Rocky Gerung: Bangsa Dinilai dari Akal Sehat dan Martabat, Bukan Harga Pasar
Rocky mengingatkan ancaman bias teknologi terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Ringkasan Berita:
- Rocky Gerung menegaskan identitas bangsa dibentuk oleh rasionalitas dan memori sejarah dalam *Winter Talk 2025* di Hiroshima.
- Ia menyoroti kegagalan Indonesia dalam demokrasi dan rasionalitas menuju Indonesia Emas 2045.
- Diskusi yang dihadiri ratusan diaspora ini juga membahas hukum, otoritarianisme, dan ancaman AI.
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Pengamat politik Rocky Gerung menegaskan bahwa identitas bangsa merupakan proses yang terus dibentuk oleh rasionalitas dan memori sejarah.
“Identitas itu bukan label yang ditempelkan, tetapi proses yang terus dibentuk oleh rasionalitas, memori sejarah, dan keberanian berpikir,” ujarnya dalam Winter Talk 2025 yang digelar di Hiroshima, Jepang, Senin (1/12/2025).
Rocky menyampaikan bahwa martabat dan akal sehat merupakan tolok ukur utama suatu bangsa.
“Bangsa tidak diukur dari harga pasar, tetapi dari akal sehat dan martabatnya,” katanya.
Pada segmen kedua, Rocky menilai Indonesia belum sepenuhnya siap menyongsong Indonesia Emas 2045.
“Sepuluh tahun terakhir kita gagal dalam dua hal: demokrasi dan rasionalitas,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya meritokrasi politik, seraya menegaskan bahwa kepemimpinan harus diawali oleh integritas.
Baca juga: Rocky Gerung Klaim Kasus Ijazah Jokowi Untungkan Prabowo: Enggak Mungkin Teriak Hidup Jokowi Lagi
“Pemimpin harus melewati tiga filter: etikabilitas dulu, lalu intelektualitas, barulah elektabilitas,” tegasnya yang disambut tepuk tangan peserta.
Segmen ketiga membahas isu hukum, potensi otoritarianisme, serta perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Rocky mengingatkan ancaman bias teknologi terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
“Robot bisa menjawab pertanyaan, tapi robot tidak bisa merasakan keadilan,” katanya.
Ia juga menyoroti perubahan KUHAP terbaru yang dinilainya bermasalah.
“Jika proses lahirnya hukum tidak adil, maka hukum itu tidak bisa disebut adil.”
Pada sesi tanya jawab, peserta mengangkat isu lingkungan, tata kelola negara, meritokrasi, hingga geopolitik.
Rocky menyebut diskusi tersebut sebagai wujud kesadaran kritis diaspora.
“Ini bukan sekadar forum; ini community of thought, komunitas yang berpikir, bukan hanya bertepuk tangan,” ujarnya.
Menutup sesi, Rocky kembali menekankan pentingnya keberpihakan pada nalar.
“Masa depan bangsa tidak membutuhkan dealer kekuasaan, tetapi leader—pemimpin yang berpikir dengan etika, bukan sentimen,” katanya.
Diskusi Winter Talk 2025 sendiri mempertemukan lebih dari 150 diaspora Indonesia di Jepang.
“Peserta tidak hanya dari Hiroshima, tetapi juga dari Tokyo, Okayama, Yamaguchi, Kyoto, Yokohama, dan wilayah lain,” kata Ketua PPI Hiroshima, Reza Abdullah.
Mengusung tema “Peran Diaspora Indonesia di Jepang: Dinamika Kebangsaan & Tantangan Kontemporer,” acara ini menghadirkan Rocky sebagai pembicara utama dan berlangsung selama hampir tiga jam dalam tiga segmen.
Ketua PPI Hiroshima, Reza Abdullah, berharap Winter Talk dapat menjadi agenda intelektual tahunan.
“Kami ingin forum ini menjadi tradisi berpikir, bukan sekali datang lalu hilang,” tutupnya.
Banyak peserta menyebut forum ini sebagai momentum langka.
Salah satu peserta berkomentar, “Diskusi seperti ini sulit ditemukan di luar negeri—ini kesempatan untuk berpikir bersama.”
Diskusi berlangsung hampir tiga jam dan terbagi menjadi tiga segmen: Identitas Kebangsaan, Generasi Muda dan Indonesia Emas 2045, serta Tantangan Kontemporer dalam Politik dan Etika Teknologi.
Bagi yang tertarik mengikuti diskusi beasiswa di Jepang oleh komunitas Pencinta Jepang dapat bergabung secara gratis. Kirimkan nama, alamat, dan nomor WhatsApp ke email: tkyjepang@gmail.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/rockygerung1122222.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.