Google AI Tuai Kritik Keras di Jepang usai Beri Info Salah saat Gempa Aomori Terjadi
Google AI Overviews kedapatan menghasilkan informasi yang sepenuhnya salah dan berpotensi membahayakan nyawa saat Gempa Aomori terjadi awal pekan ini
Ringkasan Berita:
- Google AI Overviews memberikan informasi yang salah saat gempa 7,6 SR di Aomori, Jepang, termasuk menyatakan peringatan tsunami yang masih berlaku telah dicabut
- Kesalahan informasi ini dinilai berbahaya karena dapat memengaruhi keselamatan publik pada situasi darurat, ungkap ahli mesin pencarian di Jepang, Masahiro Tsuji.
- Google Jepang menanggapi kritik dengan menyatakan bahwa sebagian besar hasil AI akurat, namun mereka akan memperbaiki sistem jika terjadi kesalahan interpretasi atau konteks.
TRIBUNNEWS.COM - Fitur kecerdasan artifisial atau AI yang ada di dalam mesin pencarian Google tengah menjadi sorotan tajam di Jepang menyusul kesalahan yang mereka lakukan saat gempa 7,6 SR terjadi di kawasan Hachinohe, prefektur Aomori pada Senin lalu (8/11/2025).
Kritikan tajam ini terjadi lantaran program AI Overviews yang terus didorong oleh Google justru memberikan informasi yang salah kepada publik beberapa saat setelah gempa tersebut terjadi.
Kesalahan fatal ini terjadi saat Google AI ditanyai informasi terkait peringatan tsunami pasca-gempa lepas pantai di utara Jepang pada 8 Desember.
Seperti yang diwartakan sebelumnya, gempa tersebut terjadi pada pukul 23.15 waktu setempat dengan intensitas gempa skala 6 atas dalam skala Jepang yang terdiri dari 7 tingkat.
Karena skalanya yang besar ini, Badan Meteorologi Jepang (JMA) segera mengeluarkan peringatan tsunami untuk Prefektur Hokkaido, Aomori, dan Iwate, serta imbauan tsunami untuk Prefektur Miyagi, Fukushima, dan wilayah lainnya.
Seluruh peringatan tsunami diturunkan statusnya menjadi imbauan pada pukul 02.45 tanggal 9 Desember, dan semua imbauan tersebut dicabut pada pukul 06.20.
Namun demikian, Google AI Overviews justru kemudian menghasilkan informasi yang sepenuhnya salah dan berpotensi membahayakan nyawa.
Dikutip dari Asahi Shimbun, saat pertanyaan terkait status peringatan diberikan kepada Google AI pada pukul 02.10 dini hari tersebut, mereka memberikan informasi salah bahwa seluruh peringatan tsunami besar, peringatan tsunami, dan imbauan telah dicabut.
Padahal, pada kurun waktu tersebut, peringatan dan imbauan tsunami dari JMA masih berlaku.
Beberapa saat kemudian, mesin pencari Google kembali ditanyai dua kali mengenai informasi tsunami, dan tetap memberikan respons yang sama bahwa seluruh peringatan dan imbauan telah dicabut.
Menanggapi kesalahan tersebut, Masahiro Tsuji selaku konsultan senior di Faber Company Inc. yang memiliki keahlian dalam mekanisme mesin pencarian pun buka suara.
Tsuji kembali memperingatkan kepada masyarakat bahwa penggunaan jawaban berbasis AI untuk hal-hal penting sangat berbahaya.
Baca juga: 967 WNI di Aomori Selamat Pascagempa M 7,6, Jepang Lakukan Evakuasi Besar
Ia juga meminta masyarakat untuk lebih memercayai pernyataan resmi dari pihak terkait daripada mencari informasi berbasis AI sekalipun kabar tersebut dibagikan perusahaan yang memiliki reputasi global seperti Google.
“Hasil pencarian yang dihasilkan AI mungkin menampilkan informasi tidak akurat yang terlihat kredibel, fenomena yang dikenal sebagai ‘halusinasi,’” ujarnya kepada Asahi Shimbun pada Rabu (10/12/2025).
Tsuji juga mengatakan bahwa dirinya sendiri melakukan penelusuran informasi tidak hanya melalui AI Overviews, tetapi juga mode AI pada mesin pencari Google hingga dini hari pasca-gempa.
Ia menemukan bahwa keduanya menampilkan informasi yang kedaluwarsa serta jawaban salah, termasuk magnitudo gempa yang tidak tepat.
“Informasi palsu seperti ini seharusnya tidak boleh ditampilkan, sekalipun info salah itu hanya muncul sekali, namun efeknya dalam penanganan bencana yang menyangkut nyawa manusia amatlah besar,” kata Tsuji.
Ia mengimbau pengguna mesin pencari untuk memeriksa sumber informasi guna memastikan keandalan jawaban dari AI generatif.
imbauan senada sebelumnya juga diutarakan Juru Bicara Kabinet Pemerintahan Jepang Minoru Kihara.
Melalui konferensi pers pada Selasa (9/12/2025) Minoru mengingatkan agar masyarakat Jepang sebaiknya mengandalkan sumber informasi terpercaya saat terjadi bencana.
“Dalam bencana sebelumnya, informasi yang belum terverifikasi tersebar di internet. Oleh karena itu, harap merujuk pada sumber resmi seperti pemerintah, otoritas lokal, atau laporan media terpercaya untuk informasi terkait bencana,” ujarnya.
Baca juga: Jepang Diprediksi Kekurangan 570.000 Perawat pada Tahun 2040, Kebutuhan Tenaga Asing Meningkat Tajam
Sementara itu, Google Jepang pun turut buka suara terkait kontroversi dari jawaban AI Overviews saat Gempa Aomori terjadi pada awal pekan ini.
“Sebagian besar jawaban AI Overviews memberikan informasi yang bermanfaat dan faktual,” ujar divisi periklanan Google dalam menanggapi pertanyaan dari Asahi Shimbun.
“Jika terjadi masalah, seperti salah menafsirkan konten situs web atau mengabaikan sebagian konteks, kami nantinya akan memperbaiki sistem yang ada berdasarkan insiden tersebut.” pungkas pihak Google yang mulai menyediakan mode AI dalam bahasa Jepang pada musim gugur ini.
(Tribunnews.com/Bobby)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Google-AI-Dukung-Pendidikan-Bermutu_20250807_171228.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.