Konflik Palestina Vs Israel
Putra Pemimpin Hamas Terluka, 5 Lainnya Tewas dalam Serangan Israel di Gaza
Putra pemimpin Hamas Khalil al-Hayya, Azzam al-Hayya, terluka dalam serangan udara Israel di Gaza.
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM - Serangan udara Israel melukai putra pemimpin senior Hamas, Khalil al-Hayya, dan menewaskan sedikitnya lima orang lainnya di Jalur Gaza.
Pada Rabu (6/5/2026), Azzam al-Hayya terluka dalam serangan di Kota Gaza yang juga menewaskan satu orang lainnya, lapor Reuters, mengutip petugas medis dan sumber Hamas.
Sebelumnya pada hari yang sama, empat warga Palestina tewas dalam serangan terpisah, termasuk seorang tokoh senior kepolisian Gaza.
Petugas medis mengatakan Naseem al-Kalazani, kepala unit anti-narkotika di Khan Younis, Gaza selatan, tewas ketika serangan menghantam kendaraannya di dekat daerah al-Mawasi di sisi barat kota.
Setidaknya 17 orang lainnya terluka dalam insiden yang sama, menurut pejabat kesehatan.
Seorang pejabat Hamas sekaligus ajudan Khalil al-Hayya, Taher al-Nono, mengutuk serangan tersebut.
Ia mengatakan, “Menargetkan Azzam Khalil al-Hayya dengan penembakan merupakan puncak kemerosotan moral dan etika.”
“Penembakan dan pembunuhan hanya akan membuat negosiator semakin teguh pada pendiriannya dalam membela hak-hak rakyatnya dan kehendak bebas mereka,” katanya, merujuk pada peran kunci Khalil al-Hayya dalam pembicaraan tidak langsung dengan Israel.
Pada Oktober 2025, Israel dan Hamas menyepakati proposal gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat, yang diharapkan dapat mengakhiri perang di Gaza.
Namun, Israel disebut melanggar gencatan senjata berkali-kali hingga menewaskan sedikitnya 830 warga Palestina.
Baca juga: Hamas Kecam Iran Serang Negara-negara Teluk, Singgung Jasa Ali Khamenei
Khalil al-Hayya: Israel Tidak Mematuhi Kewajiban Apa Pun
Rabu (6/5/2026) malam, Khalil al-Hayya mengatakan Israel tidak mematuhi kewajiban apa pun dan mengingkari semua perjanjian yang telah ditandatangani.
Dilansir PressTV, ia menyatakan negosiasi telah mencapai jalan buntu akibat sikap keras kepala pejabat Israel dan penolakan mereka untuk menghormati perjanjian gencatan senjata.
Ia menekankan bahwa Israel tidak mematuhi kewajiban apa pun.
Menurutnya, negara-negara penjamin gencatan senjata seperti Qatar, Mesir, Amerika Serikat, dan Turki, bersama mediator lainnya, harus menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka.
Al-Hayya menyoroti bahwa Hamas telah lama mengajukan proposal dan memenuhi kewajibannya, sementara otoritas Israel gagal menjalankan komitmen mereka.