Sabtu, 2 Mei 2026

Konflik Palestina Vs Israel

Israel Terima 2 Jasad Sandera dari Hamas, Sedang Diidentifikasi di Tel Aviv

Israel telah menerima 2 jasad sandera dari Hamas dan diidentifikasi di Tel Aviv pada hari Sabtu. Sementara, 135 jasad Palestina telah diserahkan.

Tayang:
Telegram Brigade Al-Qassam
PEMBEBASAN SANDERA - Foto ini diambil dari publikasi Telegram Brigade Al-Qassam (sayap militer gerakan Hamas) pada Kamis (20/2/2025), memperlihatkan anggota Brigade Al-Qassam membawa salah satu peti mati dari empat jenazah sandera Israel; Kfir Bibas (9 bulan), Ariel Bibas (4), ibu mereka bernama Shiri Bibas (32) dan Oded Lifshitz (83), dalam pertukaran tahanan gelombang ke-7 di Jalur Gaza pada Kamis. Pada 18 Oktober 2025, Hamas menyerahkan dua jenazah sandera Israel. 
Ringkasan Berita:
  • Hamas menyerahkan dua jenazah sandera Israel kepada Palang Merah Internasional pada Sabtu dan telah tiba di Israel untuk diidentifikasi.
  • Jika dua jenazah tersebut dikonfirmasi sebagai sandera maka masih ada 16 jenazah sandera yang tersisa di Jalur Gaza.
  • Israel telah menyerahkan 135 jenazah warga Palestina, beberapa di antaranya dalam kondisi yang mengenaskan.

TRIBUNNEWS.COM - Israel menerima dua peti mati sandera yang diserahkan oleh Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) dari Jalur Gaza pada Sabtu (18/10/2025) malam.

Dua jenazah tersebut berada di Israel dan sedang dibawa ke Institut Kedokteran Forensik Nasional untuk diidentifikasi.

Hamas kini telah menyerahkan 12 dari 28 jenazah sandera yang tewas di Jalur Gaza, dua di antaranya dikonfirmasi bukan milik sandera.

Hamas mengatakan kendali militer Israel dan kehancuran di Jalur Gaza membuat mereka sulit untuk mengevakuasi jenazah sandera yang tertimbun reruntuhan.

Penyerahan jenazah tersebut merupakan bagian dari kesepakatan pertukaran tahanan yang disepakati oleh Israel dan Hamas mulai 10 Oktober lalu.

Hamas membebaskan 20 sandera yang masih hidup pada 13 Oktober dan Israel membebaskan ribuan orang-orang Palestina dari penjaranya.

Setidaknya, ada 12 jenazah yang diserahkan oleh Hamas dan Israel merilis nama-nama sandera yang jenazahnya telah diidentifikasi.

Jenazah sandera yang telah diidentifikasi yaitu Bipin Joshi, Guy Illouz, Yossi Sharabi, Daniel Peretz, Tamir Nimrodi, Uriel Baruch, Eitan Levi, Inbar Hayman, Muhammad al-Atarash, dan Eliyahu "Churchill" Margalit, lapor The Times of Israel.

Total masih ada 18 jenazah sandera yang belum diserahkan oleh Hamas dan jika dua jenazah yang diserahkan pada hari Sabtu merupakan jenazah sandera maka jumlah sandera yang tersisa yaitu 16.

Sementara itu, Israel juga menyerahkan jenazah warga Palestina tanpa nama dan hanya menulis nomor.

Total sudah ada 135 jenazah yang diserahkan Israel per hari Sabtu kemarin.

Baca juga: Hamas Belum Mau Penuhi Isu Pelucutan Senjata, Israel: Kami Sudah Berkomitmen Seharusnya Mereka juga

Banyak dari jenazah-jenazah itu menunjukkan tanda penyiksaan, organ yang hilang, anggota tubuh yang diamputasi, hingga luka bakar.

"Seperti mereka yang telah mengambil tawanan mereka, kami juga menginginkan tawanan kami. Kembalikan anakku, kembalikan semua anak kami," kata Iman Sakani sambil menangis, yang putranya hilang selama perang. 

Ia berada di antara puluhan keluarga yang cemas menunggu di Rumah Sakit Nasser, lapor AP News.

Netanyahu: Israel Tetap Menutup Perlintasan Rafah

Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan perlintasan perbatasan Rafah antara Gaza dan Mesir untuk tetap ditutup sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Ia mengatakan pembukaan kembali perlintasan Rafah akan dipertimbangkan berdasarkan pengembalian jenazah sandera terakhir dan penerapan perjanjian gencatan senjata.

Sementara Hamas mengatakan Netanyahu menggunakan dalih lemah untuk mengganggu kesepakatan gencatan senjata.

Militer Israel menekankan Hamas harus mematuhi perjanjian dan menyerahkan semua sandera.

Israel menuduh Hamas melanggar perjanjian karena terlambat mengembalikan jenazah sandera, sementara Amerika Serikat (AS) menganggap itu bukan pelanggaran dan yakin Hamas sedang mencari semua jenazah sandera.

Jumlah Korban Jiwa di Jalur Gaza

Sejak Oktober 2023, serangan Israel dalam perang genosida di Jalur Gaza telah menewaskan 68.116 warga sipil Palestina dan melukai 170.200 lainnya, menurut data Kementerian Kesehatan Palestina per 18 Oktober 2025.

Israel menyalahkan Hamas atas kematian dan kehancuran di Jalur Gaza, menganggapnya sebagai balasan atas Operasi Banjir Al-Aqsa yang diluncurkan Hamas dan faksi-faksi sekutunya pada 7 Oktober 2023.

Hamas dan faksi lainnya menangkap 250 orang setelah membobol pertahanan Israel di perbatasan selatan pada 7 Oktober 2023, menyebut operasinya sebagai perlawanan terhadap pendudukan Israel di Palestina sejak tahun 1948.

Sekutu Israel, Presiden AS Donald Trump mengajukan proposal gencatan senjata untuk Israel dan Hamas yang ditengahi oleh mediator Qatar dan Mesir dengan partisipasi AS dan Turki.

Hamas dan Israel pihak sepakat dan gencata senjata dimulai pada Jumat, 10 Oktober 2025, namun kesepakatan tersebut rapuh karena kedua pihak saling tuduh melanggar perjanjian.

Kantor Media Pemerintah Gaza mengatakan tentara Israel melakukan 47 pelanggaran perjanjian gencatan senjata sejak mulai berlaku pada 10 Oktober, menewaskan 38 warga Palestina dan melukai 143 lainnya.

Pada Sabtu, serangan Israel yang menewaskan 11 anggota keluarga di sebelah timur Kota Gaza, termasuk tujuh anak-anak pada Sabtu (18/10/2025), lapor Al Jazeera.

Di hari yang sama, juru bicara Hamas di Gaza, Hazem Qassem, mengatakan kelompok Palestina itu tidak ingin bergabung dengan peran administratif apa pun dalam pemerintahan di Jalur Gaza.

Ia mengatakan Hamas setuju untuk membentuk komite dukungan masyarakat untuk mengambil alih pemerintahan Gaza.

"Kami menyerukan pembentukan Komite Dukungan Masyarakat segera hingga terbentuknya Komite Manajemen Gaza. Badan-badan pemerintah di Gaza terus menjalankan tugasnya, karena kekosongan ini sangat berbahaya," ujar Qassem.

"Lembaga-lembaga pemerintah akan terus menjalankan tugasnya hingga komite administratif dibentuk dan disetujui oleh semua faksi Palestina. Diskusi sedang berlangsung dengan para mediator untuk mengatur negosiasi tahap kedua," tambahnya.

Ia mengatakan tahap kedua dari kesepakatan gencatan senjata itu rumit dan langkah-langkah telah dimulai untuk membentuk konsensus nasional atas poin-poin penting.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved