Chuzai-zuma di Jakarta: Kisah Kesepian Istri Ekspatriat Jepang
Hidup istri ekspatriat tak selalu glamor. Hitomi di Indonesia berjuang melawan sepi, tekanan sosial, dan konflik demi jati diri
Ringkasan Berita:
- Kisah Hitomi, istri ekspatriat di Indonesia, mengungkap tekanan mental akibat kehilangan aktivitas dan larangan bekerja karena visa
- Ia menemukan makna lewat kegiatan relawan, namun menghadapi tekanan dari komunitas dan suami
- Menurut Yumiko Maekawa, penting bagi istri ekspatriat mempertahankan jati diri melalui komunikasi dan aktivitas bermakna
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO –Awalnya ia merasa senang dengan kehidupan di luar negeri yang hanya sementara.
Namun bagi Hitomi (34), yang selama ini selalu sibuk bekerja, justru waktu luang tanpa kegiatan menjadi sesuatu yang sangat menyiksa di Jakarta.
Meski telah memantapkan hati untuk mengikuti penugasan suaminya ke luar negeri, kenyataannya yang menunggu adalah hari-hari tanpa aktivitas.
Istri ekspatriat yang ikut mendampingi suami—sering disebut chuzai-zuma—sekilas terlihat glamor, namun di balik itu tersimpan berbagai masalah.
Menurut Yumiko Maekawa, seorang psikolog klinis sekaligus konselor kesehatan mental yang khusus menangani masalah istri ekspatriat.
"Banyak persoalan yang sulit dipahami oleh orang di sekitarnya," katanya.
Baca juga: Takut Naik Kereta Usai Tragedi Bekasi? Psikolog: Tak Perlu Paksa Diri, Lakukan Tahap Ini
Ia membagikan berbagai kasus nyata yang pernah ditanganinya.
Di negeri asing yang belum familiar, seperti di Indonesia, para istri ekspatriat yang meninggalkan karier demi mengikuti suami sering mencari cara untuk mengatasi kesepian dan perasaan terkungkung. Salah satu pilihannya adalah kegiatan relawan.
Hitomi datang ke Jakarta, Indonesia, mengikuti mutasi kerja suaminya, Takuya (39), yang bekerja di perusahaan telekomunikasi.
Sebelumnya, ia berhenti dari pekerjaan di bidang pelayanan setelah hamil di akhir usia 20-an, lalu setelah melahirkan bekerja di bidang perawatan lansia dan bahkan memperoleh sertifikasi sebagai caregiver
Oleh karena itu, ia tidak terlalu terkejut harus berhenti bekerja demi mengikuti suami.
“Saya sudah siap sejak awal karena perusahaan suami sering melakukan mutasi. Saya juga sudah pernah pindah dalam negeri. Selain itu, dengan sertifikasi caregiver yang banyak dibutuhkan, saya pikir akan lebih mudah mencari pekerjaan setelah kembali ke Jepang,” ujarnya.
Waktu luang yang berlebihan menggerogoti hati
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/istriekspatriat1111.jpg)