Rabu, 6 Mei 2026

Konflik Palestina Vs Israel

Araghchi: Trump Tidak Bisa Disebut Presiden Perdamaian Jika Terus Memprovokasi Perang

Menlu Iran, Abbas Araghchi, menuduh Presiden AS Donald Trump memprovokasi perang di Asia Barat sembari mengklaim sebagai pembawa perdamaian.

Tayang:
Penulis: Tiara Shelavie
Instagram Abbas Araghchi/@araghchi
MENLU IRAN - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi saat upacara peringatan untuk mengenang Saba Babaei (Kuniko Yamamura), ibu dari martir Mohammad Babaei di Taman Kota Teheran, Rabu, 12 Juli 2022. Abbas Araghchi, menuduh Presiden AS Donald Trump memprovokasi perang di Asia Barat sembari mengklaim sebagai pembawa perdamaian. 

“Jika ada pihak yang ingin mengkhianati Palestina sambil merangkul entitas genosida yang berupaya menghancurkan kawasan, mereka seharusnya berani menanggung konsekuensinya di hadapan rakyat mereka, tanpa menyalahkan pihak lain.”

Penjelasan Konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel

Mengutip Global Conflict Tracker, pecahnya perang antara Israel, sekutu dekat Amerika Serikat dan kelompok militan Palestina, Hamas, yang didukung Iran pada Oktober 2023, telah meningkatkan ketegangan antara Iran dan Israel.

Pasukan proksi yang didukung Iran meningkatkan serangan sebagai bentuk protes terhadap operasi militer Israel di Jalur Gaza, termasuk lebih dari 200 serangan terhadap target Amerika Serikat dan Israel di Irak serta Suriah.

Sebagai tanggapan, Amerika Serikat memerintahkan serangan udara terhadap dua fasilitas yang didukung Iran pada 26 Oktober 2023, dan terhadap 85 target lain yang berafiliasi dengan Iran di kedua negara tersebut pada 2 Februari 2024.

Kelompok Houthi di Yaman dan Hizbullah di Lebanon (keduanya merupakan bagian dari poros perlawanan Iran) juga melancarkan serangan dari Laut Merah dan perbatasan utara Israel, yang memicu kekhawatiran akan potensi perluasan konflik di kawasan.

Pada 2024, konfrontasi antara Israel dan Iran bergeser dari perang proksi menjadi pertempuran langsung.

Pada 1 April 2024, serangan udara yang diduga dilakukan oleh Israel terhadap gedung konsulat Iran di Damaskus, Suriah, menewaskan dua jenderal dan lima penasihat militer Iran.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan lebih dari tiga ratus pesawat nirawak dan rudal, yang menjadi serangan langsung pertamanya terhadap Israel.

Menanggapi pembunuhan para pemimpin Hamas dan Hizbullah oleh Israel, Iran kembali meluncurkan 180 rudal balistik ke arah Israel pada Oktober 2024.

Israel kemudian membalas dengan serangan langsung terbesarnya terhadap Iran, menargetkan sistem pertahanan udara dan fasilitas produksi rudal.

Penghancuran kepemimpinan Hamas dan Hizbullah oleh Israel, ditambah dengan jatuhnya rezim Bashar al-Assad di Suriah, secara signifikan melemahkan poros perlawanan Iran pada tahun yang sama.

Baca juga: Putin Telepon Netanyahu, Bicara soal Rencana Trump di Gaza dan Nuklir Iran

Kembalinya Trump, Tekanan Terhadap Program Nuklir Iran

Setelah kembali menjabat pada 2025, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memulihkan kampanye tekanan maksimum terhadap Iran, sambil membuka negosiasi terkait program nuklir Iran.

Perundingan tahun ini merupakan dialog langsung pertama AS–Iran sejak Trump menarik Amerika Serikat dari Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) pada 2018.

Israel dengan tegas menentang negosiasi tersebut dan tetap berkomitmen untuk membongkar program nuklir Iran.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved