Sabtu, 11 April 2026

Akali Sanksi PBB, Iran Diduga Bangun Program Rudal dengan Bantuan China

Iran bangun kembali program rudal dengan bantuan China, sebanyak 2.000 ton natrium perklorat diam-diam dikirim dari pelabuhan di Tiongkok menuju Iran

Tangkapan layar YouTube Al Jazeera Inggris
FASILITAS NUKLIR IRAN - Tangkapan layar YouTube Al Jazeera Inggris yang tayang pada Sabtu (12/4/2025), menampilkan ilustrasi fasilitas nuklir Iran. Iran bangun kembali program rudal dengan bantuan China, sebanyak 2.000 ton natrium perklorat diam-diam dikirim dari pelabuhan di Tiongkok menuju Iran 

China diketahui telah lama menjadi mitra dagang dan diplomatik utama Iran, terutama dalam sektor energi.

Meski sanksi Amerika Serikat (AS) masih membatasi perdagangan resmi, Beijing tetap menjadi pembeli terbesar minyak mentah Iran melalui jaringan kapal tanker gelap.

Jaringan ini beroperasi dengan taktik penyamaran, seperti mematikan sistem pelacakan otomatis (AIS), menukar bendera kapal, serta menyamarkan asal dan tujuan pengiriman.

Langkah tersebut, memungkinkan China terus menerima pasokan energi vital dari Iran tanpa secara langsung melanggar sanksi internasional.

Kerja sama ekonomi ini tak hanya memperkuat posisi Iran di tengah isolasi global, tetapi juga memberikan keuntungan strategis bagi Beijing dalam memenuhi kebutuhan energinya.

Sebagai bentuk timbal balik, China mengizinkan pengiriman bahan kimia strategis seperti natrium perklorat, yang digunakan dalam produksi rudal balistik.

China memandang Iran sebagai mitra penting dalam inisiatif Belt and Road, yang bertujuan memperluas pengaruh ekonomi dan geopolitik Tiongkok di kawasan Asia Barat dan Timur Tengah.

Bagi banyak pihak, aliansi ini bukan sekadar kerja sama ekonomi, melainkan simbol pergeseran kekuatan global.

Iran mendapat perlindungan politik dan dukungan ekonomi dari salah satu kekuatan terbesar dunia, sementara China memperkuat pijakannya di wilayah yang selama ini didominasi pengaruh Barat.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas Timur Tengah.

Jika Iran terus memperluas kemampuan militernya dengan dukungan teknologi dan logistik dari Beijing, potensi konflik bersenjata atau perlombaan nuklir baru dapat kembali membayangi kawasan.

Dalam konteks ini, hubungan Iran–China bukan hanya sekadar kemitraan strategis, tetapi juga lonceng peringatan bagi tatanan keamanan global yang rapuh.

(Tribunnews.com / Namira)

Sumber: TribunStyle.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved