Cinta di Usia 88 Tahun, Profesor Jepang Nobukuni Koyasu Temukan Kehidupan Kedua
Menikah di usia 92 tahun, profesor Jepang Nobukuni Koyasu membuktikan cinta dan hasrat hidup tak pernah mengenal batas usia
Ringkasan Berita:
- Profesor emeritus Universitas Osaka, Nobukuni Koyasu, menikah kembali di usia 92 tahun setelah lama hidup sendiri usai kepergian istri pertamanya
- Pertemuan dengan penulis Hisako Matsui membangkitkan kembali hasrat hidupnya sekaligus mengubah pandangannya tentang cinta dan seksualitas lansia
- Kisah ini menjadi refleksi tentang kelahiran kembali dan hak untuk bahagia di usia senja
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Cinta tidak mengenal usia. Kalimat itu menemukan wujud nyatanya pada sosok Nobukuni Koyasu, profesor emeritus Universitas Osaka, yang pada usia 88 tahun memilih jatuh cinta dan menikah lagi sekaligus menutup bab kehidupan ilmiahnya dan membuka lembaran baru di masa senja.
Koyasu yang kini berusia 92 tahun menikah dengan Hisako Matsui, penulis novel Orang yang Menyakitkan, karya yang mengangkat cinta dan seksualitas perempuan lanjut usia—tema yang selama ini dianggap tabu di Jepang.
Pengalaman tersebut ia tuangkan dalam buku terbarunya, Reviving, yang terbit Oktober lalu.
“Setelah istri pertama saya meninggal, saya sering bertanya-tanya apakah masih mungkin menemukan seseorang yang benar-benar saya butuhkan,” kata Koyasu kepada Mainichi.
Istri pertamanya wafat pada 2017 setelah 60 tahun mereka hidup bersama.
Pada usia 84 tahun, Koyasu memasuki kehidupan lajang kedua yang ia gambarkan sebagai rutinitas monoton.
Baca juga: JBIC Kucurkan Pembiayaan Rp 56,1 Miliar untuk Produksi Suku Cadang Otomotif Jepang di Indonesia
Perasaan orangtua yang kesepian kerap menghantuinya.
Perubahan datang dari sebuah pertemuan tak terduga.
Seorang teman memperkenalkan novel karya Matsui, yang mengisahkan perempuan berusia 70-an yang menjalin hubungan cinta dengan pria lebih muda.
Koyasu membaca novel itu dalam sekali duduk.
“Ini bukan pornografi,” tegasnya.
Sebagai sejarawan pemikiran yang pernah meneliti karya-karya ekstrem seperti Marquis de Sade, Koyasu menilai novel tersebut justru menyentuh inti kemanusiaan.
Seksualitas, menurutnya, bukan sekadar dorongan biologis, tetapi kekuatan yang membentuk kehidupan, masyarakat, dan relasi antarmanusia—bahkan di usia tua.
Novel itu membangkitkan kembali hasrat hidup yang ia kira telah padam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/nikahsenjajepang111111.jpg)