Jumat, 16 Januari 2026

Konflik Palestina Vs Israel

Di Bawah Tekanan Trump, Israel Bersiap Buka Kembali Perlintasan Rafah

Di bawah tekanan AS, Israel bersiap membuka perlintasan Rafah. Langkah ini dinilai jadi titik balik krisis Gaza, meski jadwal resmi belum diumumkan.

tangkap layar/Hussam al-Masri/Reuters
BLOKIR BANTUAN - Truk pengangkut bantuan melewati Rafah di Jalur Gaza selatan. Pada Minggu (2/3/2025), Israel menyatakan memblokir semua bantuan masuk ke Gaza untuk menekan Hamas. Namun di bawah tekanan AS, Israel bersiap membuka kembali perlintasan Rafah. Langkah ini dinilai jadi titik balik krisis Gaza, meski jadwal resmi belum diumumkan. 

Ringkasan Berita:
  • Di bawah dorongan Presiden Donald Trump, Israel bersiap membuka kembali perlintasan Rafah sebagai bagian dari rencana 20 poin AS untuk gencatan senjata.
  • Israel menutup Rafah dengan alasan memutus jalur suplai Hamas, namun penutupan berkepanjangan memicu krisis kemanusiaan, kelumpuhan ekonomi, dan kecaman internasional.
  • Meski sinyal politik menguat, belum ada pengumuman resmi soal waktu dan mekanisme pembukaan Rafah, yang diperkirakan dilakukan secara terbatas dan bertahap.

TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Israel tengah bersiap membuka kembali perlintasan Rafah yang menghubungkan Jalur Gaza Selatan dengan Mesir, setelah berbulan-bulan ditutup akibat operasi militer pasukan Israel.

Rencana ini muncul menyusul meningkatnya tekanan internasional, terutama dari Amerika Serikat.

Terlebih setelah akhir tahun lalu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyelesaikan kunjungannya ke Washington.

Dimana dalam kunjungan itu Trump mendorong Netanyahu agar segera membuka kembali perlintasan Rafah di kedua arah.

Pembukaan kembali Rafah sejatinya merupakan bagian dari fase awal rencana 20 poin Presiden Donald Trump yang diumumkan pada Oktober lalu, sebagai upaya menghentikan perang di Gaza.  

Rencana tersebut secara eksplisit menyerukan agar Israel membuka perlintasan Rafah di kedua arah serta mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan tanpa hambatan.

Namun dalam praktiknya, Israel dinilai masih membatasi arus bantuan dengan dalih keamanan.

Israel mengklaim bahwa Rafah digunakan sebagai jalur penyelundupan senjata, logistik, dan pergerakan pejuang Hamas dari dan ke Mesir.

Atas dasar itu, Israel berupaya memutus total jalur suplai Hamas sekaligus mempersempit ruang gerak kelompok tersebut.

Bahkan pada Desember lalu, unit militer Israel COGAT mengumumkan bahwa Rafah hanya akan dibuka secara terbatas untuk memungkinkan warga Gaza keluar menuju Mesir, tanpa kejelasan mengenai arus masuk atau pembukaan dua arah.

Pengumuman tersebutsontak memicu kekhawatiran luas di tingkat internasional.

Baca juga: AS Desak Israel Buka Rafah, Akses Gaza Disebut Segera Normal Kembali

Sejumlah negara, termasuk Mesir, Indonesia, Yordania, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, Turki, dan Uni Emirat Arab, bahkan mengeluarkan penolakan terhadap segala bentuk upaya pengusiran warga Palestina dari tanah mereka.

Dampak Penutupan Rafah

Menurut mereka penutupan perlintasan telah menghambat masuknya bantuan makanan, obat-obatan, dan evakuasi medis, sehingga banyak layanan darurat tidak dapat beroperasi maksimal. memicu tudingan bahwa Israel melanggar hukum humaniter internasional.

Penutupan juga membuat Rafah mengalami kelumpuhan ekonomi. Rafah selama ini menjadi jalur penting bagi perdagangan terbatas dan aktivitas ekonomi informal.

Penutupan total membuat pasokan barang semakin langka, harga melonjak tajam, pengangguran meningkat, dan daya beli warga jatuh ke titik terendah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved