Sabtu, 16 Mei 2026

Konflik Thailand Vs Kamboja

Menlu ASEAN Kumpul di Kuala Lumpur, Bahas Diplomasi Konflik Thailand-Kamboja

Menlu ASEAN berkumpul di Kuala Lumpur bahas konflik Thailand–Kamboja yang kian memanas. Pertemuan tertutup digelar di tengah lonjakan korban jiwa.

Tayang:
Tangkap Layar Youtube CNA
THAILAND KAMBOJA DAMAI - Perdana Menteri sementara Thailand, Phumtham Wechayachai (kanan) dan Perdana Menteri Kamboja,Hun Manet (kiri) sepakat menerapkan gencatan senjata dalam perundingan yang dimediasi Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim (tengah) pada Senin (28/7/2025). Menlu ASEAN berkumpul di Kuala Lumpur bahas konflik Thailand–Kamboja yang kian memanas. Pertemuan tertutup digelar di tengah lonjakan korban jiwa. 

Ringkasan Berita:
  • Menlu ASEAN berkumpul di Kuala Lumpur pada 22 Desember 2025 untuk membahas eskalasi konflik perbatasan Thailand–Kamboja.
  • Pertemuan digelar tertutup dan tanpa pernyataan bersama, dengan pembatasan ketat akses media karena sensitivitas isu, namun fokus utama adalah mendorong de-eskalasi, menghidupkan kembali gencatan senjata.
  • ASEAN dan Amerika Serikat mendesak Thailand–Kamboja menghentikan pertempuran dan mematuhi Kesepakatan Perdamaian Kuala Lumpur demi stabilitas kawasan.

TRIBUNNEWS.COM - Para Menteri Luar Negeri (Menlu) negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) tengah berkumpul di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (22/12/2025).

Pertemuan yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan selaku tuan rumah dan Ketua ASEAN, dihadiri oleh Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn.

Dari dua negara yang terlibat konflik, yakni Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Kamboja Prak Sokhonn dan Menteri Luar Negeri Thailand dikonfirmasi hadir bersama delegasi resmi masing-masing negara.

Selain Thailand dan Kamboja, pertemuan tersebut juga diikuti oleh para menteri luar negeri dan pejabat tinggi dari negara-negara anggota ASEAN lainnya, termasuk Indonesia, Singapura, Filipina, Vietnam, Laos, Brunei Darussalam, dan Timor Leste, sementara Myanmar diwakili secara terbatas sesuai mekanisme ASEAN.

Hingga pertemuan berakhir, tidak ada komunikasi bersama yang diumumkan ke publik, seiring kebijakan otoritas Malaysia yang membatasi akses peliputan media karena tingginya sensitivitas isu yang dibahas.

Meski pemerintah Malaysia selaku tuan rumah secara ketat mengatur peliputan pertemuan tersebut, melarang jurnalis dari media internasional dan regional meliput jalannya diskusi.

Namun mengutip dari Al Jazeera, pertemuan ini digelar untuk membahas eskalasi konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja yang kembali pecah di wilayah perbatasan kedua negara hingga menewaskan puluhan orang dan memaksa hampir satu juta warga sipil mengungsi.

Dalam kesempatan itu, para menlu turut bertukar pandangan mengenai perkembangan situasi keamanan terbaru, serta langkah-langkah yang dapat ditempuh ASEAN untuk mendorong de-eskalasi dan menghidupkan kembali gencatan senjata.

"Penyelenggaraan pertemuan khusus ini mencerminkan komitmen negara-negara anggota ASEAN terhadap persatuan dan solidaritas ASEAN, serta sentralitas ASEAN dalam menjaga perdamaian, keamanan, stabilitas, dan kemakmuran di kawasan ini, sesuai dengan Piagam ASEAN dan Traktat Persahabatan dan Kerja Sama di Asia Tenggara (Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia/TAC)," ujar Kemlu Malaysia.

Eskalasi Konflik sejak Awal Desember

Adapun Konflik bersenjata ini kembali berkobar sejak 8 Desember dan hingga kini telah menewaskan sedikitnya 40 orang.

Thailand menuduh Kamboja menembakkan roket dan artileri ke wilayah sipil, sedangkan Kamboja menuding Thailand menggunakan jet tempur dan menyerang infrastruktur non-militer. 

Baca juga: Indonesia Akhiri Puasa 32 Tahun, Kemas 91 Emas di SEA Games Thailand

Kamboja juga menuding adanya penggunaan “gas beracun” di wilayah Desa Prey Chan. Tuduhan tersebut disampaikan melalui laporan kantor berita negara Agence Kampuchea Press.

Dalam pernyataannya, Kementerian Pertahanan Kamboja menegaskan bahwa pasukannya terus memantau situasi dengan ketat dan siap mempertahankan integritas wilayah negara.

“Pasukan Kamboja tetap berani dan teguh dalam membela diri terhadap para agresor serta menjalankan tugas melindungi kedaulatan nasional,” bunyi pernyataan tersebut.

Rekaman video yang beredar luas di media daring memperlihatkan warga sipil, termasuk anak-anak, berlindung dari serangan udara dan artileri. Tangisan anak-anak terdengar jelas saat warga berdesakan mencari perlindungan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved