Jumat, 1 Mei 2026

Penembakan Massal di Australia

Respons Penembakan di Bondi, PM Australia Kebut Pengesahan UU yang Larang Khutbah Kebencian

Departemen Dalam Negeri dan Jaksa Agung Australia akan kerja 'lembur' selama Natal dan Tahun Baru untuk mempercepat proses legislasi UU ini

Tayang:
Penulis: Bobby W
Editor: Endra Kurniawan
Arsip Tribunnews 22 Mei 2022. Copyright: Wendell Teodoro / AFP
PENEMBAKAN MASSAL - Pemimpin Partai Buruh Australia Anthony Albanese berbicara saat bertemu dengan kandidat Partai Buruh untuk Reid, Sally Sitou dan pendukungnya setelah memenangkan pemilihan umum di Perpustakaan dan Paviliun Marrickville di Sydney pada 22 Mei 2022. 
Ringkasan Berita:
  • Pemerintah Australia mempercepat penyusunan undang-undang baru untuk memberantas khotbah kebencian dan memperberat hukuman atas ancaman rasis menyusul penembakan massal di Bondi.
  • Undang-undang ini mencakup evaluasi sistem pendidikan, pengetatan visa, serta penindakan terhadap penceramah radikal seperti Wisam Haddad yang diduga memengaruhi pelaku.
  • Komunitas Yahudi menyambut baik langkah tegas pemerintah Australia, namun menyesalkan tindakan baru dilakukan setelah serangan teror terjadi

 

TRIBUNNEWS.COM - Merespons kasus penembakan di Pantai Bondi, pada hari Minggu lalu (14/12/2025) pemerintahan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese kini tengah mengebut penyusunan undang-undang baru untuk memberantas khotbah dengan unsur kebencian dan memperberat konsekuensi hukum bagi pelaku ancaman rasis.

Pemerintah juga bersiap memanggil kembali parlemen bulan depan untuk memberikan suara terkait langkah tegas melawan antisemitisme guna menindaklanjuti tragedi penembakan massal di Bondi pada hari Minggu lalu.

Di dalam konferensi pers yang ia gelar pada Kamis ini (18/12/2025) undang-undang yang tengah dikebut ini setidaknya akan memiliki lima poin penting yang mencakup evaluasi sistem pendidikan serta wewenang untuk menolak lebih banyak permohonan visa.

Undang-undang baru ini ditujukan untuk mengendalikan perilaku para pengkhotbah seperti Wisam Haddad, yang khotbah radikalnya di Sydney bagian barat diduga ikut memengaruhi pelaku penembakan di Bondi.

Sebelumnya, Pihak Satuan Antiterorisme Australia yang dihubungi oleh ABC mengkonfirmasi bahwa Naveed Akram yang merupakan salah satu pelaku penembakan di Bondi adalah salah satu jemaah pengikut Wisam.

Sosok penceramah yang memiliki nama lain Abu Ousayd tersebut juga telah melakukan diskriminasi rasial berdasarkan putusan Pengadilan Federal pada Juli 2025 lalu.

Sementara itu, sumber dari dalam pemerintahan yang dihubungi The Sydney Morning Herald mengkonfirmasi bahwa Departemen Dalam Negeri Australia dan Jaksa Agung Australia akan bekerja "lembur" selama Natal dan Tahun Baru untuk mempercepat proses legislasi undang-undang baru ini. 

Anggota parlemen Australia bahkan bakal dipanggil lebih awal jika rancangan undang-undang tersebut telah siap untuk dibahas dan disahkan.

Pertanggungjawaban Albanese

PENEMBAKAN MASSAL - Momen saat ayah dan anak bernama Sajid Akram (50) dan Navee Akram (24) melakukan penembakan massal saat festival Yahudi yang digelar di Pantai Bondi, Sydney, Australia, pada Minggu (14/12/2025) waktu setempat. Sajid tewas setelah ditembak polisi, sedangkan anaknya dalam kondisi kritis.
PENEMBAKAN MASSAL - Momen saat ayah dan anak bernama Sajid Akram (50) dan Navee Akram (24) melakukan penembakan massal saat festival Yahudi yang digelar di Pantai Bondi, Sydney, Australia, pada Minggu (14/12/2025) waktu setempat. Sajid tewas setelah ditembak polisi, sedangkan anaknya dalam kondisi kritis. (Kolase Tribunnews.com)

Pada konferensi pers pada hari Kamis, Albanese mengatakan bahwa undang-undang baru tersebut dikebut demi menghormati keinginan keluarga korban yang terus ia jalin komunikasinya selepas tragedi di Bondi terjadi.

Ia mengakui telah melakukan beberapa percakapan sulit saat mengunjungi rumah-rumah korban penembakan Bondi sepanjang minggu ini. 

Albanese sendiri mengakui bahwa dirinya merasa "kecolongan" dan seharusnya bisa berbuat lebih banyak dalam menangani meningkatnya tren ujaran kebencian terhadap komunitas Yahudi sebelum penembakan massal yang menewaskan 15 orang terjadi di Bondi. 

Baca juga: PM Australia Janji Pelaku Penembakan Pantai Bondi Bakal Didakwa Hari Ini, Tunggu Efek Obat Hilang

Kelengahan Albanese dalam menindaklanjuti potensi gerakan antisemitisme ini pun mendapat kritik pedas baik dari Partai Liberal maupun dari dalam Koalisi Partai Buruh sendiri.

Ketika ditanya terkait banyaknya sorotan yang tertuju padanya ini, Albanese mengakui masih banyak hal yang bisa dilakukan.

“Saya menerima tanggung jawab saya sebagai perdana menteri Australia, namun yang juga saya lakukan adalah menerima tanggung jawab saya untuk memimpin bangsa, dan mempersatukan bangsa,” kata Albanese seperti yang dikutip dari Sydney Morning Herald.

 "Siapa pun yang berada di posisi ini akan menyesal karena tidak berbuat lebih banyak, dan segala kekurangan yang ada. Tapi apa yang perlu kita lakukan adalah bergerak maju. Kami mengambil tindakan. Kami telah mengambil tindakan... Kami akan terus berbuat lebih banyak, dan hari ini juga bukanlah akhir. Ini adalah proses yang terus berkembang." ungkap Albanese terkait perancangan Undang-undang baru ini.

Albanese juga menjadi sorotan khusus bagi komunitas Yahudi yang mengaku merasa khawatir akan keselamatannya dengan tinggal di Australia.

Di tempat yang berbeda, Organisasi perwakilan komunitas Yahudi menyambut baik tindakan tegas pemerintah yang diumumkan pada hari Kamis ini.

Namun demikian, mereka menyesalkan bahwa tindakan tersebut baru dilakukan setelah terjadi serangan teror yang ditargetkan.

“Pembunuhan massal terhadap orang-orang Yahudi tidak seharusnya memicu tindakan untuk menghilangkan kebencian,” kata David Ossip, presiden Dewan Deputi Yahudi New South Wales. 

“Sudah terlalu lama, orang Yahudi Australia menjadi sasaran melalui media sosial, para pengkhotbah kebencian, dan kegiatan kampus universitas. Hal itu dengan mudah diabaikan sampai terlambat. Manipulasi dan pengabaian ini harus diakhiri.” sambungnya.

Dugaan Koneksi Pelaku Bondi dengan Wisam Haddad

aveed Akram telah diidentifikasi sebagai salah satu terduga pelaku penembakan.
aveed Akram telah diidentifikasi sebagai salah satu terduga pelaku penembakan. ((Ho/Campus League)/Foto tangkapan layar)

Menurut laporan ABC, salah satu dari pelaku penembakan massal di Pantai Bondi pada hari Minggu memiliki hubungan dengan jaringan pendukung Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Australia.

Hal ini diutarakan Badan intelijen domestik Australia, ASIO, yang pernah melakukan investigasi terhadap Naveed Akram pada tahun 2019 setelah menemukan keterkaitannya dengan sel ISIS yang berbasis di Sydney, sebagaimana disebutkan oleh ABC.

Para pejabat bidang kontraterorisme yang berbicara secara anonim mengungkapkan kepada ABC bahwa pelaku penembakan yang masih hidup, Naveed Akram, memiliki hubungan dengan Wisam Haddad.

Wisam Haddad sendiri dikenal memiliki keterkaitan dengan beberapa generasi jihadis Australia.

Hingga saat ini, Haddad belum pernah dijerat dengan tuduhan kejahatan terorisme.

Program investigasi ABC Four Corners sebelumnya juga pernah melaporkan bahwa Wisam berperan sebagai pemimpin spiritual dalam jaringan pendukung ISIS di Australia.

Baca juga: Penembakan di Pantai Bondi Sydney: Keluarga Akui Tak Tahu Aktivitas Radikal Sajid Akram

Seorang mantan agen penyamar ASIO dengan nama sandi Marcus mengatakan kepada ABC bahwa ia telah berulang kali memperingatkan pihak berwajib bahwa Wisam Haddad tengah mengindoktrinasi kaum muda di pusat ibadahnya di Bankstown, yaitu Al Madina Dawah Centre.

Dalam laporannya, ABC mencatat bahwa melalui pengacaranya, Haddad dengan tegas membantah mengetahui atau terlibat dalam penembakan yang terjadi di Pantai Bondi.

Sebelumnya, Haddad pernah menyampaikan ceramah-ceramah bernada antisemit yang membuat Pengadilan Federal Australia pada bulan Juli 2025 lalu memutuskan bahwa ia telah melanggar Undang-Undang Diskriminasi Rasial melalui khotbah-khotbah yang disampaikan di Al Madina Dawah Centre.

(Tribunnews.com/Bobby)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved