosiasi, tapi Amerika Harus Ubah Perilakunya Dulu

“Sebagai pewaris peradaban kuno yang kaya, rakyat Iran selalu membalas niat baik dengan niat baik. Namun kami juga tahu persis bagaimana menghadapi ketidakadilan dan pemaksaan — seperti yang telah dirasakan para penghasut perang di Tel Aviv dengan cara yang sulit,” ujarnya, mengacu pada pembalasan Iran terhadap Israel selama agresi 12 hari pada Juni lalu.

Araghchi juga menyatakan bahwa dalam satu hal, ia sepakat dengan Trump: Iran tidak boleh dijadikan kambing hitam dalam proses normalisasi hubungan Arab-Israel.

“Dia benar ketika mengatakan bahwa Iran tidak boleh dijadikan alasan untuk normalisasi hubungan dengan Israel,” katanya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved