Perjuangan WNI Asal Magetan–Banyuwangi Bertahan Hidup dan Membuka Bengkel di Jepang
Ia sempat mengikuti pendidikan bahasa Jepang di sekolah senmon dan memperoleh sertifikat
Pulang dengan Tanggung Jawab yang Belum Usai
Pada Juni 2025, saat hendak kembali ke Indonesia, Harry kembali ditahan imigrasi.
Hingga akhirnya pada Agustus 2025, ia benar-benar pulang ke Tanah Air.
Meski telah kembali, tanggung jawabnya di Jepang belum sepenuhnya selesai.
Ia masih memiliki cicilan properti serta kewajiban pembangunan masjid di Aichi yang telah berdiri namun belum lunas.
Selama hampir delapan tahun, masjid tersebut menjadi pusat ibadah komunitas, dibuka setiap akhir pekan dan digunakan untuk salat Jumat sejak 2020.
Sisa kewajiban sekitar 28 juta yen masih harus diselesaikan hingga Mei 2026.
“Masa depan saya ingin fokus pada hal yang lebih ikhlas. Bengkel tetap jalan, masjid tetap hidup,” ujarnya.
Kisah Harry menjadi potret nyata perjuangan sebagian WNI di Jepang—antara mimpi, kesalahan masa lalu, kerja keras, dan harapan untuk menutup hidup dengan amal serta kebermanfaatan.
Diskusi bengkel di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/HSben122.jpg)