Minggu, 12 April 2026

Konflik Palestina Vs Israel

Masjid Al-Aqsa Dibuka Kembali setelah 40 Hari Ditutup Israel, Isu Status Quo Menguat

Al-Aqsa dibuka usai 40 hari ditutup Israel, ribuan jemaah kembali, namun serangan pemukim picu kekhawatiran status quo.

Ringkasan Berita:
  • Masjid Al-Aqsa kembali dibuka setelah penutupan 40 hari di tengah perang Iran.
  • Ribuan jemaah Palestina langsung memadati kompleks untuk beribadah.
  • Namun, serangan pemukim dan isu pelanggaran status quo kian menguat.

TRIBUNNEWS.COM - Masjid Al-Aqsa dibuka kembali pada Kamis (9/4/2026) setelah ditutup lebih dari 40 hari sejak pecahnya perang Amerika Serikat (AS)-Israel di Iran.

Sekitar 3.000 jemaah Palestina melaksanakan salat subuh untuk pertama kalinya sejak penutupan total diberlakukan.

Al Jazeera melaporkan pembukaan ini disambut antusias warga, dengan rekaman menunjukkan jemaah berbondong-bondong memasuki kompleks sejak fajar.

Kritik Menguat, Status Quo Disorot

Penutupan yang berlangsung selama Ramadan dan Idul Fitri memicu kritik luas dari berbagai pihak.

Middle East Eye melaporkan kebijakan tersebut dinilai melanggar kesepakatan “status quo” yang mengatur pengelolaan Al-Aqsa oleh otoritas Islam.

Status quo itu selama ini menjadi dasar pengaturan ibadah dan akses di kompleks masjid, namun dinilai terus tergerus oleh kebijakan sepihak.

Baca juga: Masuk Kompleks Al-Aqsa, Menteri Israel Dikecam Arab Saudi hingga Yordania

Serangan Pemukim Berlanjut

Pasca pembukaan, kelompok pemukim Israel kembali memasuki kompleks dengan pengamanan ketat aparat.

Durasi kunjungan diperpanjang hingga lebih dari enam jam per hari, meningkat dibandingkan sebelum perang.

Pemerintah Provinsi Yerusalem memperingatkan, “Perpanjangan ini mencerminkan percepatan upaya untuk memaksakan realitas baru di Masjid Al-Aqsa dan memperkuat pembagian berdasarkan waktu.”

Upaya Ritual Picu Ketegangan

Al Jazeera melaporkan sedikitnya tujuh upaya penyelundupan hewan kurban oleh pemukim selama perayaan Paskah Yahudi, tertinggi sejak 1967.

Analis politik Suhail Khalilieh menilai langkah tersebut bukan sekadar ritual keagamaan.

“Ini adalah alat politik, kolonial, dan provokatif,” ujarnya, seraya menilai praktik tersebut sebagai upaya mengubah realitas di lapangan.

Ia juga menambahkan, “Penolakan untuk menghentikan fenomena ini secara permanen menunjukkan adanya perubahan bertahap menuju realitas baru.”

Kekerasan Berlanjut di Tepi Barat

Di luar Yerusalem, situasi tetap memanas.

Kantor berita Wafa melaporkan pasukan Israel melakukan penggerebekan di sejumlah wilayah, termasuk Nablus dan Jenin, serta menewaskan seorang warga Palestina.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved