Benarkah Jepang Tidak Aman bagi Anak? Ini Fakta dan Penilaian Internasional
Jepang aman di jalanan, tapi rapuh di dunia maya. Peringkat global dan lonjakan kasus pornografi anak mengungkap celah serius perlindungan anak
Jumlah penangkapan naik dari 935 kasus pada 2009 menjadi 2.783 kasus pada 2024. Namun angka tersebut diyakini hanya puncak gunung es, karena banyak kasus tidak terdeteksi aparat.
Fenomena yang paling mengkhawatirkan adalah meningkatnya kasus pelaku di bawah umur, termasuk siswa SD, SMP, dan SMA, yang terlibat sebagai pembuat maupun penyebar konten ilegal, sering kali bermula dari aksi mengintip atau pemerasan digital. Hal ini juga akibat tekanan sosial dan pengaruh komunitas daring.
Bukan “Tidak Aman”, Tapi Belum Cukup Aman
Sejumlah pengamat menegaskan, menyebut Jepang sebagai negara yang “tidak aman bagi anak” adalah penyederhanaan berlebihan.
"Namun, fakta bahwa Jepang belum termasuk negara terdepan dalam pencegahan eksploitasi seksual anak juga tidak dapat diabaikan."
“Jepang aman secara fisik, tetapi masih memiliki celah serius dalam perlindungan anak di dunia digital,” ujar seorang analis kebijakan perlindungan anak.
Tantangan ke Depan
Pakar menilai Jepang perlu memperkuat kemampuan investigasi siber aparat.
Demikian pula kerja sama internasional lintas negara, dan edukasi digital bagi anak, orang tua, dan sekolah.
Tanpa langkah tersebut, Jepang dikhawatirkan akan terus menghadapi paradoks: negara yang aman di permukaan, tetapi rentan bagi anak-anak di balik layar digital.
Diskusi mengenai anak-anak di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/anakjepang222222.jpg)