Selasa, 2 Juni 2026

Konflik Palestina Vs Israel

Iran Kehilangan Kendali Atas Houthi, Pejabat Senior: Mereka Tidak Dengarkan Teheran Lagi

Pejabat Iran mengakui bahwa Houthi di Yaman dan beberapa kelompok di Irak tidak lagi mengikuti arahan Teheran.

Tayang:
Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Bobby Wiratama
Xinhua/Mohammed Mohammed
IRAN DAN HOUTHI - Pengikut Houthi ikut serta dalam parade untuk memperingati genap 10 tahun pengambilalihan ibu kota Sanaa oleh kelompok tersebut di Al Sabeen Square, Sanaa, Yaman, pada 21 September 2024. Pejabat Iran mengakui bahwa Houthi di Yaman dan beberapa kelompok di Irak tidak lagi mengikuti arahan Teheran. 

Ringkasan Berita:
  • Pejabat Iran mengakui bahwa Houthi di Yaman dan beberapa kelompok di Irak tidak lagi mengikuti arahan Teheran.
  • Komandan senior IRGC, termasuk Abdolreza Shahlaei, dikirim ke Sanaa untuk menenangkan Houthi dan membangun kembali “poros perlawanan.”
  • Namun, laporan menyebutkan personel IRGC tidak mampu mengisi kekosongan strategis, mencerminkan kebingungan di Teheran.


TRIBUNNEWS.COM - 
Iran disebut telah kehilangan kendali atas kelompok Houthi di Yaman dan kini berjuang mempertahankan sisa-sisa kekuatan “poros perlawanan” di Timur Tengah, menurut pejabat Iran yang berbicara kepada media Inggris The Telegraph.

Para pejabat tersebut menjelaskan bahwa Houthi, yang secara rutin menyerang jalur pelayaran global, tidak lagi menerima instruksi dari Teheran.

“Houthi telah menjadi pemberontak untuk waktu yang lama, dan sekarang benar-benar pemberontak,” kata seorang pejabat senior Iran kepada The Telegraph dari Teheran.

“Mereka tidak lagi mendengarkan Teheran seperti dulu.”

“Bukan hanya Houthi, beberapa kelompok di Irak juga bertindak seolah-olah kami tidak pernah berhubungan dengan mereka.”

Houthi merupakan kekuatan proksi penting terakhir Iran yang tersisa setelah Israel menghancurkan komando tertinggi Hizbullah dan sisa-sisa Hamas terputus akibat pengepungan Gaza.

Seorang komandan senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dikabarkan tiba di Sanaa, ibu kota Yaman, pekan lalu untuk mencoba mengembalikan Houthi ke bawah kendali Teheran.

Sebagai bagian dari rencana IRGC menenangkan pemberontak dan membangun kembali “poros perlawanan”, Teheran meningkatkan dukungan bagi kelompok tersebut setelah berbulan-bulan vakum.

Pasca perang dengan Israel, para pejabat Iran semakin bergantung pada aset-aset proksi yang tersisa di kawasan yakni kelompok milisi terpilih di Irak dan Houthi di Yaman.

Terkait milisi Irak, seorang pejabat Iran mengatakan: “Mereka sudah berkali-kali diberi tahu untuk tidak mengadakan sesi pelatihan sementara waktu sampai keadaan tenang, tetapi mereka juga tidak mendengarkan.”

Di Yaman, Houthi telah bertahan dari serangan bertahun-tahun dan mahir menyembunyikan peralatan militer mereka.

Mereka juga memperluas aliansi dan jalur pasokan untuk mencoba melepaskan diri dari ketergantungan pada Iran dalam beberapa bulan terakhir.

Baca juga: Houthi Tobat, Janji Setop Serangan ke Kapal Laut Merah dan Israel di Tengah Gencatan Senjata Gaza

Mahmoud Shehrah, mantan diplomat Yaman, mengatakan kepada The Telegraph: “Houthi tidak membutuhkan seseorang untuk menyemangati mereka. Ini soal keyakinan mereka sendiri, mereka memiliki literatur dan narasi sendiri.”

Ia menambahkan: “Namun, kami tidak mengabaikan koordinasi dengan Iran serta dukungan, penyelundupan, dan transfer teknologi dari Iran ke Houthi. Houthi kini memiliki motivasi sendiri untuk melakukan eskalasi.”

Perpecahan antara Iran dan Houthi disebut bermula pada April ketika Iran gagal memberi dukungan kepada Houthi selama serangan besar-besaran AS, karena takut terseret ke konflik langsung dengan Washington.

Sesuai Minatmu
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved